Menatap dalam langit-langit kamarnya. Menghembuskan napas panjang. Isi kepalanya begitu berisik saat ini, tentu ini menjadi kesehariannya setiap menjelang tidur. Setiap kali dia mengerjakan tugas kuliah yang sulit, menumpuk, mengejar deadline yang semakin dekat, belum lagi menjalani kehidupan yang cukup melelahkan. Selalu saja terucap, "Ya Allah, pengen nikah."
Sekarang giliran ada seseorang yang berniat baik, bermunculan pikiran-pikiran yang membuatnya ragu dan khawatir.
"Kalau aku nikah, nggak bisa me time tiap hari, harus mengurus suami dan anak. Masak saja kadang keasinan, selera aku sama Gus Zafran bisa saja beda. Kalau dia tim lampu dihidupkan pas tidur? Ih takut..." Gadis itu memeluk guling sembari menggigit ujung bantal tersebut.
"Belum lagi ya kebutuhan ini itu mahal, kepikiran nikah in this economy? Salut deh buat Gus Zafran mau ngajak nikah. Apalagi dia bentar lagi wisuda, terus koas, habis koas terus intership, mana gaji kecil katanya. Jihad kali konsepnya, ih capek aku mikir."
Zalfa menggaruk kencang kepalanya, memikirkan hal-hal itu saja membuat dirinya frustasi. Sepertinya benar kata orang, menikah tidak seperti ngajak beli cilok ke kampung sebelah. Butuh banyak pertimbangan. Seperti pula haji, menikah juga untuk yang mampu. Mampu dalam artian, merasa mampu saat menjalankan kehidupan pernikahan nanti, dapat menjalankan tanggung jawab dan kewajiban masing-masing atau tidak.
"Jomblo tidak selalu memprihatinkan. Tahu ah mending turu."
Masa kesendirian kadang menjadi hal yang dibenci oleh sebagian orang, rasa kesepian mungkin menjadi faktor ada yang membenci masa-masa ini. Ada juga sebagian orang yang memanfaatkan masa kesendirian untuk terus mengembangkan potensi-potensi yang ada di dalam dirinya, terus maju untuk memantaskan diri.
Berbeda dengan Zalfa yang sudah terlelap dalam impiannya. Zafran masih setia menatap gemerlapnya kota Jakarta dari lantai dua puluh lima kamar hotelnya, padahal sudah tengah malam bahkan hampir dini hari, namun masih saja lalu lalang kendaraan masih ramai. Laki-laki terus menatap keindahan itu sembari mengisap secangkir kopi yang sudah semakin dingin. Lingkar matanya yang semakin menghitam, tidur empat jam sehari saja tentu anugerah untuknya. Satu dua buku berserakan di atas kasur, bahkan laptop masih menyala dihadapannya.
"Apa si Zaf motivasi kamu buat lamar anak orang? Salah banget nggak sih ini." Ternyata keraguan juga muncul dipikiran Zafran. "Baru aja demis BEM, bukannya skripsi diselesaikan malah lamar anak orang ahrg."
Zafran menghela napas dalam, walaupun kedua orang tua sudah menyetujuinya, dan berhari-hari ia memikirkan dan terus istikharah, ia mantap untuk "mengikat" Zalfa. Namun hari ini bukannya merasa lega, justru banyak kekhawatiran di dalam benaknya.
Ting ....
Bunyi notifikasi membuyarkan lamunan Zafran. Notifikasi e-mail masuk rupannya. Ia segera membuka e-mail itu, dengan subjek laporan keuangan cafe bulan Mei. Lagi-lagi dia hanya menghela napas. Orang gila mana yang mengirim laporan keuangan dijam kritis seperti ini.
"Ya Allah ... Cobaan apa lagi ini." Sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengecek laporan itu. Ia memutuskan untuk menutup laptop. Sebaiknya harus tidur terlebih dahulu. Zafran menutup gorden, ia rapikan buku-buku di atas kasur, seperti tidur menjadi pilihan terbaik untuk saat ini.
Getar handphone di sampingnya membangun Zafran, perasaan baru sebentar tidur tapi notifikasi waktu solat sudah berdering saja. Tidak lama terdengar adzan berkumandang. Bukannya segera bergegas mengambil wudhu, Zafran malah menekan aplikasi chat. Terlihat banyak pesan masuk di dalamnya, Ali Shohib, Rendra BEM, Andi Manajer Cafe, Ma'ul Kang Bakso, Rizki Anak Kang Poto kopi, Ustadzah Salamah...
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
General FictionGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
