chapter 18

44 3 0
                                    

Pagi ini banyak kabar yg tak nisa suka
1.kak rafa kembali kritis
2.pertunjukan teaternya di undur
3.alya yang gak dateng sekolah

"Yaelahh pake acara sakit segala alya,lebay banget"kata nisa yang duduk di sebelah rasti

"Biasa,demam panggung"kata Rasti yg menaikkan alisnya

"Apaan dah orang pertunjukannya di undur juga"kata nisa menggerutu

"Loh kok bisa?"

"Mau ada studi banding"

Informasi nya adalah,alya pun ikut menampilkan bakatnya dalam pertunjukan teater itu,dia akan menyanyikan sebuah lagu untuk acara pembukaan

"Gue cuman gak mau lo sama alya suka sama orang yg sama...."kata Rasti menggantung

"....lagi"sambungnya

Rasti sengaja menggantungkan perkataannya.
'lagi' berarti untuk yang kedua kalinya?

Yap,bodohnya nisa karena dia lupa bahwa pertemuan pertama nya dengan rafael karena alya yg mengenalkannya kepada rafael yg notabe nya adalah gebetan Alya

"Udah mikirnya?lama lu"kata rasti yg mengetahui bahwa Nisa sedang berfikir dan kaget

"ya ampun,harus serumit ini?"
Kata nisa yg mengacak rambutnya

Rasti tertawa dan berkata
"Gue tau hati lo belum sepenuhnya lo kasih ke kak rafa"

"Gue bingung ras"

"Lo bukan bingung,lo cuman takut sama apa yg akan terjadi nanti sama lo dan alya"kata rasti lagi

"Gue cuman mau penjelasan"

"Setelah itu apa nis?penjelasan yang menjelaskan bahwa rafael gak salah,terus lo merasa bersalah,dan dia yg notabe nya masih sayang sama lo bakal terus ngedeketin lo dan lo otomatis bakal nyaman sama dia,iya?"

Nisa kaget,bagaimana Rasti bisa tahu?

"Maaf,gue ikutin lo kemarin sore ke taman belakang"

"Hah???rasss,ga lucu tau gak,itu privasi"kata gue berteriak

"Hahahaha,Lo salah sih kalo lo bilang gak punya perasaan lagi sama dia"kata rasti

"Alya gak mungkin mau ngalah untuk yg kedua kalinya ras"kata nisa melemah

"Alya mau ngerelain kak rafa buat lo,tapi kalau rafael?gue gak yakin"

"Jangan bikin gue makin pusing sama semua teori teori lo ras"kata nisa yang mengacak rambutnya

"Gue cuman pengen ngeliat Lo berdua seneng"kata rasti senyum

Bel masuk pun tiba seiring masuknya guru sosiologi ke dalam kelas

Pelajaran dimulai,suasana kelas sangat hening,memang benar benar hening.sampai pada akhirnya....

Drtttt...drrtttt.....
Ponsel nisa berdiring,menampilkan nama reza disana

"Bu,saya izin mau angkat telfon"
kata nisa berdiri dan berlari keluar kelas

"Hallo kenapa za?"ucap nisa yg sudah biasa memanggil reza tidak menggunakan kakak,melainkan eza saja

"Makin kritis"kata reza melemah

Nisa tak menjawab,melainkan terkejut dan menitikkan air mata

"Dia mengalami pembengkakan otak"lanjut reza

"gue gak sanggup kesana"kata nisa menangis

"Bokap nyokapnya udah frustasi"

"Gue tadi mau nelfon lo mau denger suara kak rafa,bukan mau denger berita kaya gini zaa"kata nisa kembali menangis

"Dia butuh lo"

"Gue kesana sekarang"

Sambungan telfon terputus
Nisa kembali menangis di depan kelas,tak ada yang mengetahui nya,dia memilih untuk tidak kembali ke dalam kelas melainkan pergi ke gedung atas sekolah

Sesampainya di sana,angin yang menyambutnya,udara memang sedang bersahabat,tetapi tidak dengan semesta.

Nisa menenggelamkan wajahnya di kedua tangan,rasanya tak habis habis masalah yang muncul di kehidupannya

"Latihan sosio nya udah di kerjain belum?"kata seseorang di belakang sana

Nisa sudah tau itu suara siapa,siapa lagi kalau bukan Rafael

"Ngapain ke sini?"

"Tadi temenmu nyariin,bu emi minta tugas sosio sekarang,kamu gak masuk masuk dari tadi,terus tugasnya gimana?"

"Gue gak peduli"kata nisa cuek

Rafael hanya tersenyum,dia merasa bahwa gadis di depannya ini tak berubah sedikitpun

"Rafa gimana?"ucap rafael tiba tiba

"Makin kritis"

"Bukan kondisinya,tapi perasannya"

"Hah?perasaan apa?"

"Perasaan ke kamu"

"Gatau"

"Kalau dia suka kamu gimana?"

"Gapapa,itu hak dia"kata nisa

"Alya suka sama lo?"sambung Nisa lagi

"Mungkin"

"Kenapa mungkin?"

"Mungkin kamu cemburu"kata rafael dengan senyum nya

"Gak jelas"kata nisa seraya menenggelamkan wajahnya lagi

"Gue minta maaf"kata nisa seraya menatap mata elang rafael

Rafael tersenyum,hatinya bahagia bukan main.dia berharap nisa membuka hatinya lagi,tapi...

"Gue mau kita jadi temen"

Hanya teman,maaf rafael.
Nisa memang sangat sulit untuk percaya lagi kepada orang,tapi jika menjalin hubungan baik,apa salahnya?

"Biarin semuanya mengalir"sambung nisa lagi

"Apa kita gak bisa kaya dulu lagi?"

"Gak mungkin,kita udah ada jalannya masing masing,aku gak mungkin ngerebut kebahagiaan alya untuk yg kedua kalinya"

"Jangan ngorbanin perasaan kamu demi orang lain nis"

"Kalau dia berkorban buat aku,kenapa aku gak boleh?"

Perdebatan itu terhenti,mereka sama sama menatap langit,nisa yang sudah berjanji akan pergi kerumah sakit tadi tak kunjung pergi,hingga Reza menelfon

"Gimana sih,katanya mau kesini"kata reza kesal di dalam telfon

"iya sebentar za"kata Nisa langsung mematikan telfon

Nisa langsung beranjak pergi,tetapi di tahan oleh rafa

"Aku ikut ya"

Nisa hanya mengangguk tak percaya,bagaimana bisa dia ingin ikut?

Tak lama kemudian,mereka sudah sampai di parkiran,menggunakan mobil nisa dan mencari alasan untuk keluar kepada satpam

"Bilang apa?"

"Bilang aja fotocopy"

Setelah keluar dari sekolah itu,nisa hanya diam dan menatap keluar jendela berharap tak lagi mendapat kabar buruk untuk yang kedua kalinya

distance apartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang