"Na, gak ada yang ketinggalan kan?" Kirana menggeleng, kemudian duduk di jok belakang motor Ari. Sejak selesai shalat subuh tadi Ari sudah memberi ultimatum kalau ia yang akan mengantarkan Kirana ke kampusnya. Sebenarnya bisa saja gadis itu pergi dengan Fiko, toh mereka satu jurusan. Tapi alasan Ari terlalu banyak.
"Jangan nakal!" pesan Ari begitu Kirana turun dari motor.
Kirana yang sedang membuka helm pun cemberut, "Ana bukan anak SD lagi, Abang," ujarnya sambil mengulurkan helm. Ari menerimanya kemudian merapikan rambut adiknya.
"Iya, deh. Kamu hati-hati jangan cari masalah," pesan Ari lagi "Ck, kenapa pesannya gitu mulu. Emang aku pembuat onar apa?" balas Kirana.
"Hahahaha ... Kamu tunggu Fiko, bentar lagi dia sampai. Abang pergi dulu. Oke!"
"Yaaa. Abang belajar yang rajin ya, jangan yang lain-lain," pesan Kirana sebelum Ari menjalankan motornya.
Saat Kirana akan melangkah, sebuah motor berhenti tepat di sampingnya. "Abang, tunggu di parkiran sana." Fiko, yang baru saja datang menunjuk sebuah lahan parkiran yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Kirana mengangguk dan berjalan menuju perkiran.
Cuaca memang selalu panas meskipun masih pagi, bahkan jarak parkiran yang tidak terlalu jauh membuat Kirana dibanjiri oleh keringat.
"Yok, Bang!" ajak Kirana pada Fiko yang sedang menggeledah isi tasnya.
"Tahu gini, 'kan kamu mending sama abang aja," ucap Fiko sambil menyeka keringat Ana dengan sapu tangannya. Kirana tersenyum karena perhatian kecil dari Fiko, "Bang Ari 'kan begitu. Aneh," imbuhnya.
Fiko tertawa mendengar ejekan tentang Ari, "Jangan durhaka kamu!" tegur Fiko sambil terkekeh kemudian merangkul Kirana akrab berjalan menuju fakultasnya.
Akhirnya hari ini selesai tepat pukul lima sore. Kirana dan teman sekelasnya, Jani berjalan beriringan keluar menuju gerbang.
"Kesel elah. Masa udah ada tugas aja," omel Jani.
Kirana berdecak, "Kalau gak mau ya gak usah kuliah," ucap Kirana yang dibalas wajah cemberut Jani.
"Tapi kan gak gini juga. Biasanya kalau awal-awal itu masih pengenalan. Lah ini?" bantah Jani tak ingin disalahkan.
"Kalau bukan gitu gak kuliah namanya. Balik aja sana ke SMA," balas Kirana
"Eh, gue udah dijemput tuh," Jani menunjuk seorang yang sedang duduk di atas motor, "Gue duluan ya. Bye!" pamit Jani yang dibalas lambaian tangan oleh Kirana.
Setelah sepenuhnya keluar dari gerbang, Kirana mengedarkan pandangannya.
"ANA!!!" teriak seseorang dari seberang tempat Kirana berdiri. Sebuah mobil dengan kaca mobil yang terbuka menampakkan salah satu si kembar. Bergegas Kirana menghampiri mobil itu dan segera masuk ke jok belakang mobil.
"Dari tadi Bang?" tanya Kirana begitu ia masuk. Si Abang mengangguk, "Abang siapa sih?? Masa tiap ketemu Ana selalu nanya gini?" ujar Kirana memberengut pasalnya sudah tiga hari mereka serumah tapi Kirana masih belum bisa membedakan mana Gio dan Igo.
Si Abang terkekeh, "Gini, An. Aku Gio. Kamu bisa bedain dari lihat warna gelang kami," Gio mengangkat tangannya menunjukkan gelang yang dimaksud, "kalau aku warna hitam sedangkan Igo warna dongker. Ngerti?" Kirana ber-oh sambil mengangguk paham.
"An, pindah depan dong, kelihatan banget abang supirnya, kalau kamu di belakang," pinta Gio.
"Oke," Kirana kemudian mengangkat roknya –beruntung gadis itu memakai legging, kemudian melangkah menuju kursi samping kemudi.
"Nekat banget sih," ucap Gio sambil menggeleng. Kirana terkekeh. Kemudian Gio menjalankan mobilnya.
"Bang, aku tidur dulu ya. Capek," Gio mengangguk kemudian sebelah tangannya merogoh sesuatu di belakang jok tempat duduk Kirana, mengeluarkan selimut, kemudian dengan satu tangan menyelimuti Kirana yang telah jatuh tertidur.
Dua puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Gio berhenti tepat di rumah mereka.
Belum sempat mematikan mesin, pintu kacanya sudah diketuk tidak sabaran.
"Yoo. Buka!!!" ujar Ari tidak sabaran, Gio mendengus sebal "Sabar kali, Ri."
Begitu pintu dibuka, Ari langsung berlari pada pintu di sisi Kirana. "Lama banget sih, harusnya sepuluh menit tadi udah nyampe," gerutu Ari sambil mengangkat Kirana. Bukannya terbangun, Kirana semakin terlelap dalam gendongan Ari.
Lagi-lagi Gio mendengus, "Macet woiii," Ari hanya mengangkat bahu acuh.
Memasuki rumah, Ari ditatap oleh semua penghuninya, "Ketiduran?" tanya Andri, Ari mengangguk, kemudian membawa Kirana menuju kamar gadis itu.
10 Maret 2020
KAMU SEDANG MEMBACA
Kirana
General Fiction[Selesai] Kisah singkat Kirana yang tinggal bersama sembilan abangnya
