Waktu pun telah mengantarkan mereka pada saatnya mereka menghadap kepada pencipta mereka. Azan Magrib telah berkumandang.
Keduanya pun melaksanakan salat Magrib berjemaah dan mulai terlarut dalam kekhusyukan masing-masing.
Usai berjemaah mereka memanjatkan doa-doa mereka kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
***
Sehabis melaksanakan salat Isya, Alya mulai menyibukkan diri untuk menyiapkan makan malam. Mereka pun makan dan setelah itu Alya mengantar sang ayah ke kamar tidurnya serta menemaninya hingga terlelap.
Beberapa waktu kemudian, ayahnya sudah tertidur. Alya mulai membuka kembali laptopnya dan mengotak atiknya. Dia memulai kembali aksinya untuk mencari daftar nama perusahaan yang masih membutuhkan pekerja. Namun, hingga larut malam dia tidak kunjung menemukan apa yang dicari. Kantuk pun menyergap. Sesekali ia menguap.
Sebelum dia memutuskan untuk tidur, gadis itu menyempatkan sedikit waktunya untuk melihat sang ayah yang sudah terlelap lebih dahulu. Tanpa terasa air matanya menetesm begitu melihat sang ayah sangat nyenyak dalam tidurnya. Perlahan dia merapikan selimut ayahnya lalu mencium lembut kening ayahnya.
“Ayah, Alya janji ... Alya akan berusaha semampu Alya untuk membantu Ayah. Alya ingin Ayah segera sembuh, Alya ingin main kayak dulu lagi sama Ayah,” lirihnya, sembari terus memandang wajah asri sang ayah.
Malam makin larut, suasana makin sunyi dan sepi. Alya kembali ke kamarnya hendak beristirahat. Namun, kantuk itu berhasil terkalahkan oleh kemauan Alya untuk tetap mencari alamat perusahaan untuknya bekerja. Bahkan, dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan tidur sebelum dia menemukan apa yang dicari.
Kini, tinggallah suara detakan jam dinding dan suara keyboard laptop Alya yang makin menggema memenuhi kamar Alya. Meskipun kantuk selalu menghampirinya, dan dia sesekali menguap hingga kedua sudut matanya meneteskan air mata. Akhirnya dia memutuskan beranjak menuju kamar mandi dan mengambil wudu. Lalu melaksanakan salat dua rakaat dan terlarut dalam kekhusyukannya bermunajah kepada Sang Pencipta alam semesta. Air matanya meleleh di pipinya. Ia biarkan saja air mata itu tumpah di atas hamparan sajadahnya malam itu.
“Ya Allah ... berikanlah ayah hamba kekuatan untuk melewati ujian ini, hamba sangat menyayanginya, Ya Allah .... Pertemukanlah hamba dan ayah hamba nanti dengan Ibu dan keluarga-keluarga hamba, Ya Allah.”
Doa yang selalu dia panjatkan setiap pertengahan malam. Dia sangat merindukan ibunya.
Sejurus kemudian dia telah membereskan mukenanya dan memulai kembali usahanya untuk mencari lowongan pekerjaan. Dengan membaca basmalah dia mulai mengotak-atik laptopnya.
“Alhamdulillah ...,” lirihnya, ketika dia menemukan alamat sebuah perusahaan di kawasan Kamal.
Hatinya merasa lega. Malam itu juga dia menyiapkan segala keperluan yang akan dia bawa, mulai dari fotokopi ijazah terakhir, akta kelahiran, KTP dan lain-lainnya.
Setelah itu dia meraih Al-Qur’an pemberian ayahnya dahulu saat dia baru menyelesaikan lomba tahfizul qur’an-nya di Surabaya dengan prestasi yang sangat gemilang. Hari itu menjadi hari bersejarah dalam hidupnya walaupun dahulu dia sudah tidak ditemani oleh sang ibu tercinta. Ibunya meninggal dunia saat melahirkannya. Al-Qur’an itu masih terawat dengan baik.
Lalu dia pun membaca ayat demi ayat dari surah Maryam. Jam menunjukkan 03.30. Terdengar suara kran dihidupkan dari arah kamar mandi ayahnya. Dia tahu bahwa ayahnya adalah seorang yang ahli salat malam. Tidak ayal saat-saat seperti ini sudah terdengar suara kran dihidupkan.
Sejurus kemudian sayup-sayup ia mendengar suara yang sangat enak didengar telinga sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara tartil yang tidak lain adalah suara ayahnya. Dia sangat bersyukur mempunyai ayah sepertinya. Dia melangkahkan kaki memasuki kamar ayahnya. Seketika itu ayahnya menghentikan bacaan Al-Qur’annya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bidadari Surga 2 (Tamat)
Fiksi UmumMasih menceritakan kisah perempuan hebat yang menjadi kebanggaan suaminya. Kisah ini kelanjutan dari bidadari surga satu, tapi, ini versi anaknya Farhan dan Najwa, yaitu Alya.
