Galva mengacak rambut kasar, cowok satu itu panik bukan main saat mendengar kabar adiknya hilang. Sial! Siapa yang berani menganggu adiknya.
Sore tadi Raksa memang meminta izin untuk mengajak Gilva keluar malam ini. Dan sekarang, Raksa memberi kabar jika Gilva hilang saat cowok itu tinggal sebentar.
Galva dengan cepat langsung bergegas ke lokasi, lebih tepatnya di taman. Cowok itu menghampiri Raksa yang juga terlihat sama paniknya. Galva tidak bisa menyalahkan Raksa karena bagaimanapun juga Raksa sudah berusaha menjaga Gilva.
"Kenapa bisa hilang sih Rak? Aneh banget, Lia itu bukan anak kecil lagi tapi kenapa bisa hilang?"tanya Galva kesal. Aish! Bagaimana tidak kesal Gilva itu adik satu-satunya dan kalau hilang siapa yang akan mengganti? Raksa?.
"Gue juga gak tau Gal! Gue tadi cuma tinggal bentar beli camilan, tapi balik-balik Gilva udah gak ada. Gue telfon ponselnya gak aktif"Raksa mengacak rambut kasar. Jika Gilva benar hilang, Raksa akan benar-benar merasa gagal menjaga gadis yang ia cintai.
"Ck! Terus mau dicari dimana? Gak ada petunjuk sama sekali"decak Galva.
"Maafin gue Gal, gue udah gagal jagain adik lo"sendu Raksa.
"Lo ngapain jadi melow gini? Gue gak nyalahin lo, gue yakin Lia bisa jaga diri. Gue cuma takut aja kalau adik gue beneran hilang"Galva tersenyum tulus.
"Lo udah ngasih tahu bokap sama nyokap lo Gal?"Galva menepuk jidatnya, saking paniknya ia bahkan lupa memberitahu kedua orang tuanya.
"Gue lupa, bentar gue telfon dulu"Galva merogoh saku celananya, tapi nihil barang yang ia cari tidak ada.
"Ah sial! Ponsel gue ketinggalan"Galva merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dalam keadaan begini ponselnya ketinggalan.
"Ada-ada aja sih lo! Nih kabarin pakai ponsel gue aja"Raksa menyodorkan ponselnya dan langsung di terima Galva.
Cowok itu dengan cepat mengetikkan nomor ponsel milik daddynya, beruntungnya Galva menghafal nomor ponsel daddynya. Baru saja ingin menekan tombol call teriakan seseorang menghentikan aksi Galva.
"BANG LIO! RAKSA!"
Galva langsung membalikkan tubuhnya begitupun Raksa. Tubuh kekar Galva seketika langsung terhuyung saat Gilva menubruknya dan memeluknya erat, untung saja Galva bisa menyeimbangkan berat tubuhnya.
Raksa tersenyum kecut. Sial! Bagaimana bisa ia cemburu dengan kakak Gilva sendiri. Tidak bisa di pungkiri Raksa memang benar merasa cemburu melihat Gilva yang lebih memilih Galva untuk di peluk.
"Lo darimana aja sih Lia? Raksa udah mau nangis nih daritadi nyariin lo"Galva mengurai pelukannya dan menangkup wajah Gilva. Sejahil-jahilnya Galva kepada Gilva tetap saja Galva sangat khawatir jika terjadi sesuatu terhadap adiknya ini.
"Apaan sih lo!"ucap Raksa dengan wajah kecut. Hemm..cemburu bilang boss!
"Apaan sih lo bang!"Gilva memukul keras bahu Galva.
"Iya-iya canda doang. Lo darimana sih?"
"Abang percaya gak?"
"Percaya apa sih Lia? Lo kan belum ngomong"
"Ck! Makanya itu, Lia kan belum ngomong. Makanya dengerin dulu jangan asal potong"
"Iya udah apa?"
"Tadi Lia ketemu sama temannya Daddy"
"Teman? Siapa temannya Daddy? Om Vano, Om Leon, Om Daniel, Om Rafa,atau Om Reza?"ucap Galva menerka-nerka. Pasalnya teman daddynya yang pernah di kenalkan ya mereka berlima itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
BAD TWINS
Teen FictionSequel of Bad Girl VS Bad Boy BISA DI BACA TERPISAH👌👌 ~~~ Mereka kembar, namun berbeda. Jika Galva matahari maka Gilva adalah bumi. Galva yang selalu membawa keceriaan dan Gilva yang diam tidak peduli. Untuk pertama kali dalam hidup Galva merasak...