16. Nothing Happines.

674 49 7
                                        

Hai. Update lagi, ni. Jangan lupa comment, oke.

Happy Reading.

"Setelah merasa memiliki kebahagian, terkadang takdir seperti menertawakan dan kita dihempaskan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Setelah merasa memiliki kebahagian, terkadang takdir seperti menertawakan dan kita dihempaskan." -Raven Revandra Sagara.

-oOo-

Seperti kata pepatah, manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Sama halnya dengan, ketika kamu bukan siapa-siapa, maka kamu juga akan kembali menjadi bukan siapa-siapa.

Setelah terbaring tanpa sadar selama hampir 4 hari, laki-laki yang menjadi candu terhadap narkoba itu perlahan membuka mata kirinya dengan susah payah. Cahaya lampu menyilaukan pandangannya, dan tubuhnya terasa begitu sangat lemas.

"Apa ini di surga, ya?" batinnya sembari mencoba mengangkat tangan kanannya.

Tak berselang lama, Revan merasakan sesuatu seperti menusuk dan mematahkan semua tulang-tulang ditubuhnya. Tenaganya mulai pulih bersamaan dengan rasa sakit yang muncul di tubuhnya itu.

Revan menarik alat yang menutupi mulut dan hidungnya, serta mencabut jarum infus yang menancap di tangan kanannya. Laki-laki berambut kecoklatan itu merogoh saku celananya, rupanya hanya bajunya saja yang diganti.

"Njir ... napa di sorga bisa sakit, ya?" desisnya sembari mengambil sesuatu dari dalam sakunya.

Bruk.

Revan terjatuh dari atas bangsalnya, terasa sekali dinginnya lantai rumah sakit. Dia menghirup sebuah barang, berbentuk kristal, berwarna putih, yang di simpan di dalam kantong plastik kecil, atau biasa di sebut sabu.

"Ah, rupanya gue belom mati," desahnya sembari bernapas lega. Setelah menghisap barang haram miliknya, perlahan rasa sakit di tubuhnya mulai menghilang. "Gimana gue bisa lepas dari ini semua?"

Dengan sisa-sisa tenaganya, Revan mencoba bangkit. Dia berjalan sempoyongan, seperti orang mabuk, atau mungkin memang sedang mabuk saat ini. Tubuhnya terasa ringan, namun kepalanya agak berat, pandangannya juga agak tidak jelas.

Bukk

Jalannya yang sempoyongan itu, membuatnya tak sengaja menabrak pintu. Revon menjatuhkan tubuhnya, kemudian bersandar pada pintu. Beberapa kali dia mengusap wajahnya dan memijat pelipisnya yang terasa berat.

"Apa gue pergi dari rumah itu, ya? Gue bukan bagian dari keluarga itu. Gue cuma anak pungut." Revan mendongak, menatap langit-langit. "Cuma bisa liat langit-langit, karena kalo liat Langit, dia gak ada di sini."

I'am BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang