14. gue salut sama lo🍂

3K 199 2
                                        

"Kripiknya enak, kamu beli di mana Sham?"

Shamira mendongkak kemudian meletakan Handphonenya di meja. "Beli di panti Yah."

"Nanti beli lagi yah Sham," ucap Darren membuat Shamira mendelik.

"Yah, ceritain dong. Awal mula Ayah suka sama singkong tuh karena apa?" tanya Shamira penasaran.

Darren menghentikan aktifitas mengunyahnya. Menatap anak bungsunya lekat-lekat. "Ayah lupa," jawab Darren.

Shamira mendengus. "Bohong! Ayah suka bohong!" cetus Shamira.

"Kok Shami bisa tahu kalo Ayah lagi bohong sih?" Dengus Derren.

"Ya Ayah emang gak bisa bohongin Shami. Cepet cerita!" desak Shamira.

"Jadi waktu itu saat Bundamu diculik, Bund---"

"Hah? Bunda diculik?"

"Siapa yang diculik?" tanya Samudra yang tiba-tiba muncul di belakang Shamira.

Shamira menoleh, menatap pergerakan Samudra. Dia duduk di samping Shami. Setelah Samudra benar-benar duduk, dia menyerobot keripik singkong dari tangan Darren. Darren menatap putranya kesal karena kripiknya telah dirampas sedangkan yang ditatap malah tampak biasa saja.

"Abang! Ganggu aja nih!" ketus Shamira.

"Mulutmu Sham," tegur Samudra.

"Tanganmu Sam!" Sekarang Darren yang menegur Samudra.

Samudra dan Shamira bertatapan. Sebenarnya yang dipanggil itu Samudra atau Shamira? Nama depan mereka kan nyaris sama. Shamira mengerti, Darren sedang menegur siapa. Tatapan Darren tertuju pada Samudra.

"Kenapa Yah?" tanya Samudra polos sambil mengunyah kripik singkong.

"Itu kripiknya punya Ayah. Kenapa kamu abisin?" tanya Darren geram.

"Tinggal sedikit Yah. Lagian pelit amat, jangan kayak orang susah deh," ucap Samudra dengan nada candaan.

"Okay... kita bukan orang susah."

"Ayah ceritain lagi!" teriak Shamira.

"Udah gak mood cerita-cerita!" kesal Darren.

"Ayah ngambeknya kayak anak kecil," ledek Samudra sambil tertawa.

Shamira kesal, Ayahnya kalau sudah berhubungan dengan singkong itu memang sangat susah. Padahal, ia sangat menginginkan cerita Ayahnya semasa dulu. Apalagi saat pertama kali Darren bertemu dengan Raira. Shamira selalu berpikir dan berkeinginan, untuk mempunyai kisah cinta seperti Ayah dan Bundanya.

"Jadi begini Sham. Dulu waktu Bunda diculik--"

"Bunda diculik sama siapa Yah?" potong Shamira.

Darren menghela nafasnya panjang. "Mira, bisa enggak kamu jangan motong ucapan Ayah dulu?" tanya Darren dibalas anggukan oleh Shamira. Sedangkan Samudra, dia berpura-pura tidak peduli tetapi wajah dia menunjukan rasa penasaran.

"Yang culik Bunda itu kakaknya, paman kamu sayang. Namanya Exel, dia anak dari mendiang Kakek kamu tapi... beda Ibu dengan bunda kamu, Daddy, Papa Dion, Om Rey, dan Mami Aksya." Cerita Darren. Shamira dan Samudra, diam menyimak, mendengarkan semua kata demi kata yang terlontarkan dari mulut Darren.

"Ayah tidak tahu jelas. Yang pasti Paman Exel, dia sangat menyayangi Bunda kamu. Tidak, soal paman Exel, Ayah tidak bisa menceritakan lebih jauh lagi."

"Bunda dibawa ke sebuah rumah yang ada di tengah-tengah hutan. Karena waktu itu Ayah sendirian, dan kebetulan ada salah satu warga di sebuah desa itu tahu keberadaan bunda kamu. Akhirnya Ayah mau menunggu. Desanya sangat terpencil tapi pemandangannya sangat bagus sekali, Ayah di sana diperkenalkan masakan daerah mereka terutama umbi-umbian seperti singkong dan... selesai." Darren menyudahi cerita panjangnya.

ShanandTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang