36. RINDU TERPENDAM

1.1K 142 76
                                    


Masih ada yang nunggu??

Happy reading❤❤

****


Ruangan yang tadinya nampak rapi, kini tak lagi berbentuk. Semua barang berhamburan, pecahan beling berserakan dimana-mana. Tetesan darah pun ikut serta mengotori lantai bewarna putih itu.

Sedangkan pria berumur 25 tahun itu nampak meringkuk, mengerang frustasi. Rambutnya ia jambak sekuat mungkin, merutuki kebodohannya sendiri.

"Arrghh! Gue bego! Tolol! Bego,bego,bego!. Itu Kristal Galva, itu Kristal! Itu gadis yang lo tunggu tujuh tahun. Dan apa balasan lo? lo bego. Arrrgh! Sialan!"Galva memukul belakang kepalanya. Merutuki perbuatan yang tadi ia lakukan.

Sungguh, Galva tidak berniat sama sekali memperlakukan Kristal seperti tadi. Bahkan untuk membentak saja rasanya itu tidak tega. Tapi bagaimana bisa tadi ia kelepasan seperti itu. Ingin rasanya Galva menarik tubuh indah itu lebih erat dalam pelukannya. Aish! Galva akui, berperang dengan ego sendiri memang sangat sulit.

"Sebenarnya gue kenapa sih, hah?!"Galva bertanya pada dirinya sendiri. Entahlah, Galva sendiri tidak bisa mendeskripsikan rasanya saat ini.  Antara bahagia, sedih, kesal,marah, semua bercampur aduk.

"Gue..emang bego,"lirihnya.

"Anjir!!"pekikan itu berasal dari pria dengan kemeja putih yang melekat ditubuhnya. Mulut pria itu menganga melihat keadaan kondisi ruangan yang jauh dari kata rapi.

"Lio, lo gila hah?!"Fajar dengan wajah geramnya menghampiri Galva yang meringkuk seperti bayi.

"Ruangannya lo hancur, darah berceceran. Lo itu kenapa sih?!"mendapati Galva yang sedari tadi hanya diam membuat Fajar semakin dibuat heran. Apa yang terjadi sebenarnya?

"Lio, lo dengar gue gak sih?!"semakin geram, Fajar menarik lengan Galva untuk membangunkan pria itu.

Bugh! Pukulan mendarat begitu saja diwajah mulus Fajar. Galva menatap Fajar dengan wajah teramat datar.

"Bangke! Lo ada masalah apa sih sama gue? Main nonjok aja, lo pikir gak sakit apa?!"

"Bego!"geram Galva. Galva berjalan sempoyongan menuju sofa. Tubuhnya dihempaskan begitu saja. Hari ini terasa lelah sekali, baik tubuh maupun hatinya.

"Ada masalah apa?"setelah meredakan rasa kesalnya Fajar bertanya dengan sehalus mungkin. Orang emosi jika dibalas emosi juga tidak akan selesai. Jadi Fajar memilih dengan kepala dingin menghadapi Galva yang mendadak kacau begini.

"Gue bego, Jar."

"Maksud lo?"

"Kristal kembali,"ujar Galva pelan.

"Hah?! Gue gak salah dengar kan. Kristal kembali? Lo serius?"Fajar langsung merapatkan duduknya semakin dekat dengan Galva.

"Gue serius,"

"Lho, bagus dong. Penantian lo gak sia-sia kan. Terus gimana, pasti lo langsung peluk dia kan? Eh, ngelihat lo kondisinya kayak gini kok gue gak yakin. Anjir! Jangan-jangan Kristal kembali buat ngasih undangan pernikahannya. Wah parah, gue bilang juga apa. Mending cari yang lain, sekarang lo lihat sendiri kan, Kristal bahagia sama yang lain."Galva mendengus mendengar celotehan Fajar yang sama sekali tidak ada benarnya.

"Berisik! Ambilin gue obat merah dulu, nanti gue cerita,".

"Ck, yaudah iya. Makanya kalau marah gausah sok-sokan mecahin barang. Kan sayang harganya mahal,"dengan mulut yang masih mendumel tidak jelas, Fajar mencari kotak obat. Setelah apa yang ia cari ketemu, Fajar kembali ketempat semula.

BAD TWINSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang