🎶 Shape of You- Ed Sheeran
***
Perjalanan mereka memakan waktu hampir satu malam. Mereka sampai di Surabaya pukul empat pagi. Melisa sudah terlelap semenjak mereka berhenti di rest area tol untuk istirahat tadi. Melati? Dia sesekali bangun untuk memastikan sudah sampai di mana. Yanti bundanya juga melakukan hal yang sama. Tinggal Darwin dan Malik yang tidak tidur.
"Hei, bangun anak-anak kita sudah sampai di rumah nenek," ucap Yanti pada kedua putrinya yang tertidur. Perlahan kedua putrinya itu membuka mata, lalu mengucek-ucek nya. Melati menguap ngantuk.
"Kita sudah sampai Dek. Cepat bangunin Meli. Biar tidurnya di dalam," timpal Malik pada Melati yang sudah bangun. Segera Melati membangunkan Melisa. Yanti, Melati dan Meli sudah masuk ke rumah. Sedangkan ayahnya dan Malik mengangkat barang-barang yang di bawa ke rumah.
Tok...tok...tok...
Yanti mengetuk pintu rumah mertuanya itu. Tidak lama kemudian seorang wanita paruh baya datang membuka pintu itu.
"Eh, ada Bu Yanti. Ayo masuk, masuk Bu," ucapnya ramah sambil membantu Malik mengangkat barang itu.
"Ibu di mana Bi? Masih tidur ya?" tanya Darwin pada pembantu yang kerap di panggil Bi Marni.
"Bukan Pak, nyonya sedang di dapur," jelas Bi Marni.
Darwin hanya ber oh ria. Mereka semua sudah duduk di sofa ruang tamu. Menunggu pemilik rumah.
"Eh, kalian sudah datang toh, sudah lama sampai nya?" tanya wanita yang sudah menginjak umur enam puluh lima tahun itu.
"Nenek!!" teriak Melati dan Melisa bersamaan. Mereka berdiri dan memeluk wanita tua itu.
"Iya ibu," jawab Darwin.
"Ya sudah, kalian pasti capek kan? Yang mau tidur, tidur saja di kamar," ucap wanita itu.
"Malik, kamu tidak rindu kepada Nenek?" Wanita tua itu melihat Malik yang tidak bergerak sedikit pun untuk menyapa atau memeluknya seperti yang dilakukan kedua cucu perempuannya.
"Setelah giliran perempuan-perempuan selesai, baru laki-laki Nek,"balasnya dengan cengirannya. Wanita tua itu hanya menggelengkan kepalanya.
Yanti menyalam dan memeluk mertuanya itu. Darwin sudah pergi beranjak ke kamar, setelah Malik memeluk neneknya dia juga menyusul untuk tidur. Yanti dan Melisa juga begitu.
Tinggal lah Melati dan neneknya.
"Mmm, Nek! Dia masih sering ke sini?" tanya Melati langsung ke intinya.
"Dia? Dia siapa?" tanya nenek nya seperti ambigu. Padahal sebenarnya dia tahu siapa yang dimaksud oleh cucunya itu.
"Nenek... Masa Nenek nggak tahu? Ih.." Melati kesal neneknya lupa. Padahal neneknya yang dulu sering menjodohkannya dengan orang yang dimaksud gadis itu. Ira neneknya mengulum senyumnya ,lalu menjawab," Batara sudah jarang ke sini. Jika kamu lupa dia kuliah di Yogya."
Melati menepuk jidatnya. "oh iya, Melmel lupa Nek," ucapnya dengan cengirannya.
"Sepertinya cucu nenek terlalu suka kepada pria tampan itu," ejek Ira dengan mencolek hidung cucunya.
"Apaan sih Nek, ya nggak mungkinlah aku lupa sama dia. Soalnya, ya..." Melati tidak melanjutkan perkataannya. Neneknya sudah tahu apa maksudnya.
"Jodoh tidak akan ke mana. Jika Batara memang jodohmu, dia akan datang ke sini besok pagi. Jika dia tidak datang berarti dia bukan jodohmu," ucap neneknya dengan penuh misteri.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝑷𝒆𝒍𝒖𝒌𝒂𝒏 𝑺𝒂𝒂𝒕 𝑺𝒆𝒏𝒋𝒂 (𝙀𝙉𝘿)
Novela Juvenil𝘞𝘢𝘳𝘯𝘪𝘯𝘨 ❗ 🚫𝘊𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘜𝘞𝘜 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶𝘵, 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘣𝘢𝘤𝘢!🚫 🚫𝐒𝐒𝐄𝐁𝐀𝐆𝐈𝐀𝐍 𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐃𝐈𝐏𝐑𝐈𝐕𝐀𝐓, 𝐅𝐎𝐋𝐋𝐎𝐖 𝐒𝐄𝐁𝐄𝐋𝐔𝐌 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐀𝐂𝐀...
