[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم]
"Memuaskan hati semua orang bukanlah tujuan."
_______
Mereka telah sampai di rumah sakit yang dituju. Khalwa segera dibawa ke UGD diberi penanganan oleh pihak rumah sakit. Mereka duduk di kursi tunggu depan UGD. Sedangkan Zalfa memegang perutnya yang sempat berbunyi, sudah dipastikan semua mendengar semua itu. Bu Ari, memandang Zalfa seraya tersenyum tipis.
"Lapar, Za?" Tanya Bu Ari yang saat ini berada di samping Zalfa. Sedangkan yang ditanya hanya nyengir saja.
"Lapar dari tadi belum makan nasi, makan hati si iya, Bu." Bu Ari terkekeh pelan, mendengar celetukan anak muda itu. Makan hati dia kata. Maulana dan Zafran yang duduk tidak jauh dari mereka bahkan mendengar obrolan mereka, mungkin juga suara perut Zalfa. Mereka masih menunggu kabar dari dokter. Cukup lama, iya ini berat untuk Zalfa menahan lapar, ini tidak bisa dibiarkan. Sejak pulang kuliah dia belum makan apapun, Karena sibuk mengurusi Khalwa serta mencari dompetnya yang tadi hilang. Lagi - lagi Zalfa memegang perutnya lagi karena suara itu kembali muncul.
Krukkk....
"Perut memalukan, bisanya bunyi terus, sekalian rut dangdutan." Zalfa kembali memegang perutnya, sedangkan Bu Ari, Zafran dan Maulana terkekeh pelan mendengar suara perut yang terdengar keras itu. Lapar sekali sepertinya.
"Sayangnya ibu ndak bawa uang tadi buru-buru, kalau bawa sudah Ibu tarktir kamu." Ucap Ibu Ari, dengan wajah prihatin dengan Zalfa. Zalfa hanya pasrah menunggu, semoga saja nanti laparnya juga hilang pikir Zalfa, butuh batu sepertinya ini. Ia hendak berdiri.
"Kasian juga itu anak habis aku bentak -bentak terus tadi gotong -gotong temannya itu, mungkin dia lapar banget."
"Ayo ke kantin, saya bayarin." Zalfa yang hendak beranjak mendengar itu, langsung menghentikan kegiatannya. Melongo ditempat, peka juga Zafran aslinya. Zalfa tersenyum tipis, namun dihatinya sebenarnya berbinar, gimana makan gratis, dibayarin Gus. Ia kemudian mengikuti Maulana dan Zafran, nihil Bu Ari karena dia bilang sudah makan, ia memilih menunggu kabar Khalwa yang masih ditangani di UGD.
Mereka menuju kantin rumah sakit, setelah sampai, Zalfa memisahkan diri dari Zafran dan Mulana, iya tidak satu meja. Mereka lalu memesan makanan, semangkuk soto semarang dengan minuman jeruk hangat yang Zalfa pesan. tidak dengan Zafran yang hanya memesan kopi, iya dia tidak lapar, sebelum kesinipun dia sudah makan malam, hanya mentraktir Maulana dan Zalfa, hitung-hitung sadaqoh. Calon istri! Ah tidak.
"Dia beneran lapar banget deh Zaf, habis dimarahin tadi." Bisik Maulana, Zafran hanya mengangkat bahunya tidak acuh. Setidaknya jangan sampai dia mati kelaparan saja. Zafran dan Maulana kembali menikmati pesanan masing-masing.
Beberapa saat menghabiskan makanan masing-masing, Zafran segera membayar makanan dan minuman yang dipesan mereka betiga. Sementara Zalfa hanya memandang tubuh tegap Zafran dari belakang saat berjalan di koridor, ternyata Zafran baik juga, peka, pikirnya. Tapi bayangan-bayangan dia marah-marah tadi masih mendominasi, menghilangkan sedikit kebaikan Zafran dipikiran Zalfa.
"Dengan keluarga pasien?" Ucap seorang perawat.
"Iya, gimana keadaan teman saya, Sus?" Tanya Zalfa, wajahnya memperlihatkan rasa khawatir danpenasaran jadi satu.
"Pasien baik - baik saja. Pasien sudah diperbolehkan pulang, tidak perlu dirawat tapi tunggu infusnya habis baru boleh pulang. Ini resep obat dari dokter yang harus ditebus."
"Iya Sus terima kasih." Setelah itu suster tersebut pamit dari hadapan mereka. Kemudian Zafran segera kebagian administrasi serta ke apotek untuk menebus obat untuk Khalwa. Sedangkan Zalfa dan Bu Ari menemui Khalwa yang masih terbaring lemah di bed rumah sakit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
Ficțiune generalăGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
