Sesampainya di rumah sakit. embusan nafas kesal lagi-lagi dikeluarkan Shamira. Ingin rasanya mengumpat pada pihak rumah sakit tapi ia terus mencoba untuk bersabar. Jika saja di sampingnya ini bukan kakaknya mungkin ia sudah melontarkan kata-kata kasar.
Shamira memakai masker serta kacamata hitam agar tidak ada yang mengenalinya. Begitupun dengan Gadha, dia hanya memakai masker. Dia bilang 'saya tidak sepopulermu, yang kapan saja diserang fans.' What the hell, Gadha adalah dokter terkenal juga. Siapa tahu banyak orang yang mengenal dia. Apalagi inikan rumah sakit.
"Hei!! Kalian berdua penyusup ya?" teriak satpam yang menjaga Lobby rumah sakit.
Sialan. Dikatain penyusup lagi! Shamira menatap Gadha takut-takut. Ia tadi kelepaskan mengumpat dalam hati. Gadha sepertinya acuh, dia berjalan angkuh melewati satpam tersebut.
"Saya ingin bertanya pasien dengan nama Alexsa ruang VVIP ada di kamar nomer berapa ya?" tanya Shamira pada recetionist.
"Alexsa ya. Alexsa ada di ruangan nomor 551 tapi maaf Nona, Alexsa tidak dirawat di ruang VVIP," balas Recetionis itu.
"Baiklah saya kesana sekarang dan panggilkan dokter yang merawat Alexsa ke ruangan."
"Tapi Nona. Dokter dia sedang sibuk," sela Receptionis.
"Panggilkan saja," ucap Gadha dingin.
Receptionis itu menatap Gadha, memperhatikannya lekat-lekat. "Do-dokter Algadha kan? Hm... baiklah saya akan panggilakn dokter Bagas."
"Sekalian pemilik rumah sakitnya," ucap Shamira diangguki oleh receptionist itu.
"Kak? Kita langsung aja ke ruangan Alexsa," ucap Shamira diangguki oleh Algadha.
Sesampainya di ruangan Alexsa. Kedua tangan Shamira refleks mengepal marah. Ruangan ini, ruangan ini sangat buruk. Lebih buruk dari ruangan sebelumnya. Sialan.
Terlihat Bu Rini yang menangis sesegukan. Kondisi Alexsa sangat buruk. Dia tidak sadarkan diri di ranjang dan kondisinya pun sangat lemah. Ia melepaskan kacamata dan maskernya.
"Bu Rini," panggil Shamira serak.
Bu Rini mendongkak, menatap Shamira sendu kemudian memeluk Shamira. "Nak Shami... Lexsa hiks. Ibu nggak kuat liat dia Nak."
"Kenapa Lexsa bisa di sini Bu? Bukannya dia dapat pelayanan baik tapi kenapa sebaliknya?"
"Entahlah Nak. Ibu juga tidak tahu ka--"
Tok Tok Tok
"Masuk!"
Pintu terbuka menampilkan dua orang pria tersenyum hangat pada dirinya dan kakak sepupunya. Ia berdecih, kenapa mereka dengan gampangnya tersenyum.
"Dokter Gadha, akhirnya impian saya bertemu dokter terwujud," ujar Bagas bersemangat.
Gadha melepaskan maskernya. "Jelaskan apa yang terjadi?"
"Ada apa Dok? Apa yang harus kami jelaskan?" tanya Erwin pemilik rumah sakit.
"Perhinaan apa yang kalian lakukan terhadap saya?"
Bagas mengerutkan dahinya, merasa bingung karena ucapan Gadha yang masih di ikat oleh teka teki.
"Kenapa anak ini bisa ada di ruangan seburuk ini?" Gadha menatap gadis malang yang terbaring di ranjang.
"Mereka tidak bisa membayar rumah sakit dok. Sudah bagus saya tidak mengusirnya dari sini," ujar Erwin membela diri.
"Tidak membayar! Saya bayar lunas apa uang yang saya bayar tidak cukup?" tanya Shamira emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Shanand
Teen Fiction[SEQUEL RAIRA2] 🍂Dimohon untuk tidak plagiat [Bhatia Series 3] Namanya Shamira. Ia seorang selebram dan youtubers terkenal. Dia sedang mendekati seorang pria berkacamata. Ia mendekati dia bukan karena sebuah taruhan atau truth or dare dari orang, b...
