Bagian tiga puluh enam

49.1K 2.5K 176
                                        

Happy reading 💚






Kanaya masih diam dan menatap sendu jalanan dari kaca mobil Libra. Semua kejadian tadi masih terekam jelas di memori Kanaya. Nathan yang membentak dirinya dan mengusir dirinya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ini semua salah paham!

Kanaya tidak mungkin selingkuh dengan Libra. Libra hanya datang kepadanya dan memberikannya informasi bahwa kakaknya sedang kritis di rumah sakit.

Kanaya menangis mendengar kabar itu, dan refleks saja Libra memeluknya untuk menenangkan dirinya. Tapi Nathan datang dan salah paham atas apa yang di lihatnya.

Libra melirik ke arah Kanaya dengan ujung matanya. Libra menghela nafasnya. Ia kesal dengan Nathan yang mengumpulkan sesuatu hanya dari apa yang dia lihat.

"Percaya sama gue Nathan cuma lagi emosi aja" ucap Libra berusaha menenangkan Kanaya.

Namun tidak ada jawaban dari Kanaya, gadis itu hanya diam sambil memandangi jalanan.

Mobil Libra sudah terparkir rapi di basemen rumah sakit. Libra melepas sabuk pengaman nya laku ia menatap Kanaya. "Turun yuk udah sampe" ajak Libra.

Kanaya yang mendengar itu pun menghapus jejak air mata nya dan membuka sabuk pengaman nya.

Blam!

Pintu mobil itu pun tertutup rapat.

Setelah itu kedua orang itu masuk ke dalam rumah sakit. Kanaya dengan kaki yang bergetar berjalan menuju lorong rumah sakit. Libra yang peka akan hal itu pun menggandeng tangan Kanaya agar gadis itu tidak jatuh.

Mereka berdua berhenti pada ruangan rawat khusus. Sebelum masuk ke ruangan itu Libra dan Kanaya di anjurkan oleh perawat untuk memakai bajunya khusus yang steril.

Perlahan Kanaya membuka pintu ruang rawat itu dan tiba-tiba kakinya kehilangan tenaga. Ia merasa lemas bahkan ia sudah berlutut di lantai kala melihat kakaknya yang terbaring lemah di kasur rawatnya dengan beberapa alat medis.

Kanaya menangis tanpa suara tapi air matanya dapat menunjukan bahwa durinya sedang menangis. Libra membantu Kanaya unjuk berdiri dan memapahnya berjalan.

"K-kakak" panggil Kanaya dengan nada lirih.

Alana yang merasa di panggil pun membuka matanya dengan perlahan. Wanita itu menyunggingkan senyum lemahnya kala melihat adik kesayangannya yang berada di sampingnya.

"K-kanaya, m-maaf" ucap Alana dengan nada tersendat-sendat.

Kanaya menggelengkan kepalanya sambil sesekali mengusap air matanya yang semakin deras turun dan membasuh pipinya. "Hiks, enggak kak. Kakak gak perlu minta maaf. Kakak gak salah, Naya yang harusnya minta maaf karna gak bisa jaga kakak" ucap Kanaya.

Alana hanya tersenyum mendengar ucapan adiknya namun tanpa sadar sudut matanya mengeluarkan air mata.

"Kak, kakak bakalan sembuh kan? Kakak janji mau ada dan jagain Kanaya terus. Iya kan kak?" Tanya Kanaya.

Libra mengelus pundak Kanaya berharap gadis meredakan tangisnya.

Lagi-lagi Alana hanya tersenyum dengan air mata yang semakin deras.

"K-kanaya, kamu bahagia kan? N-nathan b-baik kan sama kamu?" Tanya Alana mengalihkan pembicaraan nya.

Kanaya dengan ragu mengangguk. "N-nathan baik, Naya bahagia. Apalagi kalau kakak sembuh"

"M-maaf" lirih Alana.

Tangan dingin Alana mengusap air kata Kanaya. "J-janji sama kakak kalau kamu bahagia" pinta Alana.

UnfairCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang