8

332 28 0
                                        

Kudunya dikomentarin nih cerita, tanggapan kalian bagaimana?
Terus cerita ini cuma selingan aja, jadi partnya nggak bakal panjang...

****

Aku terkekeh pelan mengingat apa yang terjadi dulu. Setelah kejadian malam itu Ares meminta maaf dan kami kembali berteman, sampai saat ini. Bedanya sekarang dia lebih menyebalkan dari sebelumnya.

Setelah berjalan menyusuri kampus aku kembali ke penginapan dan melihat keadaan kamar yang sangat berantakan. Tadi di grup chat, ketiga temanku itu belanja di pasar Bringharjo, yang sekarang barang belanjaan mereka sudah bertebaran ke mana-mana.

Tadi mereka ngomong kalau menunggu di lobby tempat kami menginap, setelah berisiap aku langsung melangkah ke lobby dan menemukan mereka yang sudah siap dengan pakaian santai untuk ke pantai.

Setiba di Pantai Krakal yang ada di Gunung Kidul aku langsung berteriak bahagia, sudah lama sekali rasanya tidak sesenang ini. Aku benar-benar menikmati perjalanan kali ini, karena aku memasang mode pesawat untuk ponselku dari saat tiba di penginapan.

Selain Bali, Jogja bisa disebut sebagai Surganya Pantai, setelah puas ke pantai Krakal, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Drini, untuk transportasi yang kami gunakan adalah mobil, kami menyewa mobil dan dibawa sendiri oleh Ela yang mahir dalam mengendarai roda empat itu.

Hampir seluruh Pantai di Gunung Kidul kami susuri, sampai aku terasa lelah dan mentari sudah hampir tenggelam. Senja kali ini terasa menyenangkan aku menghabiskannya bersama teman-temanku. Sesekali angin bertiup menerbangkan rambutku yang kubiarkan terurai.

" Nay, dari tadi Ares ng-DM gue." Yuni berkata pelan tepat di sebelah kiriku.

Aku menoleh ke arah perempuan itu sejenak, lalu kembali menyaksikan senja yang benar-benar hampir tenggelam.

"Blokir aja, Yun."

Aku melirik Yuni dengan ekor mataku, setelah kusuruh dia untuk memblokir Ares, wajahnya tercenung seolah tak percaya kalau aku yang kadang terlalu memuja Ares sengaja menghindar dari pria itu.

"Gue heran deh, Nay. Lo ngerasa ada yang aneh nggak sama Ares?" tanyanya penasaran.

Ares dari dulu sampai sekarang memang aneh dan menyebalkan makanya aku tak begitu merasa aneh atas sikap dia yang seperti ini.

"Mungkin dia kangen sama lo, Nay." Ela ikut berkomentar.

Mendengar ucapan Ela membuatku sedikit ragu, mana mungkin seorang Ares merindukan seorang perempuan seperti aku.

Mustahil.

Langit sudah mulai gelap, angin sudah terasa menusuk kulit. kami beranjak dari pantai Sadranan ini, lalu kembali ke mobil. Benar-benar hari yang menyenangkan. 

Kami sudah tiba di penginapan dalam keadaan kelelahan, tadi sebelum ke penginapan kami makan terlebih dahulu. Maklum perutku dan perut Ela adalah kombinasi perut karet.

Ela, Yuni dan Rasti sibuk membereskan barang belanjaan yang didominasi oleh batik. Sementara aku fokus ke teve yang masih menyala, sesekali memerhatikan mereka bertiga yang ribut gara-gara Barang mereka yang tak muat ke dalam koper.

"Nay, lo nggak ada niat belanja?" kata Rasti sambil melipat baju daster yang dibelinya.

"Emang mau belanjain siapa? Si emak udah mesen kalau dia maunya bakpia aja, terus kalau buat kantor kan ada kalian, jadi gue nggak perlu keluar duit buat oleh-oleh." Aku langsung mendapat lemparan kain dari Ela.

Malam ini kami sudah siap untuk pergi ke pohon kembar yang ada di alun-alun Kidul. Kalau, malam seperti ini sudah dipastikan akan ramai sekali di sana. Seperti biasa, Ela adalah supir andalan kami, sebenarnya jarak antara penginapan kami ke alun-alun Kidul itu tidak jauh, hanya saja macet membuatnya terasa jauh. Long weekend memang harus siap untuk menghadapi kemacetan jalanan.

Setelah memarkir mobil, kami langsung memasuki area Alkid seperti kebanyakan alun-alun. Tempat ini sangat ramai, aku mengedarkan pandangan banyak segerombolan muda-mudi sedang bercengkrama, ada juga pengamen yang, ada yang bersepeda, dan banyak lagi.

Terbawa lagi langkahku ke sana
Mantra apa entah yang istimewa
Kupercaya selalu ada sesuatu di Jogja.

Aku langsung menoleh, ketika rombongan pengamen menyanyikan lagu dari Adhitia Sofyan itu. Suaranya merdu dan pembawaan mereka persis seperti aku lima tahun lalu, sepertinya mereka adalah mahasiswa yang memanfaatkan kemampuan untuk mencari uang.

Kurogoh saku celana jeans belel yang aku pakai sampai menemukan uang sepuluh ribu. Kemudian kukasih ke mereka yang masih menyanyi. Kutunggu selesai bernyanyi, seorang yang suaranya merdu itu melihat ke arahku.

"Thank you, Mbak." Ia tersenyum manis.

Ah aku jadi teringat masa-masa kuliah dulu.

"Banyak banget ngasih sepuluh, Nay," tanya Rasti yang sibuk merekam penampilan anak muda itu.

"Mereka nyanyinya enak, terus suara vokalisnya keren. Gue suka," jawabku jujur.

Ngomong-ngomong kalau ngingat Jogja, kurang rasanya kalau nggak ngingat mantan, dulu waktu kuliah aku punya dua mantan, yang satu putus gara-gara salah paham karena waktu itu Ares kecelakaan dan aku hampir seminggu mengabaikan pesan dari mantanku itu. Lalu ia memutuskanku begitu saja.

Kemudian, si Abirama yang waktu itu ngajak bertemu di sebuah caffe, aku lumayan lama bersama Bima, sayang sekali kami harus putus, aku kira jodohku Bima. Ternyata, dia lebih memilih karir daripada aku.

Dengan Bima aku mulai pacaran ketika aku sedang menyusun skripsi, waktu itu Ares sudah lulus lebih dulu, sementara aku masih setia dengan mengulang beberapa mata kuliah. Itu pun pertemuanku dengan Bima sangat tidak sengaja. Aku sedang menonton pembukaan Dies Natalies kampusku, kebetulan Bima duduk tepat di sebelahku, mulai dari saat itu aku dan Bima dekat. Sampai Bima mengungkapkan perasaannya padaku. Aku yang terbiasa dengan keberadaan Bima dan kebaikannya, akhirnya menerimanya dengan senang hati.

"Bengong bae." Yuni menyikutku, aku tersadar dari lamunanku yang indah.

"Teringat masa lalu," kataku pelan.

"Bima?" tanyanya lagi.

Aku mengangguk sambil tersenyum.

"Pilih Bima apa Ares, Nay?"

"Nggak dua-duanya," jawabku dengan tenang.

Sayang sekali, aku sudah tidak terlalu berharap dengan orang-orang yang menurutku belum pasti.

Tapi kalau disuruh memilih, bolehkah aku memilih dia?
Aku menatap langit yang malam ini terlihat teduh.

Miracle In 29thTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang