"Kanaya?" Panggil Nathan.
Gadis itu tersenyum.
"Kanaya! Kamu beneran Kanaya kan?"
Gadis itu lagi-lagi mengangguk.
Nathan bahagia, ia memeluk Kanaya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di curuk leher milik Kanaya. "Kata dokter, kamu meninggal Nay. Kamu meninggal setelah melahirkan anak kita. Dokter itu bohong kan? Buktinya kamu sekarang sehat-sehat aja!"
Kanaya lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengar perkataan Nathan.
"Kanaya aku mau minta maaf sama kamu atas semua sikap aku ke kamu, aku tau aku jahat, aku brengsek, kamu boleh pukul aku sepuasnya bahkan kamu bunuh aku juga gak apa-apa asal kamu mau maafin aku" ucap Nathan.
"Aku bener-bener nyesel Nay, aku nyesel pernah lakuin semua itu ke kamu. Hati aku sakit ketika ngeliat kamu penuh darah kemarin aku merasa gagal jadi seorang laki-laki. Aku malu sama kamu Nay, seharusnya kamu gak ngelakuin semua itu buat laki-laki brengsek kayak aku. Seharusnya aku yang di tabrak mobil itu, bukan kamu. Aku minta maaf Nay, dan soal surat kontrak itu. Lupain aja surat itu! Karna itu gak penting"
Nathan bersujud di kaki Kanaya sambil menangis, Kanaya yang melihat itu pun menbawa Nathan untuk kembali berdiri.
"Nathan, aku udah maafin kamu jauh sebelum kamu minta maaf. Jadi tolong jangan minta maaf lagi. Lagi pula aku ngelakuin semua itu karna keinginan aku Sendiri. Aku gak mau kamu terluka Nathan, seharusnya aku yang minta maaf sama kamu karna selama ini udah buat hidup kamu acak-acakan. Tapi kamu tenang aja, setelah ini aku gak akan ganggu hidup kamu lagi sesuai permintaan kamu" jawab Kanaya.
Nathan menggeleng. "Enggak Nay! Aku gak mau kamu pergi! Kamu gak boleh pergi! Kamu harus sama aku dan ngerawat anak kita sama-sama!" Pekik Nathan.
"Kamu gak boleh ninggalin aku Nay, aku cinta kamu! Kamu jangan pergi kemana mana!"
Kanaya tersenyum mendengar itu. "Aku juga cinta kamu Nat, tapi sekarang tempat kita berbeda Nathan dan kamu gak seharusnya ada di sini"
"Kamu ngomong apa sih Nay?! Ayo kita pulang, kamu belum liat anak kita kan?!" Tanya Nathan sambil menarik tangan Kanaya.
Kanaya melepaskan genggaman tangan Nathan secara halus membuat Nathan menyerit heran. "Gak bisa Nathan, aku gak bisa pulang. Tempat aku di sini sekarang" jawab Kanaya.
"Nay–"
"Nathan terimakasih telah mengisi hari-hari aku selama delapan bulan ini, trimakasih telah hadir di hidup aku. Dan sampaikan juga terimakasih aku buat Libra, ibu, bapak, Arjuna, dan juga Bulan. Bilang sama mereka aku menyayangi mereka"
"Nay kamu apa-apaan sih! Ayo pulang, dan kamu bilang sendiri sama mereka"
Kanaya menggeleng lantas ia tersenyum. "Maaf" ucap Kanaya.
"Kamu gak perlu minta maaf Nay, aku gak perlu maaf kamu, yang aku butuhin itu kamu! Please Kanaya jangan pergi, jangan tinggalin aku. Kamu tega ninggalin anak kita? Please Kanaya aku cinta kamu, aku janji gak akan bersikap kasar lagi sama kamu, aku janji bakalan sayangin kamu, cintain kamu, aku janji Nay. Please stay with me" lirih Nathan.
Kanaya tersenyum miris. "Nathan, aku gak pergi kok. Aku tetap ada di sini" Kanaya menujuk dada Nathan. "Aku tetap ada di hati kamu, dan aku gak akan bisa pergi selama kamu masih mencintai aku. tapi maaf aku gak bisa ada di samping kamu karna sekarang kita berbeda, dunia ku bukan lagi dunia mu begitu juga sebaliknya. Tapi percaya sama aku kalau aku akan selalu mengawasi kamu dari jauh dan tersenyum di balik indahnya awan" ucap Kanaya.
"Nay–"
"Kanaya ayo!!!" Pekik seorang wanita yang tak kalah cantik dari Kanaya. Wajahnya cerah dan berseri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Unfair
Fiksi Remaja[Squel Vanya] [16++] [Part Lengkap] [follow sebelum membaca] Kejadian 'malam itu' membuat Kanaya harus menikah dengan cowok yang telah membuat hidupnya dan masa depan nya menjadi berantakan. Cowok tampan yang sialnya menjadi orang yang Kanaya Cinta...
