"Lo kenal Syelin?"Galva yang tadinya fokus ke snack ditangannya langsung beralih fokus menatap Kristal dengan pandangan yang bertanya tanya"Syelin?"Kristal mengangguk
"Gak tau"ucap Galva sambil menghedikkan bahu acuh
"Ish gue seriusan Gal. Masa lo gak kenal sih. Syelin yang katanya suka sama lo masa lo gak tau. Terus Tino yang katanya suka sama Syelin padahal dia waktu itu masih pa___"Kristal langsung membekap mulutnya sendiri. Hampir saja ia keceplosan. Ia tidak akan membiarkan Galva mengetahui jika ia adalah mantan pacar Tino atau musuh Galva. Karena bisa saja itu membuat Galva menjauh darinya. Eh tunggu kenapa sekarang malah Kristal takut jika Galva menjauh darinya
"Masih pa__ apa?"tanya Galva dengan mata memicing
"Ah enggak maksud gue itu masih pa..emm pa...padat jadwalnya"Kristal merutuk dalam hati. Bodoh bodoh bodoh! Apa hubungannya sama padat jadwalnya. Ingin sekali rasanya Kristal menenggelamkan wajahnya dari muka bumi ini. Malu!
"Apa hubungannya? Lo bohong"
"Udah ah enggak. Lo pulang gih. Gue mau istirahat"
"Gak usah ngalihin pembicaraan. Lanjutin omongan lo!"Kristal meneguk salivanya susah payah saat ditatap tajam Galva. Tidak tidak ia tidak boleh takut ini hanya gertakan saja pikir Kristal
"La..Lanjutin apasih. Lanjutannya emang itu"ucap Kristal tergagap
Galva semakin mempersempit jarak diantara mereka berdua. Kristal sendiri sudah bergeser dari duduknya sampai ia sudah berada dipaling pojok sofa. Jantung Kristal berdetak tak karuan. Kenapa dia? Kenapa Kristal merasa jantungnya berdetak cepat. Apa ia memiliki riwayat penyakit jantung. Tidak tidak! Ia tidak bodoh, berada di posisi sedekat ini dengan cowok tampan kenapa harus membuat jantungnya tidak karuan. Tunggu! Apa tadi? Tampan. Oh astaga, kenapa Kristal malah memuji ketampanan cowok ini. Tidak tidak! Kristal tidak boleh terpesona dengan cowok ini.
Kristal meneguk salivanya susah payah. Ternyata dijarak yang sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa Galva yang semakin tampan. Hidungnya terlihat mancung, alisnya melengkung sempurna,bulu mata lebat, wajah bersih tanpa jerawat ataupun noda sedikitpun dan terakhir, bibir. Kristal rasanya benar benar gila saat ini. Bagaimana bisa ia memusatkan pandangan matanya ke arah bibir sexi itu. Bagaimana jika bibir itu mencium....
BIG NO!
Kristal segera mengenyahkan pikiran mesumnya itu. Astaga! Berada dijarak sedekat ini dengan Galva, benar benar membuat kegilaan dalam diri Kristal.
Cup
Kristal membelalakkan matanya saat Galva tiba tiba mencium bibirnya. Hanya kecupan tidak lebih. Galva tersenyum mengejek melihat wajah memerah Kristal yang terlihat sangat menggemaskan di matanya.
Galva segera menjauhkan wajahnya saat Kristal masih diam tidak merespon. Apakah segitu besarnya efek kecupan bagi Kristal sampai sampai dia terdiam cukup lama. Galva menatap Kristal yang juga sama menatapnya. Tiba tiba sebuah hal tak terduga terjadi.
Cup
Kali ini Galva yang membulatkan matanya tak percaya. Kristal membalas menciumnya dengan sangat cepat. Bahkan Galva hampir berhenti bernafas saat itu juga, benar benar kaget. Kristal tersenyum puas melihat kekagetan Galva. Jika kalian berfikir Kristal akan menampar tentu saja tidak. Kristal lebih memilih membalas dan sekarang lihat. Satu sama.
"So satu sama"ucap Kristal sengan senyum miringnya. Kristal sendiri juga merasa ia benar benar gila. Ide untuk membalas Galva bahkan tidak terpikir sama sekali diotaknya. Dan itu real tiba tiba saja terjadi.

KAMU SEDANG MEMBACA
BAD TWINS
Teen FictionSequel of Bad Girl VS Bad Boy BISA DI BACA TERPISAH👌👌 ~~~ Mereka kembar, namun berbeda. Jika Galva matahari maka Gilva adalah bumi. Galva yang selalu membawa keceriaan dan Gilva yang diam tidak peduli. Untuk pertama kali dalam hidup Galva merasak...