30

2.3K 295 67
                                        

Aku merasa bersalah pada Jimin dan Seulgi.

Aku memang bersalah.

"Kalian seperti keluarga baruku. Kita tidak boleh terpisah. Aku harap kita selalu bersama-sama,"

"Sampai kapan oppa?"

"Sampai kita melihatmu menikah."

"Yang pasti pria yang menikahimu itu aku.."

Secuil percakapan yang nyaris terlupakan di dalam gudang memorinya itulah yang menjadi penyebab luluh lantahnya lapisan beku hati seorang Taehyung.

Ia meremas rambutnya sesaat pria itu menghentakkan kepalanya kebelakang. Berharap benturan tak seberapa tempurung kepalanya dengan jok mobil mewah yang di desain se-empuk mungkin bisa meretakkan tengkoraknya dan berharap ia kembali ke rumah sakit tak sadarkan diri saja.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia sungguh-sungguh menyesali perbuatannya. Dan tak menyangka jika rasa penyesalan itu memberikan siksaan yang amat pedih, sampai-sampai ia berpikiran untuk tak sadarkan diri lagi dan melupakan usaha kerasnya untuk pulih kembali.

Telepon genggam di dalam saku jas pria itu bergetar. Taehyung yang menggunakan satu lengan kirinya bermaksud menahan gelimangan air matanya itu masih meraba saku jasnya dengan tangan yang lain. Ia pun mendapatkan ponselnya.

Dan lengan yang menutupi kedua matanya itu turun karena sia-sia saja walau sudah ditahan, air mata pria itu mengalir deras dan Taehyung cukup merasakan panas dikedua pipinya.

Ia pun melihat nama yang tertera di layar gawainya meski agak buram, lalu bergegas menyeka air mata dan menghilangkan cairan penyumbat saluran pernapasannya yang berakibat fatal jika sampai membuat suara dalamnya yang seksi menjadi bindeng boy. ㅡ Maaf tidak pake boy, bindeng saja.

"Ya.. Jisoo, kenapa menelpon?"

Tak jauh dari Taehyung yang masih mau mengangkat telepon, Jisoo yang bersembunyi dibalik mobil orang lain berjarak dua mobil yang terparkir itu diam-diam menghela napasnya.

Setelah dibiarkan 5 menit menangis sendirian rupanya suaminya itu pun sudah lupa kalau dialah yang menyuruh Jisoo untuk mendatanginya dan berniat menjelaskan semua.

"Aniya, sepertinya aku tidak bisa turun Kim Taehyung-ssi, diatas sini kacau oleh penjagaan ketat polisi. Tidak usah menungguku. Kita bicarakan nanti saja.."

Dan Jisoo pun terpaksa berbohong.

"Kenapa? Apa aku perlu menjemputmu ke atas?" Jisoo bisa merasakan suaminya saat ini sedang menahan napas bicara dengannya.

"Tidak usah. Sehabis dari tempat ini aku akan kembali melanjutkan jam kuliah. Kembali lah istirahat.. Um.. Maksudku bekerja."

"Kau yakin?"

"Oh. Sudah dulu." Ia pun mematikan ponselnya dan berbalik. Memandang dari tempatnya bersembunyi, menunggu apa yang akan dilakukan suaminya selanjutnya. Apakah Kim Taehyung akan benar-benar menjemputnya ke atas? Atau kah pergi dari sana seperti yang disuruh.

Jisoo masih bergeming cukup lama sampai akhirnya mobil sedan sang suami berjalan meninggalkan pelataran parkir.

Entah mengapa ada bagian di dalam dirinya yang terasa sakit seolah seseorang memberikan tinjuan keras di dadanya. Tidak jelas apakah nama perasaan yang sedang ia rasakan ini. Mengapa bayangan diri Jisoo yang tertangkap di kaca mobil memperlihatkan raut kekecewaan amat dalam.

Jika ditelusuri, Jisoo pantas saja merasa kecewa karena hari ini dia gagal mendapatkan penjelasan yang sangat ingin ia dengar. Atau karena Taehyung yang bersikap tidak se-keras kepala biasanya terhadap dirinya? Molla. Yang jelas, Ia tidak bisa memaksakan kondisi Taehyung yang seperti itu untuk bicara.

She Married Stranger (REMAKE)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang