"WOY! BALIKIN PENSIL GUE! DASAR KUTIL KEJEPIT ANOA!"gadis tomboy itu nampak berteriak marah saat pensilnya di ambil begitu saja."Gue pinjem sebentar elah. Pelit amat sih lo Ris"
"Gue gak peduli! Balikin pensil gue Fajar!"
"Ck! Nih, mamam tuh pensil. Jadi orang kok pelit amat, pantesan gak laku"cibir Fajar yang membuat Eris mendelik kesal.
"Laku gak laku itu urusan gue. Sewot banget sih lo"balas Eris.
"Terserah lo deh. Dasar cewek jadi-jadian"
"Apa lo bilang?!"
"Enggak! Gue gak bilang apa-apa"Eris tidak peduli, cewek itu melanjutkan kegiatan menggambarnya yang sempat tertunda karena ulah cowok di sampingnya.
Fajar bangkit, cowok itu berjalan menuju bangku yang di tempati Raksa dan Galva. Suasananya nampak sangat canggung sekali. Raksa yang biasanya cerewet karena tingkah Galva kini tidak ada lagi.
Semua keadaan sudah berbeda. Tidak ada lagi tawa, canda dan senyum manis dari seorang Galva. Semuanya sudah beda. Galva berbeda.
Dingin tak tersentuh. Cowok itu semakin lama nampak semakin dingin dan bertambah ketus. Semua sifat humoris Galva sudah tidak lagi. Fajar sendiri merasa sedih dengan hilangnya Galva yang dulu.
"WOY! DIEM-DIEM BAE! NGOPI NGAPA NGOPI!"Fajar dengan inisiatifnya langsung mencari celah untuk membuat keadaan kembali semula.
"Gak usah ngetoa disini. Kehadiran lo bikin gue eneg"ucap Raksa.
"Yaelah babang Raksa mah sok-sokkan eneg. Padahal suka kan"goda Fajar sambil menaik turunkan alisnya.
"Najis!"
"Udahlah ngaku aja. Abang Fajar siap kok kalau mau di jadiin selingkuhan"
"Berisik!"ketus Galva. Cowok itu memfokuskan pandangannya ke layar ponsel tanpa mau membalas ucapan Fajar.
"Lio lo kenapa sih hah?! Udah seminggu lo diem terus kayak gini. Lo bukan kayak Lio yang gue kenal tau gak"ucap Fajar yang cukup membuat Galva menatap tajam cowok itu.
Fajar sendiri heran. Cowok itu sama sekali tidak tahu penyebab Galva menjadi seperti ini. Tapi yang jelas sih, akhir-akhir ini ia tidak pernah melihat Galva bersama Kristal. Atau jangan-jangan...
"Lio lo putus sama Kristal?!"tanya Fajar dengan wajah syoknya. Raksa pun begitu. Ikut bingung, karena sudah seminggu ini ia tidak melihat Galva bersama Kristal. Jangankan mereka berdua, melihat Kristal saja ia bahkan belum.
"Bener Gal?"tanya Raksa ikut memastikan.
"Bukan urusan lo"sinis Galva. Cowok itu bangkit dan berlalu meninggalkan kelas yang semakin membuat tanda tanya besar dalam benak Fajar dan Raksa.
"Rak, seminggu ini lo ngelihat Kristal gak sih?"tanya Fajar dengan pandangan serius kearah Raksa.
"Enggak"
"Sama Rak. Kira-kira Kristal pergi kemana ya? Lio juga gak cerita apa-apa. Apa jangan-jangan ini ada hubungannya sama mama tirinya ya"ucap Fajar sambil mengelus-elus dagu seolah berfikir.
Raksa menatap Fajar dengan kening berkerut. "Mama tiri? Lo kenal mama tirinya Kristal?"Fajar sontak menggeleng.
"Gue mana tau. Kan belum pernah ketemu. Eh tapi tunggu, lo inget kan waktu gue, Adi, Zaka, sama Zico waktu itu nge begal mama tirinya Kristal. Gue tuh kayak ngerasa familiar sama suaranya"iya, Fajar ingat sekali. Cowok satu merasa pernah dengar suara itu. Tapi lupa. Sial!
"Ck! Pikir yang bener! Kalau lo beneran kenal sama suara orang itu. Bisa jadi petunjuk"ujar Raksa.
Fajar mengacak rambut gemas, "Sial! Gue lupa bangsat! Mungkin gue butuh ke Cafe"deg! Cafe?

KAMU SEDANG MEMBACA
BAD TWINS
Teen FictionSequel of Bad Girl VS Bad Boy BISA DI BACA TERPISAH👌👌 ~~~ Mereka kembar, namun berbeda. Jika Galva matahari maka Gilva adalah bumi. Galva yang selalu membawa keceriaan dan Gilva yang diam tidak peduli. Untuk pertama kali dalam hidup Galva merasak...