Chapter : 33

365 28 55
                                    

ISAK tangis masih terdengar jelas menerobos gendang telinga cowok berkaos hitam dilampisi jaket kulit. Ia menghela napas seraya mengusap wajahnya kasar, memainkan jemarinya pada stir mobil.

Semenjak kejadian di restoran tadi, gadis itu tak henti-hentinya menangis, membuat Kafka menjadi tidak fokus dalam berkendara, hingga akhirnya memilih untuk menepikan mobil.

Kini, pelukan hangat telah membekap tubuh Keira. Namun, isak tangis masih terdengar.

Kelopak mata cowok itu terpejam sejenak, namun tangannya masih terus mengusap lembut puncak kepala Keira.

"Nangis aja, sampai kamu puas, sampai kamu merasa siap untuk cerita," katanya menyisakan waktu beberapa menit untuk diam. "Aku masih di sini untuk kamu," lanjutnya terdengar sangat tulus, hingga membuat Keira menggigit bibir bawahnya lumayan kuat, air matapun tak lupa untuk memberi jeda di setiap tetesannya.

Detik hingga menit ke menit pun berlalu, kini tangis yang tadinya hadir kembali pergi seakan tak sudi mempertanggungjawabkan tetes demi tetes air mata yang mengalir tanpa di pinta.

Hening seketika menjadi penghalang untuk di mulainya suatu pembicaraan yang mungkin hanya sekadar basa-basi atau cerita semata agar rasa ingin tahu perlahan memudar.

"Bukannya sedih, sakit hati atau gimana. Tapi aku cuma kesel terus kecewa, Ka."

Manik mata Kafka menatap Keira lekat. Memang sangat membingungkan untuk berada di posisi Kafka. Karena kunci utama permasalahan belum diketahui. Lalu bagaimana mau berkomentar, jika puncak salahnya tak tahu? Memintanya untuk bercerita? Kafka rasa itu bukan pilihan yang tepat, karena gadis itu masih dalam ambang rasa yang rumit untuk diungkapkan.

Keira meremas ujung dress berwarna pink yang dikenakannya. Perlahan, mulai membalikkan diri menatap balas manik mata Kafka lama.

"Kenapa kamu harus kecewa, kalau kamu nggak pernah membuat pengharapan lebih?" tanya Kafka mulai peka dengan keadaan.

Keira tersenyum kecut seraya memainkan jemarinya, berharap bisa mengusir rasa gugup yang baru saja menghampiri.

"Awalnya nggak gitu, tapi endingnya ya gini," jawab Keira seadanya, namun berhasil menimbulkan kerutan tipis pada dahi Kafka, disertai sebelah alis yang terangkat ke atas.

Keira mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil, seraya menghembuskan napas kasar hingga menimbulkan bunyi semacam helaan. Ia bingung, harus dimulai dari mana cerita ini. Haruskah dia akui bahwa saat ini ia telah jatuh sekaligus patah karena sebuah kata yang bernama cinta? Ini gila! Keira tidak bisa mengakui perasaannya semudah itu.

Keira harus menjaga perasaan Kafka. Ide gila bila Keira mengakui bahwa ia menyukai Regan pada Kafka. Keira juga manusia, ia juga tahu bagaimana rasanya apabila seseorang yang disukai malah menyukai orang lain.

Keira tidak tahu sejak kapan perasaan yang biasanya disebut dengan kata cinta itu hadir. Tapi yang jelas ia kecewa, sangat kecewa. Bukan karena Regan tampak masih menyukai Nadya, tapi karena rasa iba yang dituangkan Regan untuk dirinya. Keira membenci itu! Ia tidak pernah mau dikasihani, perihal apapun itu. Lebih baik ia terpuruk sendirian dari pada dikasihani oleh orang lain, apalagi orang itu telah berhasil membuat hatinya bergetar hingga akhirnya remuk.

Ternyata mengubah arah langkah adalah keputusan yang salah. Keira pikir Regan bisa jauh lebih mengerti bagaimana cara menghargai perasaan. Tapi ia salah, ternyata sama saja.

Keira rasa meninggalkan Kafka adalah keputusan paling tepat, tapi ia salah. Mungkin, meninggalkan Kafka bukan keputusan yang sangat salah.

Keira menghela napas dalam seraya memejamkan matanya sejenak. Ia mendesah kuat, sebab kejadian tadi selalu saja melintas dibenaknya. Keira kesal!

"Kamu tahu Kaf, beranjak pergi dari orang yang jelas-jelas udah pasti adalah keputusan yang paling salah yang pernah kubuat. Aku kira orang baru bisa jauh lebih mengerti, ternyata tidak," ucap Keira menatap lurus jalanan.

Kafka menatap Keira lekat, masih diam, membiarkan Keira untuk meluapkan segalanya.

"Aku yang terlalu banyak berharap Kaf. Aku yang salah, bukan dia. Dia hanya kasihan sama aku yang menyedihkan ini. Aku yang salah mengartikan kepeduliaannya. Mungkin, aku menyukainya sejak dia mulai membuka masa lalunya, Nadya. Aku jatuh hati padanya, karena sikapnya yang sangat peduli dan ketulusannya dalam mencintai seseorang. Aku yang salah, sudah tahu dia masih menyukai Nadya hingga detik ini, tapi masih saja rasa itu muncul dan mengalir semaunya."

Keira menoleh untuk dapat menatap manik mata Kafka. Pancaran rasa kecewa muncul disana. Keira sama sekali tidak pernah mau membuat Kafka kecewa ataupun sedih, karena lelaki itu sangat berarti untuknya. Meskipun perasaannya tidak lagi satu frekuensi.

"Aku menyukainya seperti aku menyukai kamu dulu Kaf. Saat ini aku mulai menyayanginya seperti aku menyayangimu. Aku nggak paham sama semua rasa kecewa yang diberinya padaku, sesakitnya hatiku aku masih tetap tak bisa membencinya."

"Kamu mencintainya Ra," sahut Kafka dengan nada suara yang tulus bila didengar, bahkan tidak ada rasa kesal ataupun amarah yang dikeluarkannya.

"Tapi dia mencintai yang lain Kaf, dia hanya punya rasa kasihan padaku, bukan cinta."

Tanpa bertanya siapa, Kafka sudah tahu orangnya. Sudah pasti Regan.

"Tetap jaga rasa sukamu padanya semampumu, bila tak sanggup maka lepaskanlah. Bertahanlah sebisa yang kamu lakukan. Karena kamu telah memutuskan untuk jatuh cinta, maka kamu juga harus merasakan jatuh yang sebenarnya. Kamu harus ingat, bahwa tak semua rasa bisa terbalaskan."

Keira hanya mengangguk lalu menunduk menatap sepatunya cukup lama. Andai saja hatiku masih berpihak padamu Kaf, pasti semuanya tidak akan begini, pikirnya.

"Kamu semakin dewasa Kafka. Kamu sangat mudah memahami perasaan, tapi sayangnya kamu sempat tak menghargai perasaanku, tak mengindahkan kepercayaan padaku. Lalu saat itupula hatiku berkata, untuk apa sebuah hubungan jika tak berlandaskan kepercayaan?" batin Kaira.

To Be Continued..
Jangan lupa tinggalkan jejak!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 25, 2020 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Really LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang