Untuk Jisoo putriku,
Selamat untuk pernikahanmu,
Hari itu aku benar-benar sangat bahagia bisa melihatmu menjadi pengantin dan berdampingan dengan seorang pria yang 'kan membahagiakanmu lebih dari Appa. Aku terus-terusan menitikkan air mata di dalam kamar mandi gereja saat pernikahanmu digelar, hahaha.
Jisoo-ya, mungkin saat kamu membaca surat ini kamu sedang cemas dan kebingungan mencari keberadaanku. Jisoo-ya, surat ini sengaja ku tulis untuk berpamitan denganmu. Jangan tanya kemana Appa pergi, jangan mencari Appa, dan jangan marah dan menuduh yang tidak-tidak kepada Kim Taehyung. Sungguh, Appa tidak memberitahu siapapun kemana Appa pergi termasuk padanya. Dia benar-benar pria yang baik hati yang pantas untukmu. Hiduplah rukun bersamanya. Jadilah istri baik dan penurut, jangan mengecewakan hatinya yang sebening kristal.
Appa tidak melupakan janji yang pernah kita buat. Hanya saja Appa ingin mengaku pada Jisoo kalau sebenarnya selama ini Appa sudah tidak sanggup memegang janji itu Nak. Tidak sampai semuanya terlihat menjadi beban berat yang masih harus kutanggung. Appa tidak menyalahkan siapa-siapa, maka appa berfikir, appa merasa jauh lebih baik jika kita hidup terpisah.
Appa merasa tidak lagi bisa memberikanmu kebahagiaan seperti dulu, Appa kurang baik dalam merawatmu, tapi appa percaya Kim Taehyung bisa melakukannya dengan baik.
Jagalah rumah tanggamu, hiduplah dengan baik Jisoo. Kamu bisa melakukannya tanpa aku. Dan aku akan melakukan yang terbaik dalam menyelesaikan masalahku sendiri.
Sampai berjumpa lagi putriku, lahirkanlah cucu yang lucu-lucu untukku nanti ya.
"Salam manis, Kim Seokhwan." meski sudah dibaca ratusan kali surat yang menjadi benda peninggalan terakhir ayahnya itu tetap saja mengundang air mata haru biru Kim Jisoo.
"Kenapa semua berniat untuk pergi.." Ucap Bibir se-merah ceri melirihkan isi hatinya.
Walaupun kini teka-teki kepergian sang Ayah setelah pernikahannya sudah terjawab sangat jelas. Tetap saja rasanya ada yang menjanggal dihati bocah perempuan itu. Salah satunya adalah perasaan kecewa melihat satu persatu orang terdekatnya memutuskan untuk pergi.
Dulu, Ibunya yang paling awal meninggalkannya. Disusul Pria yang ia sukai menikah dengan orang lain, kemudian pacarnya yang berselingkuh dengan sahabatnya ㅡJennie ㅡ yang membuat dia langsung kehilangan dua orang sekaligus, dan teman-temannya lebih memilih bersama Jennie, diakhiri Ayahnya yang mengatakan bahwa ia frustasi menanggung beban.
"Jadi aku adalah beban." Jisoo lagi-lagi bermonolog. Ia menarik nafas sambil menyandarkan kepalanya pada bantalan sofa yang disediakan dalam ruangan VIP tersebut. Ia baringkan tubuhnya pada posisi miring dan kedua manik matanya menatap lurus pada ranjang pasien yang memiliki ukuran dua kali besarnya sofa ini.
"Kadang hidup di kota besar ini banyak tidak adilnya."
Sayup-sayup mata gadis itu menutup dan terbuka. Mulutnya sudah menguap lebar hampir sepuluh kali selepas tangisannya reda. Jisoo putuskan untuk memejamkan mata sebentar sebelum akhirnya matahari terbit dari ufuk timur dan kehidupannya sebagai seorang istri muda segera dimulai.
"Nyonya,"
"Nyonya,"
"Nyonya!"
Jisoo akhirnya tersadar setelah namanya berkali-kali dipanggil Hera. Meski begitu anak perempuan yang sudah terlanjur terjaga dalam tidurnya sama sekali tidak bergeming walau ia tahu sekelompok orang datang berniat mengakhiri tidur berkualitasnya.
Jangankan untuk bergerak, membuka kelopak matanya saja terasa berat, rasanya jika para staf masih nekat mengganggu bobo ena nya dia bakal bertindak kejam memecat mereka tanpa memberikan pesangon sedikitpun.
KAMU SEDANG MEMBACA
She Married Stranger (REMAKE)
Fiksi PenggemarJisoo, seorang gadis cengeng tapi nakal, manja dan keras kepala sedang menjalani proses menuju kehidupan yang lebih baik untuk menebus kesalahan-kesalahannya pada Sang Ayah. Namun di tengah-tengah prosesnya meninggalkan kebiasaan buruknya, dia dinik...
