Pagi itu cahaya sang mentari tak begitu cerah. Semilir angin pagi terasa sangat dingin menerpa kulit, membawa hawa tidak nyaman bagi tubuh. Alya dan Libra sudah siap terbang menuju Singapore untuk mengurus kelanjutan proyek pabrik tekstilnya yang bekerja sama dengan salah satu perusahaan ternama di sana. Proyek yang hampir gulung tikar karena sebuah kesalahan yang tak disengaja.
Satu menit. Dua menit. Pesawat yang akan mengantar mereka menuju Singapore telah bergerak meninggalkan bandara Juanda. Mereka begitu menikmati keindahan alam semesta yang begitu mempesona, hamparan lautan nan luas membiru, deretan pegunungan yang berjejer rapi, menatap lekat langit-langit yang membentang luas di angkasa sana lewat bingkai jendela pesawat.
"Subhanallah...."
Sesekali terdengar dzikir mereka. Takjub akan keindahan itu. Bersyukur karena masih diberi kesempatan merasakan nikmat yang begitu agung itu.
Dua jam berlalu. Pesawat itu mulai menurunkan tubuhnya di bandara Changi. Alya dan Libra telah tiba di Singapore.
Nasib buruk itu dimulai. Mobil yang biasa menjemput mereka ke bandara ternyata tidak ada. Tak ada banyak waktu bagi mereka untuk menunggunya. Mereka sudah berjanji akan tiba tepat waktu. Mereka mencari mobil angkutan umum, walaupun mereka tahu konsekwensi yang akan mereka alami. Mereka akan sedikit terlambat. Tak sulit mendapatkan mobil angkutan disana. Hanya butuh waktu lima detik mereka sudah berada dalam mobil angkutan berwarna merah menuju tempat proyek mereka.
Setibanya disana, satu kejanggalan kembali mengusik hati mereka. Direktur perusahaan itu tiba-tiba menjadi pendiam dan tak ramah lagi. Tatapan menyeringai begitu membuat hati mereka gelisah. Mereka menelan ludah.
"Saya tidak pernah menyangka bahwa kalian tak lebih dari srigala yang berbulu domba." Kata-kata direktur itu menusuk hati mereka.
Alya dan Libra bersitatap. Menggigit bibir. Mengedarkan pandangan ke arah sekumpulan berkas-berkas yang dilemparkan sang direktur. Seketika rasa penasaran menyergap mereka. Ingin tahu apa dibalik kemarahannya.
Kenyataan pahit yang begitu menyakiti hati mereka. Ada yang telah merubah isi dari berkas-berkas tersebut. Sang direktur menganggap mereka sebagai penjahat yang akan menguras habis kekayaannya. Libra dituduh sebagai seorang koruptor yang telah memakan hampir separuh dana yang telah diberikan direktur itu untuk pembiayaan proyek barunya di sini.
Bola mata keduanya membulat. Sungguh benar-benar di luar dugaan mereka, rekayasa berkas-berkas itu seolah nyata. Sejenak suasana menjadi hening. Yang tersisa hanya detakan jam dinding yang semakin melengking. Menambah kesunyian waktu itu.
Sesaat kemudian, terdengar langkah seseorang memasuki ruang kerja direktur itu. Wajah Alya dan Libra memucat. Sungguh, hal ini begitu menggores hati mereka.
Salah seorang dari anggota kepolisian Singapore menyeret Libra dengan kasar. Tak mempedulikan Alya yang mengejarnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Alya tersungkur di pelataran perusahaan yang megah itu. Tak dapat mencegah Mereka membawa Libra.
Sebilur air mata mengalir di pipinya. Dia beranjak memasuki kembali ruang kerja direktur itu. Wajah itu menatap tajam Alya. Tatapan tidak suka, benci dan entahlah... tatapan apa itu.
"Saya minta ma'af jika hal ini membuat anda terpukul, tapi saya berharap anda tidak akan menyesal telah mengambil keputusan ini."
Alya meninggalkan tempat itu. Seluruh kekuatannya seakan lenyap begitu saja. Perjalanan selama berjam-jam dari Indonesia ke Singapore, perjalanan yang begitu melelahkan, perjalanan yang membutuhkan kesabaran ekstra karena harus mampu melawan rasa bosan di pesawat selama beberapa waktu, kini tak ada artinya lagi. Semuanya telah hancur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bidadari Surga 2 (Tamat)
General FictionMasih menceritakan kisah perempuan hebat yang menjadi kebanggaan suaminya. Kisah ini kelanjutan dari bidadari surga satu, tapi, ini versi anaknya Farhan dan Najwa, yaitu Alya.
