Bagian ke dua puluh satu

40.5K 2.3K 183
                                        


happy reading 💚






Kanaya celingak-celinguk bingung harus bagaimana, ia di turunkan di pinggir jalan oleh Nathan. Bahkan ia tidak tau sekarang ia sedang berada di mana. Ponsel? Ah! Kanaya lupa membawa ponselnya. Akhirnya ia pun memilih berjalan seraya mencari halte bus terdekat, ia masih punya sedikit uang yang cukup untuk naik bus hingga ke rumahnya.

Sembari berjalan Kanaya terus berbicara pada bayi di dalam kandungannya untuk sekedar mencari pengalih dari rasa sakit hatinya.

"Pipo, kamu tau gak? Mama tuh lagi suka sama seseorang tau" ucapnya sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.

Entah sejak kapan dirinya memanggil Bayi di kandungan nya dengan sebutan 'Pipo' ia hanya merasa nama itu cocok untuk bayinya selagi ia belum mengetahui jenis kelamin bayinya itu.

"Orang itu Papa kamu, aneh ya? Padahal Papa kamu udah suruh Mama buat gak jatuh cinta sama dia tapi Mama malah ngelanggar itu" Kanaya tersenyum kala matanya melihat Halte bus. Ia pun berjalan mendekat ke halte bus itu dan duduk di bangku yang tersedia.

Kanaya menatap lalu lalang jalanan yang padat akan kendaraan bermotor yang saling bersaut-sautan klakson. Bisa tidak mereka sabar menunggu lampu merah? Pikir Kanaya ketika melihat pengendara yang terus memencet klakson mereka.

"Pipo, salah gak kalau Mama cinta sama Papa kamu?" Tanya Kanaya lagi sambil mengelus pelan perutnya.

"Cinta gak pernah bersalah, Cinta tidak bisa memilih kemana dia akan berlabuh. Cinta datang secara tiba-tiba, entah dengan siapa, di mana, dan kapan. Kita gak pernah tau kapan Cinta itu hadir" ucap seseorang yang tak Kanaya kenal. Orang itu kemudian mengambil posisi duduk tepat di samping Kanaya sambil menatap Kanaya dengan senyum nya yang ramah.

"Eh?" Kaget Kanaya ketika melihat perempuan berhijab, perempuan itu sangat cantik di tambah dengan senyuman nya yang manis. Ah Kanaya jadi insecure.

Orang itu pun tersenyum."Maaf membuat kamu terkejut" ucapnya.

Kanaya menggeleng sambil terkekeh kecil. "Ah, enggak kok" jawab Kanaya.

Orang itu kemudian menatap tangan Kanaya yang berada di perut. "Sudah berapa bulan?" Tanya orang itu pada Kanaya membuat Kanaya terkesiap dan kikuk. Orang itu kemudian terkekeh. "Ah maaf, Nama saya Rembulan Shahilla. Kamu bisa panggil saya Bulan" ucap Perempuan berhijab yang di ketahui bernama Bulan itu.

"Aku Kanaya, omong-omong kandunganku sudah masuk bulan ke tiga" jawab Kanaya.

"Ah begitu rupanya" Jawab Bulan. "Tadi kamu bicara soal cinta kan?" Tanya Bulan dan Kanaya dengan kikuk menagngguk.

"Bukan tanpa alasan saya bilang seperti itu ke kamu" ucap Bulan lagi.

"Bilang apa?" Tanya Kanaya.

"Kita tidak bisa memilih dengan siapa hati kita berlabuh. Dalam kata lain kamu gak bisa milih siapa orang yang kamu cintai" ucapnya. "Maaf tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan mu dengan bayi kamu"

Kanaya mengangguk lalu tersenyum. "Gak apa-apa kok" jawab Kanaya. "Kamu benar, tapi apa alasan kamu bicara seperti itu?" lanjutnya.

"Singkatnya saya pernah mengalaminya, saya pernah jatuh cinta dengan laki-laki yang berbeda dari saya. Kita saling mencintai dan menyayangi meski Iman kita berbeda, saya tau saya berdosa kepada tuhan. Tapi saya tetap melanjutkan hubungan terlarang itu" Ucap Bulan sambil menatap sendu jalanan.

Kanaya sontak saja kaget, ia tidak percaya bahwa perempuan di sampingnya itu melakukan hal itu melihat penampilan nya yang tertutup dan berhijab.

"Kamu kaget ya?" Tanya Bulan sambil terkekeh.

UnfairCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang