SEBUAH tangan terulur tepat di depan wajah Regan, jari jemari melingkar pada botol air mineral dingin. Regan yang duduk selonjoran dengan punggung tersandar pada batang pohon di tepi lapangan mendongak, matanya silau terkena terpaan sinar mentari pagi.
"Buat lo!" ujar seorang gadis dengan rambut yang di biarkan tergerai, dan untuk sepersekian kalinya angin menerbangkan helaian rambutnya yang tidak terlalu panjang.
Regan menerima uluran botol air mineral dingin yang sangat menggoda untuk di minum.
"Duduk!" Regan mempersilahkan gadis itu untuk duduk di sampingnya sambil bersandar di batang pohon.
Gadis itu mengangguk lalu beralih duduk di samping Regan.
"Tumben perhatian," sinis Regan.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya lalu berkata, "Walaupun cuma acting tapi harus meyakinkan."
Regan terkekeh mendengarnya, dengan cepat ia hentikan meneguk air mineral, agar nantinya tidak muncrat.
"Kenapa lo ketawa? Emangnya ada yang lucu gitu?" tanya Keira heran sendiri.
Regan mengacuhkan pertanyaan Keira dengan mengalihkan aktivitasnya memutar tutup botol pada botol air mineral tadi agar nantinya tidak tumpah.
"Lo ngapain di sini? Bolos ya lo?!" tuduh Regan sambil memainkan alisnya sehingga membuat Keira tertawa.
"Gue? Bolos?" tanya Keira menunjuk dirinya dengan telunjuknya sendiri.
Regan mengangguk.
"Ya enggak lah! Lagian kuker banget gue sampai bolos kelas segala," ujarnya membuat Regan melemparkan pertanyaan lagi, "Terus kalau nggak bolos lo ngapain di sini?"
"Tadi gue di suruh Pak Bambang fotocopy soal-soal latihan kelulusan, terus gue liat lo lagi di hukum yaudah gue beliin lo minum, lagian fotocopy soalnya belum kelar makanya gue ke sini ngasih lo minum."
Regan tersenyum seperti orang mesum, menurut Keira.
"Ngapain lo beliin gue minum segala?" tanyanya senyam senyum.
"Ga usah pede deh lo! Gue cuma kasihan, inget cuma kasihan!" ujar Keira jengkel.
"Kasihan atau kasihan?" tanya Regan dengan senyuman yang tak memudar.
"Idih apaan sih lo, ga usah kepedean!" ujar Keira berusaha menetralkan diri.
Regan tertawa saat melihat ekspresi wajah Keira yang mulai bete.
"Tapi thank you buat sebotol air mineralnya, thank you juga buat perhatiannya Nyonya Keira," ujar Regan membuat pipi Keira memanas.
"Ngga lucu!" ketusnya berusaha menghilangkan desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Lo jelek kalau lagi blushing gitu," ejek Regan lalu tertawa jahil.
"Biarin! Kaya lo yang ganteng aja, mirror woi," ujar Keira merajuk.
"Sayangnya setiap kali gue mirror, gue selalu ganteng," ucapnya dengan tangan yang mengusap-usap dagu.
"Sumpah ya, ternyata bener-bener ngga guna ya ngeladenin orang kayak lo," Keira berdiri dari duduknya.
Baru beberapa langkah kaki Keira melangkah, namun sebuah pertanyaan mampu membuatnya menghentikan langkahnya.
"Yang kemarin itu siapa lo? Cowok lo?" tanya Regan dari arah belakang Keira.
"Bukan," jawab Keira tanpa membalikkan badan.
"Oh."
"Emangnya kenapa?" tanya Keira masih dengan posisi yang sama.
"Nggak, nanya aja."
"Oh."
"Kemarin lo sok cuek, jijik!" umpat Keira tetapi masih dapat di dengar oleh telinga Regan.
"Kemarin cowok yang sama lo itu sok ganteng, jijik!" ujar Regan menirukan gaya bicara Keira.
Sebelum melangkahkan kakinya pergi, Keira membalikkan badannya sejenak lalu berkata, "Dia emang ganteng kok!"
"Gantengan gue kemana-mana," balas Regan.
"Bodo amat!" Regan tertawa saat mendapati jawaban dari Keira.
"Ntar pulang sekolah tunggu gue di parkiran ye!"
Gadis itu mengerutkan keningnya, "Ngapain?" tanyanya.
"Udah tunggu aja, jangan banyak tanya!"
"Heh, iya iya!"
To Be Continued..

KAMU SEDANG MEMBACA
Really Love
Roman pour Adolescents"Karena ada banyak rasa yang tak perlu untuk di sampaikan."|| -Dari luka yang tak kunjung pulih. #Welcome to Really Love: Ini perihal hati yang berevolusi menjadi sebuah perasaan beku yang sulit terpecahkan. Perihal luka yang perlahan me...