"Sayang makan dulu."
Libra menemui Alya di ruang kerjanya, untuk mengajaknya makan bersama.
"Aku lagi gak mood makan mas."
"Ya sudah kita ke dokter sekarang, mas takut terjadi sesuatu sama kamu sayang."
"Kenapa harus ke dokter segala sih mas."
"Sayang... kamu tadi hampir saja jatuh gara-gara pusing, sekarang kamu tiba-tiba gak mood makan, itu artinya ada yang gak beres dengan kesehatan kamu sayang."
Alya mendekati Libra lalu erat. Erat sekali.
"Mas... Aku yakin aku baik-baik saja, mas gak usah khawatir."
"Ya sudah kita makan sekarang."
Alya menarik tangan Libra. Berusaha mengalihkan pembicaraan agar Libra tak memperpanjang masalah kesehatannya. Dia tetap menjaga sikapnya. Tetap berusaha menikmati makanan yang sudah dipesannya meski pencernaannya tak dapat menerimanya.
***
"Ya Allah... apa yang telah hamba alami selama ini benar-benar menjadi sebuah kejutan yang sangat indah dalam hidup hamba."
Dia menatap lekat wajah Libra yang sedang tertidur pulas. Betapa ingatan itu masih saja melekat dalam otaknya. Sejak pertama mereka bertemu Alya memang telah merasakan hal yang berbeda di hatinya. Melihat sikap Libra yang aneh itu, tak tahu mengapa hatinya berkata bahwa dialah yang harus mengubah sikapnya. Sesekali Alya membelai lembut rambutnya.
"Aku ikuti setiap jeritan hatiku, aku berusaha bersabar menghadapi sikap kamu walaupun jika boleh jujur aku sakit hati dengan sikap kamu dulu mas, aku ikuti setiap saran dari dua orang sahabat kamu Mita dan Dara, aku kabulkan permintaan papa kamu meski aku merasa berat dan aku yakin hati aku bakalan sakit mas."
"Dari awal aku tidak pernah menyangka kalau jalan hidupku akan seperti ini. Aku masih ingat betapa angkuhnya kamu dulu, mempertahankan sebuah persepsi yang salah tentang seorang perempuan."
"Sampai-sampai dua orang karyawanmu pergi karena gak kuat sama sikap kamu."
Alya tersenyum tipis.
"Tapi akhirnya hati kamu bisa luluh juga setelah kepergian mereka, ya walaupun harus dengan hadirnya pertengkaran di antara kita."
Alya tersenyum kembali, masa-masa yang telah dilaluinya begitu indah untuk dikenang. Sebuah perjalanan takdir yang tak dapat diketahui setiap orang dan hanya Allah lah yang tahu telah mengantarkannya menuju kebahagiaan yang sangat didambakannya. Alya benar-benar tidak menyangka bahwa kehadiran dirinya dalam hidup Libra bisa mengubah semuanya.
Alya tidak menyangka kalau mereka bisa bersatu seperti saat ini, karena teman-teman Libra bilang kepribadian antara Libra dan Alya sangatlah bertolak belakang dan tidak mungkin bisa disatukan, tapi karena tak ada yang mampu melawan takdir yang telah Allah gariskan semuanya terjadi begitu saja.
Alya juga sangat bersyukur kepada Allah, karena dia diberi kemampuan oleh Allah untuk menghadapi setiap rintangan yang menghadang jalan mereka, Alya mampu melewati setiap konflik yang muncul dalam hubungan rumah tangganya dan Libra.
"Tapi.... sanggupkah aku menjalani derita ini sendiri mas?"
Begitu kata Alya yang membuat bulir demi bulir air matanya mulai menumpuk di pelupuk matanya.
"Aku menderita gagal ginjal mas." Suaranya mulai terdengar parau karena menangis.
"Aku bingung apakah aku harus cerita atau tidak kepada kamu, tapi... Aku tidak ingin kamu terbebani mas."
Alya membiarkan air matanya meleleh sederas mungkin sambil terus menatap wajah suaminya.
"Nggak, aku sanggup mas, aku pasti bisa menjalani deritaku ini sendiri. Aku sayang sama kamu mas."
Alya menyeka air matanya, lalu merangkul tubuh suaminya, lalu mencium lembut keningnya.
"Sayang... kok gak tidur?" Libra terbangun dari tidurnya.
"Emm... ini tadi aku habis dari kamar mandi."
"Tumben.... biasanya baru jam tiga yang mau ke kamar mandi?"
"Memang kenapa sih mas, ada yang salah?"
Alya kembali memeluk Libra.
"Aku kangen sama kamu mas..."
"Sayang kamu ini aneh deh, mas kan ada disini."
"Ya sudah ayo tidur lagi ntar kesiangan."
#####
KAMU SEDANG MEMBACA
Bidadari Surga 2 (Tamat)
Genel KurguMasih menceritakan kisah perempuan hebat yang menjadi kebanggaan suaminya. Kisah ini kelanjutan dari bidadari surga satu, tapi, ini versi anaknya Farhan dan Najwa, yaitu Alya.
