Sejak dari warung kecil yang tidak jauh dari pantai itu, Anand hanya diam. Anand masih saja memikirkan ucapan pemilik warung itu. Sesekali termenung, dan tidak fokus dalam mengendarai mobil. Ditanya oleh Shamira pun ia hanya menjawab secara singkat. Seharusnya, ia tidak mendengar cerita ini. Ia yakin sekali kalau hubungan mereka tidak sampai di telinga keluarga Shamira. Kalau sampai ketahuan---semuanya akan hancur. Sekolah, keluarga kecilnya, dan--masa depan, semuanya akan hancur. Masuk ke dalam blacklist keluarga mereka bukanlah hal yang menyenangkan. Tidak sama sekali, bukan hanya dirinya tapi orang-orang disekitarnya pun akan kena imbas. Apriyan dan Vhifi sudah sampai ke rumah mereka masing-masing, sekarang hanya dirinya dan Shamira. Keduanya diam menikmati keheningan masing-masing.
Shamira berdehem singkat, menyadari sesuatu. "Nand?"
"Eh, hm? Ada apa Sham?"
"Lo ngantuk ya? Mau gantiian?"
Anand menggeleng pelan. "Sebentar lagi juga sampe Sham."
"Sebenernya lo lagi mikirin apa sih Nan? Lo itu dari tadi diem, bengong. Lagi ada masalah ya? Masalah Alexsa? Dia kan udah gak papa, besok juga pulang," kata Shamira santai.
"Bukan soal itu Sham. Gue mau jujur tentang sesuatu---tapi setelah itu, lo bisa putusin semuanya." Anand menghela nafasnya penjang. "Seandainya keluarga lo tahu tentang hubungan kita. Apa yang akan terjadi Sham? Gue--gue takut semua hancur; masa depan gue, keluarga panti. Gue gak mau nasib gue sama kayak pacar Bunda Raira."
Shamira memalingkan wajahnya ke jendela. "Lo masih mikirin ini? Lo tenang aja Nand. Gue bakal jamin semuanya akan baik-baik saja. Lo itu kameramen gue, mereka menganggap wajar lo deket sama gue."
"Tapi Sham---"
"Lo gak percaya sama gue Nand?" potong Shamira sengit.
Anand mengeleng. "Bukan Shami. Lo itu harus jaga image di depan keluarga lo. Kalau gue ketahuan... lo, gue dan orang-orang disekitar gue akan hancur."
"Dilihat dari cerita nyokap gue. Paman Aldo, pacar nyokap gue waktu dulu itu diberi beberapa peringatan. Seandainya ketahuan, semuanya masih aman."
Anand melirik Shamira sekilas laku kembali fokus ke kemudinya. "Hubungan macam apa ini Sham? Gue itu seakan ada di antara jembatan siratal mustaqim tau gak? Kepleset dikit aja udah masuk ke neraka."
"Ya... jangan sampai kepleset. Coba, kita jalanin dulu Nand. Keluarga gue baik... kecuali, lo suka sama Devana atau Desshila tuh baru menantang." Shamira terkekeh pelan.
"Gak lucu Sham," geram Anand.
"Mau coba Sham? Shila aja gak papa kalau Vana udah ada yang punya hahaha."
"Kalau maunya lo gimana?"
"Gak gimana-gimana, kan kita udah pacaran. Besok mau jemput Alexsa?"
"Iya."
"Oke. Gue pura-pura main ke rumah sakit, bilang aja mau ketemu kak Gara hahaha padahal ketemu lo."
Anand tertawa, sebelah tangannya terangkat mengusap rambut Shamira pelan. "Jangan terlalu deket. Nanti ketauan."
"Udah berani pegang-pegang ya sekarang!"
"Pacar ngusap kepala emang gak boleh?"
"Gak."
"Kalau cium?"
"Anand mesum!"
***
Shamira merebahkan tubuhnya di atas kasur lebar dan empuk miliknya. Rasanya hari ini benar-benar sangat melelahkan. Ia melirik ke arah jam wekker yang ada di nakas sebelah ranjang. Sebentar lagi jam makan malam, apakah ia sanggup menerima asupan lagi? Setelah memakan banyak sekali sosis tadi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Shanand
Teen Fiction[SEQUEL RAIRA2] 🍂Dimohon untuk tidak plagiat [Bhatia Series 3] Namanya Shamira. Ia seorang selebram dan youtubers terkenal. Dia sedang mendekati seorang pria berkacamata. Ia mendekati dia bukan karena sebuah taruhan atau truth or dare dari orang, b...
