بسم الله الرحمن الرحيم
"Jikalau jodoh adalah cermin, maka yang terlihat sepertinya sama, namun namanya bayangan pasti terbalik."
_________
Zafran termenung, rasanya dunia berhenti berputar. Zalfa tidak berdaya di hadapannya, Zalfa santriwati yang cerewet itu. Darah segar keluar dari bekas tusukan pisau. Pisau yang hampir melukai Zafran namun Zalfa yang menyelamatkannya. Berniat menolong tapi Zalfalah yang menolongnya.
Wiuuu.... wiuuu.... tulit... tulalit
Suara sirene mobil polisi, kedua Preman kalang kabut tak tentu arah, Zafran segera menghampiri Zalfa. Ibu yang hendak ditolong tadi badannya bergetar melihat Zalfa tidak sadarkan diri.
"Makasih, Nak. Sudah menolong Ibu."
"Iya, Bu. Terpenting Mbak ini selamat dulu, Bu." Ucap Zafran sembari tangannya sibuk entah mencari apa di dalam tasnya.
Beberapa pihak polisi sudah mengejar kedua preman tersebut, sementara ambulance masih dalam perjalanan.
Zafran membaringkan sempurna tubuh Zalfa, wajahnya pucat kasih. Zafran menutup area luka dengan kain sapu tangannya.
Ambulan tiba, Zalfa segera dibawa ke rumah saki terdekat untuk diberi pertolongan. Zafran masih setia mengikuti sampai Zalfa segera dibawa ke UGD.
Ya Allah selamatkan dia ....
Zafran tidak tahu harus apa, ia menoleh ke belakang. Dimana ibu tadi masih setia menunggu. Mungkin ia juga khawatir atau merasa bersalah seharusnya dia yang ada di posisi itu bukan gadis baik penolong itu.
"Ibu pulang saja, nanti kalau dia sudah sadar besok atau kapan Ibu bisa jenguk ke sini." Saran Zafran.
"Tapi Nak...."
"Enggak apa-apa, Bu. Lagian saya kenal Mbak itu."
Ibu tersebut mengangguk, "Biar saya pesankan taxi online, sebentar." Zafran mengambil ponsel di sakunya, jujur tangannya juga masih terasa sakit dan sudut bibirnya yang masih perih.
"Mari saya antara ke depan, Bu." Ibu tersebut beranjak dari tempat duduknya. Zafran sebagai laki-laki melihat wanita paruh baya itu juga tidak tega.
"Makasih ya Nak, maaf jadi merepotkan."
"Bukan salah Ibu, namanya juga musibah." Zafran tersenyum tipis. Ibu tersebut masuk ke dalam taxi yang Zafran pesan tadi. Fokusnya bisa tertuju ke Zalfa, urusan Ibu tersebut sudah selesai dan aman sampai tujuan.
Zafran tidak tahu harus apa, ia memilih untuk menghubungi keluarganya. Dengan Zalfa yang notabenenya santri Abahnya yang sepenuhnya tanggung jawa pesantren. Rumah keduanya.
"Iya, Mi ditunggu. Jangan suruh pihak pengurus hubungi orang tuanya dulu, Mi. Nunggu hasil dari Dokter dulu, baru kita beri tahu orang tuanya."
"Nggih, Assalamualaikum." Zafran mengakhiri sambungan telepon itu.
Zafran memijat pelipisnya perlahan, sembari menyadarkan punggungnya di kursi tunggu UGD. Rasanya lelah selesai rapat, pulang dengan harapan tidur nyenyak. Tapi justru musibah yang ia hadapi, rencana manusia memang tak sepenuhnya terlaksana.
Berawal dia lewat belakang kampus yang memang jarang dilalui mahasiswa, namun di tengah jalan ia dihadapkan dengan suara teriakan minta tolong. Ia mencoba mencari sumber suara, ternyata Zalfa dan Ibu tersebut sedang dalam bahaya. Jiwa kemanusiaan yang masih peka, tidak mungkin ia tidak menolong dua perempuan itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
General FictionGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...