27. Change

514 40 0
                                        

"Gak pernah gue sangka, kehilangan lo itu sakit banget

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gak pernah gue sangka, kehilangan lo itu sakit banget." Revan.

-oOo-

Terkadang, kehilangan seseorang yang begitu berharga bagi kita membuat kita berubah, entah berubah pada hal yang lebih baik, atau mungkin menjadi lebih buruk.

Di bawah guyuran hujan yang membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya, Revan duduk di samping sebuah makam yang basah. Matanya menatap kosong pada batu nisan yang ada di hadapannya, lalu air matanya yang mengalir bersatu bersama air hujan yang turun.

"Gue salah apa sama Oliv, Om?" tanya Revan pada makam tersebut. "Kenapa Om Devon biarin Oliv ninggalin gue?" Revan meletakan tangannya di atas makam, menunduk, lalu mencucurkan semua air matanya.

Sudah lebih dari dua jam dia diam di pemakaman ini. Dia hanya ingin mengunjungi makam ayah dari pacarnya itu, hanya ingin menceritakan tentang kekasihnya yang telah tega meninggalkannya.

Dalam sejarah hidupnya, untuk pertama kalinya Revan merasakan kehilangan atas orang yang benar-benar dia sayang. Apa mungkin ini karma atas semua perbuatannya? Akan tetapi, rasa sakitnya begitu besar saat tahu bahwa teman baiknya sendiri yang membawa pergi kekasihnya.

Perlahan, seseorang menarik tubuhnya, mendekapnya, memeluknya hingga Revan menangis di dada orang tersebut. Tanpa melihatnya pun, Revan sudah tahu jika itu adalah mamanya, Mama Lisa, yang entah dari mana tahu bahwa dia sedang menangis sendirian di makam ini.

"Revan, kamu itu laki-laki, kamu jangan sedih kayak gini cuma karena kehilangan satu cewek. Mungkin, Oliv memang bukan takdir kamu," ucap Lisa. Tanpa sadar, seorang ibu itu telah membangkitkan sisi gelap dari anaknya tersebut.

Revan masih diam, menangis di bawah guyuran hujan dan pelukan mamanya sendiri. Dia memejamkan matanya, merasakan betapa hangat dan penuh kasih sayang pelukan itu, merasakan sesuatu yang sangat nyaman, yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun kecuali mamanya.

"Ini udah seminggu lebih, tapi kamu masih kayak gini. Mungkin, Oliv sama Langit ada urusan." Lisa mengusap kepala anaknya dengan lembut, lalu menciumnya dengan penuh kasih sayang.

Sebesar atau sedewasa apa pun Revan, bagi Lisa yang telah menjadi ibunya, dia tetaplah bayi kecilnya yang rapuh. Di saat-saat seperti ini, Lisa selalu teringat dengan Revan kecil, yang masih polos, masih lugu, selalu tertawa, ceria, hidup bahagia seolah tanpa beban apa pun.

Nyatanya, semakin dewasa, masalah dan beban hidup semakin berat. Revan jadi menyesal telah membayangkan betapa indahnya menjadi dewasa saat dia masih kecil.

"Langit ... gue pikir, lo temen yang baik. Lo mau bantu gue dengan alasan buat yang terbaik demi semuanya, tapi nyatanya lo malah bawa cewek gue pergi," batin Revan dengan tawanya yang hambar. 

-oOo-

"Semakin hari, kondisi Oliv semakin memburuk. Kita tidak bisa melakukan operasi ini jika kondisinya tidak stabil. Tetapi, jika semakin lama kondisinya semakin memburuk, kita tidak akan pernah bisa melakukan operasi ini."

"Tolong lakukan yang terbaik, Dokter."

"Jika kita memaksa untuk menjalankannya, kemungkinan berhasilnya hanya 10 persen. Jika gagal, berarti kita telah mengorbankan dua orang sekaligus."

"Apa yang terjadi jika kita tidak melakukan operasi ini?" tanya Langit dengan berusaha bersikap formal. Dia mengusap wajahnya putus asa, matanya terasa panas, hatinya bagai diremat.

"Prediksi saya, Oliv hanya akan bertahan selama 6 sampai 7 bulan dengan kondisi jantungnya yang semakin parah."

Diam Langit beberapa saat dengan pandangan kosong, lalu dia mengangkat kepalanya dan menatap pria berbalut jas putih di hadapannya. Tatapannya saat itu, seolah sedang memohon dan berdoa pada Tuhan, seperti seorang anak kecil yang tidak mau ditinggalkan ibunya untuk ke pasar.

Hingga akhirnya, setelah memantapkan hati dan pikiran, serta bersiap dengan segala resiko terburuk yang akan dia hadapi, Langit menghela napasnya dengan sangat putus asa dan meneteskan air matanya.

Sang Tuan Muda itu menepuk tangan beberapa kali, membuat seorang wanita berpakaian formal menghampirinya. Langit menatap wanita tersebut, lalu mengulum bibirnya dan menahan sesuatu yang menusuk-nusuk dadanya.

"Bibi, aku akan sekolah di sini, tolong urus untuk perpindahanku," ucapnya memerintah. Kemudian, dia melirik ke arah dokter yang tadi berbincang dengannya. "Tolong lakukan yang terbaik, Dokter Sky."

-oOo-

Dentuman-dentuman musik dan sinar lampu yang berwarna warni, ditambah dengan orang-orang yang berjoget ria, membuat suasana di ruangan ini semakin ramai. Di tempat ini, Revan bisa melihat orang-orang yang hidup tanpa beban dan seolah selalu bahagia.

Rambutnya dicat kuning, dia memakai jaket sukajan hitam sembari mengapit sebatang rokok antara telunjuk dan jari tengahnya. Entah sudah berapa botol alkohol yang dia habiskan, tapi laki-laki itu belum juga mabuk sedikit pun.

Di diskotik ini, Revan seolah bisa melepaskan sakit hatinya meski untuk sesaat. Dengan dorongan asap rokok dan minuman keras, suasana hatinya bisa membaik dengan cepat.

Tiba-tiba, seseorang yang sedang mabuk langsung menyambar botol miliknya, meneguknya tanpa permisi, membuat Revan menatap dan mengerutkan kening tidak suka.

"Dih, apaan ni. Gak enak!" Orang itu membanting botol kaca yang baru saja dipegangnya hingga pecah.

Prang!

Melihat hal itu, Revan langsung bangkit, mendaratkan satu tinjuan hingga membuat orang tersebut mimisan. Tak puas dengan satu tinjuan, Revan kembali mengahajarnya tanpa mendapat perlawanan sedikit pun.

"Tahan Bro, jangan sampe dia mati di sini." Seseorang menarik tubuhnya dan mengusir orang yang tadi dia hajar.

Perlahan, Revan kembali duduk di salah satu kursi di depan bar. Dia menggeliat dan kembali memesan beberapa botol alkohol.

"Ada masalah apa?" tanya orang yang menahannya tadi.

Menoleh beberapa saat, kemudian Revan kembali meneguk minumannya dan tidak memedulikan orang yang tidak dia kenali tersebut. Dia menghela napasnya berat, kembali menyalakan rokok dan menghisapnya dengan sangat dinikmati.

"Dulu dia anak baik, juara kelas di sekolahnya. Tapi, pas dia putus sama ceweknya, sikapnya jadi berubah kayak gitu. Jadi begajulan."

Mendengar cerocosan orang yang tidak dia kenal itu, membuatnya menoleh dan menatapnya. Takdir seolah sedang bermain-main dengannya, menggambarkan apa yang akan terjadi padanya melalui orang lain.

Sial, harusnya Revan tidak datang ke tempat ini. Dia jadi harus merasakan sesuatu seperti sedang menusuknya dari depan dan belakang secara bersamaan. Hingga akhirnya, Revan menghela napasnya pasrah dan meletakkan kepalanya di atas bartender.

"Mama bener, gue cowok, gue gak boleh patah hati cuma karena satu cewek. Just for fun."

-oOo-

I'am BrokenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang