[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم]
Kita boleh menangis, tapi banyak alasan kita untuk tersenyum.
_______
Sudah tiga hari Zalfa di rumah sakit. Bosan bisanya rebahan, bolak balik badan, Hp tidak tahu dimana. Setelah kejadian itu Ia belum memegang ponselnya, entah jatuh atau kemana.
Tiga hari sudah ia ditemani Zafran, udah bicara jarang, cuek, jutek, kulkas, dingin, kalau ngomong sama dia bisa masuk pesantren kali ceramah terus, dasar kulkas, batu bara. Iya mungkin itulah yang membuat Zalfa kesal, tapi beruntung ada Zahra yang masih bisa menengahi.
"Ngomong - ngomong Gus Zafran kemana ya?" Lirih Zalfa.
Biasanya Zafran pulang kuliah langsung ke rumah sakit. Sementara Umi pastilah ada urusan yang lain. Zalfa kangen juga dengan pesantren dan kawan kawan somplak, dan koplak koplak kalau lagi ngumpul. Walaupun baru kenal belum lam tapi mereka sudah akrab, menganggap seperti keluarga. Berbagai macam sifat kami Hana yang lucu, banyak omong, Ulfa yang gaul, dan ceplas-ceplos, Khalwa yang pendiam, polos, yang paling jujur di antara mereka.
"Assalammualaikum ukhti!"
Zalfa sontak menatap pintu ruangan yang terbuka saat mendengar ucapan salam tersebut. Zalfa tersenyum bahagia melihat kedatangan mereka.
"Waalaikumussalam kangen tahu." Mereka berpelukan seperti Teletubbies.
"Gimana kabarnya?" Tanya Ulfa, sembari menggenggam erat punggung tangan Zalfa.
"Alhamdulilah baik, kalian kok tau aku di sini?" Ucap Zalfa karena ia sama sekali tidak menghubungi mereka soal musibah ini.
"Enggak tahu saja kalau temanmu ini punya indra ketujuh." Sahut Hana sembari terkekeh.
"Halah prettt."
"Gimana rasanya ditemenin sama Gus ganteng?" Zalfa berdecak kesal. Sebenarnya mereka niat menjenguk atau sekedar menanyakan tentang Zafran sih? Zalfa tidak habis pikir.
"Iya gimana?" Antusias Ulfa, yang ini lagi. Wajah Zalfa semakin masam.
"Ganteng dari Jerman? orangnya cuek , jutek, dingin, kalau ngomong sama dia kaya ngomong sama kulkas tiga pintu, pokoknya ah begitulah." Jelas Zalfa panjang lebar, dengan ekspresi kesal tingkat dewa.
"Siapa yang kaya kulkas tiga pintu?" Ucap seseorang.
"Gus Zafran lah siapa lagi." Ucap Zalfa santai, tidak menyadari siapa yang berucap tadi.
"Siapa tadi yang ngomong kok beda suaranya?" Batin Zalfa.
Zalfa perlahan menengok kesumber suara. Betapa terkejutnya Zalfa saat menyadari orang tersebut adalah Zafran, kenapa semua temanya cuma diam. Zafran
"Kamu bilang saya apa tadi?." Tanya Gus Zafran kembali, pendengaran Zafran terbilang tajam.
"Kamu yang baju abu, Zalfa ngomong apa tadi?" Gus Zafran bertanya kepada Khalwa. Mungkin dia yang terlihat paling jujur dan polos diantara kami.
Please wa tolong kawan mu inilah!
"Enggak Gus, ta-di Zalfa bilang Gus itu orangnya cuek, jutek, dingin. Kalau ngomong sama dia kaya ngomong sama kulkas tiga pintu, pokoknya begitulah gitu Gus!" Jelas khalwa, hafal sekali kamu Khalwa.
Waduhhh .... tolong anakmu ini Mah, orang jujur nya nggak ketulungan, untung sahabat ya kalau nggak kugibeng juga kamu Wa.
"Kan sudah saya duga, ya udah kalau gitu saya pamit nanti biar mbak khodimah yang jagain kamu, Assalammualaikum." ucap Zafran pergi dari ruangan tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
General FictionGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
