Dia Olivia, gadis dengan segala kerapuhannya. Dibenci ibunya sendiri, dibenci kerabat-kerabat orang tuanya. Terlebih dengan jantungnya yang sakit, membuat penderitaannya sempurna.
Hanya mampu bersandar pada bahu Septian untuk mencurahkan kesedihann...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kenapa lo pergi saat gue udah kembali?"
-oOo-
Jangan menghilang agar dicari, jangan berlari agar dikejar, jangan biarkan dirimu berbuat seenaknya hanya karena kamu tahu dia mencintaimu. Ingat, orang yang mencintaimu juga manusia biasa, dia punya batas wajar, dia punya rasa lelah, dan ... dia juga bisa menyerah.
"Revan udah sembuh, kan?"
"Ini udah lebih dari 4 hari," jawab Julian dengan senyum yang mengembang.
Dengan perlahan dan sedikit ragu, Lisa mendorong pintu yang ada di depannya. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu tidak karuan, perasaannya benar-benar bercampur dan membuat kepalanya terasa pusing. Lisa merindukan anaknya, tapi dia juga takut melihat keadaan anak sulungnya yang sekarang.
Setelah pintu terbuka, sepasang suami istri itu masuk dengan perlahan. Baru satu langkah saja, mereka berdua sudah bisa melihat anak laki-lakinya, yang kini sedang duduk di atas sofa dengan satu kaki yang ditekuk dan jari yang mengapit sebatang rokok.
"Mama, Papa," lirih Revan dengan senyumnya yang begitu lemas.
Tanpa basa-basi, Lisa langsung berlari dan menerjang tubuh anak laki-lakinya. Wanita yang sudah menjadi ibu dari tiga anak itu, memeluk anak sulungnya dengan sangat erat, seolah tidak ingin melepas anaknya itu barang sedikit pun. Bahkan, saat Revan berusaha melepas pelukannya, Lisa malah semakin erat memeluk hingga anaknya memekik.
Julian menghampiri kedua anggota keluarganya itu, mengusap punggung istrinya, lalu berusaha menenangkan wanita yang sedang menangis itu. Sudah belasan tahun mereka hidup bersama, tapi Julian selalu saja tidak tega melihat istrinya menangis. Dari dulu, dia selalu menjadi saksi bagaimana wanita itu kehilangan banyak hal, bagaimana wanita itu kehilangan orang-orang yang dia sayang, bagaimana wanita itu kehilangan orang yang berharga baginya.
"Revan udah sembuh, gak usah sedih lagi," ucap Julian. Diam-diam, pria bertubuh tinggi itu mengusap air matanya yang menetes.
Perlahan, Lisa melepaskan pelukannya. Lisa langsung duduk di samping anaknya, menarik tangan anak laki-laki itu, lalu melempar rokok yang sedang dia apit. Matanya yang baru saja berderai air mata, kini membulat dan menatap Revan lebar-lebar.
"Udah mama bilang jangan ngerokok! Jangan mentang-mentang kamu lagi dalam keadaan gini, kamu bisa bebas ngerokok! Kamu itu dengerin mama gak, sih?!" omel Lisa dengan mata yang terus melebar.
Mendengar suara ibunya yang nyaring dan semakin meninggi itu, Revan menoleh ke arah papanya dan mengerjap beberapa kali. Mulutnya menganga, dia mengedikkan dagunya, lalu matanya mengerjap kebingungan.