Terima Kasih ya Allah kembali kau titipkan amanah ke kami, dan kami akan terus menjaga dengan sepenuh hati
.Darul Rasyad.
"Ka dhanti pergi dari rumah pah sejak pagi, dan aku ngga tau kapan ka dhanti pergi, ka dhanti
hanya meninggalkan surat yang di letakkan di kamarnya" azmira menjelasnya ke papa dani yang
terjadi tadi pagi, tapi tidak dengan kejadian semalam
"Kok bisa dhanti pergi dari rumah? Dhanti ngga akan pergi tanpa ada sebab, kemarin mama baru
aja abis dari rumah kalian untuk menemani dhanti. Tapi kok bisa pagi ini dhanti pergi dari rumah,
ini pasti ada masalah ya kan mir?" Mama risha semakin bingung dengan apa yang terjadi pada
menantu kesayangannya itu
Azmira makin menjadi nangisnya, darul kini tersadar dengan yang terjadi sama dhanti karena
ulah adiknya
"JAWAB MAMA AZMIRA!!" darul membentak azmira dan mendekatinya
"Sttttt bukan saatnya untuk emosi darul. Tahan untuk dhanti" papa dani mencegah darul yang
semakin menatap tajam ke azmira
Darul menarik napas panjang dan beristighfar dalam hatinya, lalu dia duduk di kursi dan
mengacak rambutnya asal,
Dokter keluar dari ruang UGD, darul langsung beranjak dari duduknya
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya darul yang semakin cemas dengan keadaan dhanti
"Alhamdulillah ibu dhanti hanya kekurangan darah saja, tekanan darahnya sangat rendah sekali.
Dan sedari tadi dia memanggil nama 'mas darul' mungkin diantara kalian ada yang bernama
darul?" Tanya dokter itu
"Saya sendiri dok, saya suami nya" darul menjawab pertanyaannya dengan cepat
"Silakan anda temui istri anda. Dan setelah menemui istri anda, temui saya diruangan saya ya"
ucap dokter itu kepada darul
"Iya dok saya akan temui dokter" darul langsung berlari dan menemui dhanti di ruang UGD
"Kalau begitu saya permisi" ucap dokter itu kepada papa dani, mama risha, dan azmira
"Iya terima kasih banyak dok" ucap mama risha
Dokter itu membalas dengan senyuman singkat lalu meninggalkan mereka. Papa dani dan mama
risha menyusul darul ke dalam ruangan,
"Urusan mama sama kamu belum selesai azmira" mama risha menatap azmira dengan sangat
tajam, sedangkan azmira hanya makin tertunduk
Darul melihat dhanti terbaring lemah dengan khimar yang masih melekat di kepalanya, darul
makin tak tahan melihat istrinya seperti ini makin tersayat hatinya ketika mendengar dhanti
memanggil namanya
dengan suara lirihnya
"Mas darul" dhanti melihat darul yang berada di hadapannya dengan tatapan mata sendu
"Aku disini sayang, aku ada disini" darul menggenggam tangan dhanti dan mengecup keningnya,
lalu mengelus pucuk kepala dhanti
"Aku rindu kamu mas" ucap dhanti yang terdengar sangat lemah
"Aku juga rindu banget sama kamu sayang" darul menatap dalam mata dhanti dan mengecup kening dhanti lama
"Aku dimana mas?" Tanya dhanti
"Kamu di rumah sakit sayang" jawab darul
"Aku gapapa ko mas, aku sehat" elak dhanti
"Gapapa bagaimana, tangan kamu dingin badan kamu juga demam sayang" balas darul yang
masih setia menggenggam tangannya
Sementara di samping darul yang masih menekuk kakinya untuk bisa setara dengan ranjang
dhanti, berdiri papa dani dan mama risha,
"Mamah papah" ucap dhanti lirih dan beralih ke papa dani dan mama risha
"Iya sayang" jawab mama risha dengan mata yang berkaca-kaca dan meneteskan air mata
"Mama kenapa nangis? Dhanti gapapa ko mah dhanti sehat" ucap dhanti yang sangat polos
Mama risha memeluk dan mengecup kening dhanti, lalu mengenggam tangannya yang kini darul
sudah melepaskannya dan berdiri.
"Pah aku ke ruangan dokter dulu ya. Titip dhanti pah" ucap darul ke papa dani
"Iya tenang aja. Sana temui segera"
Darul keluar dari ruang UGD dan melihar azmira sedang duduk menunduk sambil menangis
disana.
Darul melewati azmira tanpa memperdulikannya, dan segera berjalan menuju ruangan
dokter yang menangani dhanti tadi.
Darul mengetuk pintu ruangannya, dan segera masuk ke dalam
"Silakan duduk pak darul" dokter itu mempersilakan darul duduk dihadapannya
"Jadi bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya darul
"Jadi gini pak, saya belum bisa mengatakan bahwa istri bapak sehat sepenuhnya istri bapak
mengalami demam yang sangat tinggi dan tekanan darah yang rendah, saya rasa istri bapak
juga ada tekanan mental yang membuat istri bapak stress atau bisa dibilang mengalami depresi
karena tekanan yang dilakukan oleh seseorang. Istri bapak ini sangat sangat sensitif dengan
kata-kata yang bisa membuatnya tertekan. Dan ada satu kabar gembira untuk bapak dan ibu
dhanti, karena sekarang ibu dhanti sedang mengandung yang usianya baru memasuki minggu
kedua" dokter menjelaskan semua apa yang terjadi dengan dhanti kepada darul
"Apa? Dokter bilang istri saya hamil?" Tanya darul dengan wajah yang penasaran
"Iya istri bapak hamil, dan selamat bapak akan menjadi ayah" dokter sudahmemastikan kalau
dhanti benar-benar hamil sekarang
"Alhamdulillah ya Allah" darul mengucap syukur kepada Allah atas kehamilan dhanti
"Tapi kehamilan ibu dhanti sekarang sangat rentan dan sensitif, apabila ibu dhanti mengalami
kejadian seperti ini lagi mungkin kandungannya sudah tidak bisa dipertahankan. Jadi saya
mohon jaga ibu dhanti dengan baik agar beliau dan calon bayi kalian sehat selalu" saran dokter
yang bernama Rania itu ke darul
"Iya dok saya akan menjaga istri dan calon anak kami sebaik mungkin. Terima kasih banyak
dokter Rania" darul beranjak dari duduknya dan berdiri menatap wajah dr. Rania
"Sama-sama pak. Apabila ibu dhanti membutuhkan saya jangan sungkan untuk memanggil saya"
ucap dr. Rania ke darul
"Iya dok pasti. Kalau begitu saya permisi dok" darul berpamitan dengan dr. Rania
"Iya silakan" dr. Rania melihat darul meninggalkan ruangannya dan hilang begitu saja
Darul mempercepat langkahnya untuk ke ruangan UGD bertemu dengan dhanti, darul berlari kecil
dan sampai di depan dhanti yang masih terbaring lemah ditemani oleh papa dani dan mama
risha. Tanpa tunggu apapun darul meraih tubuh dhanti dan mendekapnya erat,
"Makasi sayang, makasi banget kamu udah kasih ke aku berjuta-juta bahagia. Ya Allah syukron ya
Robb" darul semakin mendekap dhanti dipelukkannya
"Ada apa mas? Sebentar dada ku sesak mas" dhanti
membalas perkataan darul dengan heran dan merasa tak nyaman dengan dekapannya yang sangat erat
"Itu darul dhanti kasian ya Allah. Ada apa emangnya? Mama jadi penasaran" mama risha ikut terheran dengan darul
Darul melepaskan pelukannya, dan menatap wajah dhanti. Yang kemudian beralih ke mama risha
dengan kedua tangan yang masih memegang kedua lengan dhanti
"Dhanti hamil mah, kamu hamil sayang kamu sedang mengandung anak kita" ucap darul yang
begitu senangnya menyampaikan kabar yang sangat bahagia ini di depan dhanti dan keluarganya
"Ha? Aku hamil? Aku hamil mas?" Dhanti bertanya -tanya dengan raut wajah bingung
"Iya sayang kamu hamil" darul menatap mata dhanti dalam dan mengecup lama keningnya
Ketika darul mengecup lama kening dhanti, dia mengucap syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan kebahagian yang tidak tertara ini kepada mereka
Terima kasih ya Allah, hamba orang pertama yang mengetahui istri hamba hamil buah hati kita,
kehamilan sebelumnya hamba tidak diberi kesempatan untuk mengetahui pertama kali istri
hamba hamil. Dan kini hamba benar-benar merasakan kabar bahagia ini. Terima kasih ya Robbi
batin darul
Bagaimana kabarnya readers nya aku?
Tetap jaga kesehatan yaa😊
Maaf aku telat up harusnya senin ini selasa😭
Dapet feel nya ngga di part ini?
Semoga aja dapet ya gais😉
Jangan lupa vote dan comment nya readers♥️
Stay healthy and stay safe all🖤
‼️Dia?Imamku update 3x dalam seminggu setiap hari senin,rabu,sabtu‼️
Sebaik-baiknya bacaan adalah Al-qur'an😊
KAMU SEDANG MEMBACA
Dia? Imamku
Spirituale"Cinta suci itu adalah yang didasari keimanan antara ikhwan dan ukhti yang saling mengikat hati pada janji suci pernikahan"- Dhanti Alanza "Ukhti sempurna itu yang setia menjaga hatinya untuk tidak terjerumus ke perangkap syetan"-Darul Rasyad
