21. Masih Honeymoon

248 14 0
                                        

Udara hangat yang berembus mengenai wajah Fiza, membuat wajah gadis dengan mata terpejam ini mengernyit. Tidurnya terusik. Fiza pelahan membuka matanya ingin tahu udara apa yang meniup wajahnya.

Ketika kedua mata itu terbuka betapa terkejutnya Fiza saat melihat wajah Ilham dan wajahnya sangat berdekatan. Hanya tersisa beberapa senti lagi agar bersentuhan.

“Aaaaa!” Gadis itu berteriak dan lekas merubah posisi menjadi duduk.
Ilham yang terkejut dengan suara keras Fiza lantas bangun dengan tergesa-gesa.

“Ada apa?” tanya Ilham yang terheran-heran melihat Fiza. Lelaki ini masih berproses mengumpulkan penuh kesadarannya.

Gadis itu menutup dadanya dengan selimut. Ia jadi takut kalau Ilham menyentuhnya.

“A’a ngapain tidur di kasur?”

Pertanyaan Fiza membuat Ilham memperhatikan sekitarnya. Pria ini mengusap wajah.

“Maaf, saya ketiduran, tapi saya nggak ngapa-ngapain kok. Cuma tidur aja.”

Fiza meremas selimutnya, “nggak bohong ‘kan?”

Ilham menggeleng. Fiza menghela napas.

Oke, saya percaya.”

Sekarang Ilham yang bisa bernapas lega. Fiza tidak marah pada dirinya. Pemuda itu meraih jam tangan yang tergeletak di nakas. Ia mengecek jamnya.

“Baru jam empat pagi.” Ilham bergeser ke tepi ranjang dan meletakkan kembali jam itu pada tempat semula, “saya mau ke kamar mandi dulu.”

Fiza masih saja memperhatikan pergerakan lelaki itu. Ia sangat menghindari Ilham karena kejadian barusan masih membuatnya syok.

Ketika Ilham sudah masuk ke kamar mandi. Fiza membaringkan tubuhnya lagi di kasur, bermaksud untuk melanjutkan tidur. Ia tutup seluruh tubuh dengan selimut dan menggenggam tepi selimut dengan kuat, lalu memejamkan mata.






•••




Ilham memotret beberapa tempat dengan kamera yang menggantung di lehernya. Sedangkan Fiza ada di sebelahnya. Gadis itu menatap sedikitar dengan terpesona. Nampaknya candi-candi yang berjejer di sana berhasil membuat Fiza takjub.

Saat ini pengunjung tempat wisata Candi Borobudur tidak terlalu ramai. Mungkin, karena bukan masa libur sekolah.

“Kamu pernah ke sini sebelumnya?” tanya Ilham membuat dirinya menjadi fokus Fiza.

“Pernah, udah lama banget. Waktu study tour SMA.” Fiza tertawa pelan, “dulu candi-candinya dalam tahap perbaikan gitu. Sekarang udah bagus.”

Ilham mengangguk mengerti. Ia melihat ke arah kamera yang sedang dipegangnya, lalu kembali menatap Fiza. Istrinya itu sudah melihat ke arah lain lagi.

Pria ini mengambil beberapa foto tanpa sepengetahuan gadis itu. Kemudian ia mencolek lengan Fiza. Membuat Fiza menoleh kembali.

“Ada apa?”

“Kamu mau difoto?” Ilham menunjukan kamera di tangannya.
Dengan semangat Fiza mengangguk, “Di sana!” ia menunjuk spot yang bagus.

Suaminya itu menyetujui saja. Fiza berlari mendekati salah satu candi dan Ilham mengekorinya.

Ia bergaya dan Ilham menjadi photografernya. Mereka lanjut berkeliling tempat itu. Terkadang Ilham menjelaskan sejarah tentang candi itu pada Fiza. Sebenarnya gadis ini juga sudah tahu, tapi ia tetap menyimak dan sesekali menimpali.

Akhirnya mereka keluar dari kawasan candi. Tidak lupa mengembalikan kain batik yang diikat ke pinggang saat melewati pintu keluar.

Fiza merasa lelah sekali setelah berkeliling selama satu jam. Ia berhenti dan duduk pada kursi yang tersedia di pinggir jalan.

“Istirahat dulu ya, A.” Fiza menatap Ilham dengan memelas. Agar suaminya memberi kesempatan untuk duduk dulu di sana.

Ilham mengangguk, lalu tiba-tiba pergi begitu saja.

“Lah, A' mau ke mana?” teriak Fiza.

“Kamu tunggu aja di situ!”

Fiza pikir mungkin Ilham mau ke kamar mandi. Karena sudah dipesan suruh tunggu saja. Gadis ini benar-benar bersantai di tempatnya duduk.

Tidak lama Ilham kembali dengan kedua tangan memegang botol minuman. Sekarang Fiza mengerti kalau Ilham mencarikan minum untuknya. Kalau dilihat mundur ke belakang Ilham memang sangat perhatian padanya. Lama-lama bisa baper juga ini.

Fiza menggeleng kuat dengan menutup matanya. Ia harus cepat menghapus perasaan itu. Dia ‘kan tak suka Ilham. Perjodohannya terpaksa. Ia masih berharap dapat kembali pada Aidan walau kesempatan itu sangat kecil.

“Kamu kenapa?” tanya Ilham yang melihat Fiza menggeleng tidak jelas. Gadis ini terkejut, lelaki itu sudah ada di depannya. Ia menggeleng lagi dengan wajah polos. Ilham mengulurkan salah satu botol minumnya, “buat kamu!”

Nuhun.” Fiza menerima botol minumnya.

Ilham duduk di sebelahnya dan Fiza bergeser sampai ke paling ujung. Lelaki itu melihatnya aneh. Gadis ini cuek saja sambil meminum minumannya.

Mereka saling diam sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.

“A' saya boleh tanya?” Fiza kembali bersuara.

Ilham menoleh, “mau tanya apa?”

“A’a gay ya?”

Dahi pria berkemeja biru itu berkerut. Ilham berusaha mencerna pertanyaan istrinya.

“Jangan marah dulu. Saya hentue maksud menghina kok. Saya sangat menghormati semua kesukaan orang.”

Ilham tertawa tanpa suara dibuatnya, “kamu kenapa bisa punya pikiran seperti itu?”

Sebelum menjawab Fiza mendeguk minumannya lagi. “Terus kalau nggak gay apa dong? Nggak normal? Padahal A'a itu ganteng, pekerjaan bagus, mapan, tinggi, dan soleh. Semua yang cewek-cewek mau itu ada di A'a, tapi kenapa malah A'a mau dijodohkan? Nggak mungkin A'a nggak laku ‘kan?”

“Jadi saya ini ganteng? Berarti kamu mau dong sama saya?”

Pertanya Ilham membuat Fiza jadi salah tingkah.

“Ih A'a kok malah nanya balik sih? ‘Kan Fiza yang lagi nanya.”Protes gadis ini membuat Ilham tertawa geli.

“Saya punya dua jawaban.”

“Apa itu?” Fiza mencondongkan tubuhnya ke Ilham.

Pria ini membenarkan posisi duduknya. Menatap serius ke arah sang istri.

“Pertama.” Ilham mengacungkan jari telunjuknya, “ini permintaan orang tua saya. Terutama Abi. Mereka sangat berarti buat saya. Sama seperti kamu ke Bunda. Nggak mungkin saya menolak permintaan mereka. Dari kecil saya sudah diurus, sekolahkan, disayang, dan dididik hingga menjadi seperti sekarang. Ini kesempatan saya untuk membalas jasa mereka. Menikahi kamu.”

Fiza bergeming mendengar penjelasan Ilham. Namun, saat Ilham melanjutkan kata-katanya gadis itu mengalihkan pandangan.

“Kapan lagi coba saya bisa membalas jasa mereka? Jadi, saya pikir ini kesempatannya.”

“Terus yang kedua apa?” tanya Fiza kembali menatap Ilham.

“Takdir.”

Fiza mengerutkan dahinya.

“Mungkin semua ini sudah menjadi takdir kita yang ditetapkan oleh Allah. Siapa sangka kamu pasien saya yang jutek sekarang jadi istri saya.”

Gadis itu menatap tidak suka pada Ilham, “habisnya A'a ngeselin awal ketemu.”

Ilham tertawa lagi.

“Jadi, A'a itu nggak punya pacar atau gebetan gitu? Nggak ada yang naksir juga?”

“Pacaran dilarang oleh Allah. Kalau yang suka mungkin ada, tapi saya nggak tahu.”

“Hmm.” Fiza bergumam, “A’a ini sejenis makhluk yang nggak peka juga ternyata.”

“Sudah ayo, lanjut!” Ilham berdiri dan menunduk menatap Fiza yang masih duduk, “kamu mau ke mana lagi?”

“Situ dulu yok! Liat pernak-pernik.” Fiza melangkah lebih dulu meninggalkan Ilham.

Sebenarnya jawaban Ilham ada tiga. Yang terakhir karena Ilham terpesona oleh Fiza saat pertemuan pertamanya. Namun, bagi pria ini cukup ia yang tahu semua itu.





•••






11 mei 2020

Takdir AllahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang