Dia Olivia, gadis dengan segala kerapuhannya. Dibenci ibunya sendiri, dibenci kerabat-kerabat orang tuanya. Terlebih dengan jantungnya yang sakit, membuat penderitaannya sempurna.
Hanya mampu bersandar pada bahu Septian untuk mencurahkan kesedihann...
Mau dapet pahala gak? Votmen cerita ini biar dapet pahala. Lah, apa hubungannya? Karena, bikin orang seneng itu dapet pahala. Jadi, kalo kalian votmen, kalian dapet pahala karena bikin author senenng akwkw
Happy Reading.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Rindu yang paling berat adalah merindukan seseorang yang benar-benar telah pergi dan tidak akan pernah kembali." -Olivia Anatasya.
-oOo-
Rindu hanya terpisah jarak dan waktu, hanyalah sebuah hal yang akan segera berlalu. Namun, bagaimana jika keadaannya rindu itu terpisah dunia dan jiwa?
Olivia Anatasya, perempuan dengan segala penderitaan dan kepedihan hidupnya itu kini berbaring di atas bangsal rumah sakit, dengan jarum infus yang menancap di salah satu tangannya. Selain hatinya yang selalu merasa kesakitan, kini jantungnya juga harus ikut mengalami sakit yang begitu menusuk.
"Liv, kenapa kamu gak pernah bilang kalo kamu punya penyakit jantung?" Septian menggenggam tangan gadis itu dengan erat.
"A-aku .... Maaf." Oliv menunduk, merasa bersalah, padahal dia tidak tahu salahnya apa.
"Siapa yang tau soal ini?" tanya Septian, dengan genggaman tangan yang semakin dieratkan.
Olivia Anatasya yang sakit, Septian Prawira yang merasa menderita. Seorang Oliv yang punya penyakit, namun seorang Septian yang merasakan sakit. Sungguh, mengetahui kenyataan dan keadaan gadis di hadapannya itu sangat membuat hati Septian seperti ditusuk dengan sebuah pisau yang mengkilat.
Rupanya banyak hal yang tidak Septian ketahui dari gadis itu. Seorang gadis yang sering terlihat tersenyum tanpa beban, ternyata menyembunyikan fakta yang begitu memilukan. Lalu, hal apa lagi yang tidak Septian ketahui dari gadis itu?
Tak mendapat jawaban dari gadis itu, Septian kembali bertanya, "Siapa yang tau soal ini?"
Sebenarnya Oliv tidak ingin siapa pun tahu tentang kondisinya. Gadis itu memalingkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan laki-laki di hadapannya. Oliv tidak mau menyusahkan siapapun, Oliv tidak mau dikasihani oleh siapapun, sekalipun orang itu adalah Septian.
"Liv, siapa yang tau soal keadaan kamu ini?" tanya Septian kembali. Dia berharap gadis itu mau menjawab pertanyaannya.
"G-gak ada. Cuma kamu."
Dan benar saja dugaan Septian bahwa gadis itu pandai menyembunyikan penderitaannya. Septian merasa gagal menjadi seseorang yang menganggap dirinya mencintai Oliv lebih besar dari siapa pun. Selain cintanya bertepuk sebelah tangan, ternyata dia juga tidak bisa menjadi seseorang yang akan menghibur kesedihan gadis itu.