34. Kemarahan Devano🍂

2.9K 202 5
                                        

"Shamira! Pulang!"

Shamira tersentak kaget, ia langsung bangkit. Sama halnya seperti Anand, dia pun sama kagetnya seperti Shamira, hanya saja dia bisa lebih mengontrol wajahnya agar tetap biasa saja. Orang itu adalah Davier. Wajah lusuh, penuh keringat dengan emosi mendominasi. Saat ini dan detik ini, tubuhnya kaku, tak bisa digerakan. Seperti ada lem perekat di telapak kakinya.

Davier menatap Anand dari bawah sampai atas lalu beralih menatap Shamira. "Kita pulang Shamira. Daddy ingin bicara denganmu."

Shamira menelan saliva kasarnya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Tangannya meraih lengan Anand untuk digenggam. Air matanya luruh begitu saja, dalam hati ia memaki. Kebodohannya sangat luar biasa hari ini. Kabur dari rumah, berteriak di depan Raira berakhir dengan bertemu Davier dan---sebentar lagi akan bertemu si penguasa Devano.

"Ayo Shamira kita pulang!" ajak Davier dingin sambil mencengkram pergelangan tangan Shamira kuat.

Davier melangkah ke arah Anand. "Sadar. Kau itu hanya sampah di mata kami," bisik Davier. "Jauhi adik saya, maka semuanya akan selamat!"

Setelah mengatakan itu, Davier menarik Shamira paksa. Shamira menangis terisak, merentangkan sebelah tangannya. Dia mencoba untuk meminta pertolongan pada Anand.

Anand hanya diam, tidak bisa melakukan apa pun sekarang. Ancaman lelaki itu sudah bisa membuatnya bungkam seribu bahasa. Menyakitkan, ini benar-benar menyakitkan. Di satu sisi hatinya memilih Shamira, di sisi lain otaknya memilih keutuhan panti dan masa depannya. Dari sini ia bisa mendengar, lelaki itu membentak Shamira agar Shamira bisa diam.

"Shamira Shamira Shamira."

"Shamira!"

Anand berlari, keluar dari gerbang panti. Ternyata mobil yang ditumpangi Shamira sudah pergi menjauh. Ia berlari, berniat untuk mengejar Shamira namun tidak bisa---kecepatan mobil yang dikendarai oleh lelaki itu jauh di atas rata-rata. Tubuhnya ambruk, kedua lututnya membentur aspal. Di jalanan sepi serta angin malam berembus, menjadi saksi bisu bahwa malam ini---malam terakhir ia bisa bercengkrama dengan Shamira.

"Gue berharap kalau ini semua mimpi. Ini mimpi! Besok gue masih bisa ketemu Shamira!" ucap Anand menjambak rambutnya sendiri. "Shamira!! Gue gak bisa! Gue gak bisa jauh dari lo!"

Anand mendongkak, menatap langit. "Shamira.... gue gak boleh egois! Sesuai permintaan kakak lo. Gue akan jauhin lo---sampai nanti gue ngebuktiin kalau sampah bisa berguna."

***

Shamira di seret masuk ke dalam rumah utama. Seluruh tubuh Shamira bergetar hebat. Sedari tadi di perjalanan, Davier terus-terusan membentaknya. Jangankan bentakan dia, suara dia pun sudah cukup menakutkan untuknya.

Tibalah mereka berdua di ruang keluarga. Di sana ada Devano, Dion, Aksya dan Raira sedang duduk di sofa. Mereka berempat bangun ketika mendapati Shamira di dorong ke hadapan Raira.

"Anak ini berada di panti. Bermesraan di bawah sinar bulan bersama pria asing," tutur Davier melirik Shamira sinis.

Raira menangis kembali, ia berjongkok dan memeluk anaknya erat. "Maafin Bunda sayang. Maafin Bunda hiks... karena Bunda kamu bisa seperti ini. Sekarang bangun Nak, jangan duduk di lantai." Raira membantu Shamira berdiri.

"Kau tidak boleh berdiri sebelum saya yang menyuruhnya," sela Devano dingin.

"Kak!" tegur Raira tak suka.

"Diam kau Raira! Karena didikan sepertimu, sekarang lihatlah! Lihatlah baik-baik hasil didikanmu!" bentak Devano membuat Raira bungkam.

"Kak! Pelankan suaramu! Anak-anak kita sedang tertidur. Kau harus bisa menyeledaikam masalah ini dengan kepala dingin. Jangan sampai kejadian Vana terulang lagi," nasihat Aksyara-kakak kedua Raira.

Shamira menangis, tak berani mendongkakan kepalanya. Rambutnya sudah kusut, menutupi seluruh wajahnya. Tidak ada hal yang menyeramkan lagi selain melihat kemarahan Devano. Ia mengigit bibir bawahnya, agar tak menimbulkan suara isakan.

Devano melempar puluhan foto ke arah Shamira. Foto-foto itu adalah foto yang diambil secara diam-diam, entah dari dekat atau pun jauh. Di foto itu memperlihatkan kemesraan antara dirinya dan Anand. Padahal, selama ini ia berhasil menutupinya tapi kenapa bisa terbongkar. Bahkan di sini ada foto saat Shamira dan Anand sebelum Vana kecelakaan. Itu artinya, ada yang memata-matainnya sedari dulu.

"Apa ini kelakuanmu selama kami tidak memantaumu Shamira?" tanya Devano dingin.

Shamira diam bergeming.

"JAWAB!" bentak Devano membuat Shamira tersentak.

"I--iya hiks."

"Kabur melewati pembatas balkon untuk bertemu dengan pria itu?"

"I-iya Dad... maaf."

Devano tertawa pelan menatap Raira. "Kejadian seperti ini ternyata terulang kembali. Kau sama seperti ibumu. Sama persis!" desis Devano.

"Kak!" tegur Raira, memohon agar Devano menghentikan semua ini.

"Apa kau tahu Shamira? Ibumu sudah gila mencari-cari keberadaanmu sampai dia tidak mempunyai pilihan akhirnya dia menghubungi Tantemu Aksya dan kau? Kau malah bermesra-mesraan dengan pria asing. Di mana tata kramamu Shamira!"

Shamira mendongkak. "Daddy pilih kasih? Daddy membiarkan Vana berpacaran sedangkan Shami?"

Devano terdiam. "Vana berbeda, saya merasa bersalah pada dia jadi saya membiarkan hal itu terjadi."

"Jadi Shami harus disiksa dulu, ngorbanin ginjal dulu, kecelakaan dulu biar bisa pacaran?" tanya Shamira sakras.

"SHAMIRA!" bentak Davier emosi.

"Apa untungnya pacaran Shamira? Kau bahkan belum menyelesaikan pendidikanmu. Lagi pula apa yang bisa dibanggakan dari lelaki itu? Entah dipungut di mana lelaki itu," ujar Devano santai. Shamira menatap Devano penuh amarah.

"Daddy!" teriak Shamira.

"Shamira, kecilkan suaramu!" tegur Raira. Bukan apa-apa Raira tidak ingin anaknya terluka.

"Lihatlah Ara. Anakmu sangat lancang," ejek Devano.

"Daddy... Bunda, Shami minta maaf soal kabur tadi. Tolong.... percaya. Anand baik, dia sangat-sangat baik." Shamira menatap Devano dan Raira sendu secara bergantian.

"Jauhi pria itu atau---saya akan menghancurkan akun youtubemu! Dan, menghancurkan--"

"Okay. Shami akan jauhi Anand. Anand gak salah, Shami yang salah. Anand baik tapi Shami yang paksa-paksa Anand. Sekarang Shami ngerti, kalian nunggu nyesel dulu supaya... mau kabulin apa yang Shami mau."

"Shamira," panggil Raira lirih.

"Shami sayang sama semuanya tapi mungkin kalian gak sayang sama Shami. Shami merasa tidak adil, kenapa Shami harus dikekang kayak gini," ucap Shamira sedih lalu bangkit kemudian pergi menuju kamarnya.

Raira menatap sendu kepergian Shamira. Setelah masalah Vana selesai kenapa masalah lain muncul.

"Vier, kau jangan macam-macam. Biarkan Shami merenungkan kesalahannya," ujar Devano pada Davier. "Sebaiknya kau pergi Vier. Kami ingin membicarakan sesuatu." Davier mengangguk mengerti lantas dia pergi meninggalkan ruang keluarga.

"Kak, kalau kita memisahkan hubungan mereka... aku takut kejadian dulu akan terulang," ucap Raira takut.

Devano tersenyum tipis. "Tenang saja Ara. Kita lihat dari sini, apakah pria itu benar-benar baik untuk Shamira atau tidak. Biarkan saja seperti ini."

Aksya berdecak sebal. "Dev. Benar-benar otakmu sangat licik. Aku pikir kau akan berubah menjadi iblis."

"Aku rasa Kak Dev benar. Kita tidak benar-benar memisahkan. Kita akan lihat setelah kejadian ini apakah anak itu akam berbuat nekat atau tidak," timpal Dion.

"Kita awasi pria itu terlebih dahulu," ucap Devano, tangannya terangkat menghapus air mata Raira. "Tenanglah Raira. Kakak yakin kalau Shami tidak akan membencimu."






ShanandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang