Dia Olivia, gadis dengan segala kerapuhannya. Dibenci ibunya sendiri, dibenci kerabat-kerabat orang tuanya. Terlebih dengan jantungnya yang sakit, membuat penderitaannya sempurna.
Hanya mampu bersandar pada bahu Septian untuk mencurahkan kesedihann...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tidak pernah ada hidup yang sepenuhnya bahagia." -OliviaAnatasya.
-oOo-
Semua orang bisa tertawa, semua orang bisa tersenyum, tetapi bukan berarti mereka tidak punya masalah. Karena dalam hidup, selalu ada masalah, baik berat mau pun ringan.
Sore itu, seorang gadis yang hanya memakai rok selutut dan sweater, sedang menangis di depan sebuah makam. Dirinya memeluk makam itu, membiarkan air matanya berjatuhan ke atas batu nisan, hingga tenaganya hampir habis dipakai untuk menangis.
"Papa ... Oliv kangen papa ...," ucapnya lirih sembari memeluk batu nisan tersebut dengan erat.
Gadis itu hanya ingin mengadu, mencurahkan semua keluh kesah dan penderitaannya selama ini. Dia ingin dipeluk papanya, dicium papanya, ditenangkan oleh papanya seperti dulu, tetapi itu mustahil karena sosok laki-laki yang benar-benar menyayanginya sepenuh hati itu telah tiada.
Langit sore yang terlihat berwarna jingga saat itu, seolah ikut dalam kesedihan yang dirasakan Oliv. Langit menurunkan hujannya, membiarkan air-air tumpah dan berjatuhan pada bumi, mengguyur tubuh gadis remaja yang sedang menangis sendirian dan memeluk makam.
"Kenapa papa ninggalin Oliv? Waktu itu, lebih baik papa biarin Oliv mati dari pada papa biarin Oliv sendirian menderita di sini. Oliv capek pa ... capek .... Gak ada orang yang bener-bener sayang Oliv selain papa ...." Oliv semakin menangis dengan kencang, tidak peduli tubuhnya yang sudah basah kuyup dengan air hujan.
Beberapa saat Oliv terdiam dengan tangisnya, dia memejamkan matanya kuat-kuat, mengatur napasnya yang terasa sesak. Akan tetapi, Oliv masih tidak berpindah dan tetap memeluk makam papanya tersebut.
"Mama gak sayang aku, Revan ngilang gitu aja, Om Devan juga gak ada, Septian sekarang juga benci aku, Om Sakti sama Tante Sisil juga gak pernah nerima aku, Tante Lisa sama Om Julian juga gak peduli," ucap Oliv dan menyamakan semua orang sebagai orang-orang jahat dalam hidupnya. "Om Sky yang papa bilang bakal sayang aku, dia juga ngilang dan gak tau kemana, pa. Semuanya jahat, orang-orang di dunia ini jahat."
Karena saat seseorang merasa hancur dan merasa tidak ada yang peduli, dia selalu menyamakan semua orang hingga lupa bahwa tidak semua orang itu jahat.
Oliv kembali diam, membiarkan dirinya terisak. Air matanya bercampur dengan air hujan, dan tubuhnya juga sudah mulai lelah. Perlahan, Oliv memejamkan matanya, menghentikan tangisannya secara bertahap. Hingga kesadarannya juga ikut menghilang dengan air hujan yang terus mengguyurnya.
Lalu, Salsa yang memperhatikan anaknya itu dari jarak yang cukup jauh, ikut menangis dalam guyuran air hujan. Tanpa sadar, dia melangkahkan kakinya ke arah Oliv, tetapi seseorang menarik tangannya dan membuat langkahnya terhenti seketika.