Kelegaan begitu membuncah dihati Zafran. Dada yang berdetak kencang sedari dari kini mulai berdetak normal. Setidaknya dia sudah selangkah lebih maju ke gerbang pernikahan. Entah dibilang nikah muda atau bukan, Zafran sudah mantap akan ini semua. Mulai menata, mereka-reka apa yang harus ia persiapkan nanti untuk bekal berumah tangga. Ilmu, yang akan menjadi bekal untuk dirinya berumah tangga.
Sebelum mengambil keputusan ini, setiap hari dia memohon doa, petunjuk langkah apa yang harus ia ambil, apakah keputusan ini tepat, apakah dia wanita yang tepat? Itulah pertanyaan-pertanyaan Zafran disela-sela doanya. Namun dengan rasa kemantapan hati yang ia rasakan, melamar Zalfa menjadi keputusannya.
"Ini kan sebelum menikah kalian harus saling mengenal terlebih dahulu, mungkin dari Zalfa atau Zafran ada yang ingin ditanyakan satu sama lain?" Tanya Bapak Ikhsan. Zulfa menatap Papanya itu sekilas, tahu saja beliau apa yang menjadi pikiran anaknya.
"Saya boleh bertanya?" Dengan sedikit keraguannya Zalfa mengangkat tangan. Pertanyaan itu diangguki Zafran. Namun Zalfa tidak langsung mengatakan pertanyaan, cukup lama dia terdiam menyusun kata. Terdengar tarikan napas darinya. Gugup sekali sepertinya.
"Ehm ... Umur saya kan menginjak 20 tahun, dengan yang masih kuliah panjengan juga masih kuliah. Kuliah kedokteran saja saya rasa biayanya cukup besar, begitu saya yang juga kuliah dibidang kesehatan. Apakah Keputusan menikah dalam waktu dekat, tidak menggangu pendidikan kita berdua?" Setelah menyatakan pertanyaan itu kepala Zalfa semakin tertunduk. Ia memejamkan mata, samar-samar takut mendengar jawaban Zafran. Tidak baginya list agenda nikah muda dalam hidupnya.
Zafran tahu wanita mana yang tidak meragukan itu. Dua-duanya punya kesibukan, bahkan biaya-biaya untuk kuliah kesehatan tidak murah.
"Saya tidak memaksa kamu untuk menikah secepatnya dengan saya, memang setelah lamaran sebaiknya segera dilangsungkan akad agar tidak terjadi fitnah. Jadi saya tidak menuntut kamu agar segera menikah dengan saya."
Zalfa tersenyum tipis. "Satu lagi boleh?"
"Sebanyak-banyaknya boleh ... Kalau perlu wawancara sampai besok nggak apa-apa, Za. Biarin kita jadi nyamuk." Sahut Bang Alif mencair suasana yang tegang tadi. Menikah harus saling mengenal bukan? Sudah saling mengenal pun, saat menjalani kehidupan rumah tangga nanti mungkin saja akan muncul sifat-sifat yang tidak diketahui satu sama lain, bahkan mungkin saja ada sifat baru yang akan muncul.
"Tapi lucu Gus. Misal nih Gus ditanya istri kamu dimana? Gus jawab lagi mondok. Terus orang lain tanya lagi? Oh ngajar? Gus Jawab Belajar. Kuliah, mondok, ngurus suami, jujur saya belum siap."
Zafran terkekeh dengan pertanyaan bukan pertanyaan mungkin lebih ke pernyataan dia. Mulai terlihat sisi Zalfa Dimata Zafran. Gadis itu mudah saya mengungkapkan pendapat, bahkan akan beragumen bila tidak sesuai dengan pemahamannya.
"Yang penting kamu sudah saya khitbah, Za. Dengan artian kasarnya kamu udah saya iket."
"Kalau lepas?"
"Kalau lepas ya saya kejar."
"Kalau hilang?"
"Saya ikhlaskan. Jodoh itu ditangan Allah, dan menikah itu diwaktu yang tepat. Apa yang saya lakukan sekarang adalah bentuk usaha saya. Adapun nauzubillah saya dan kamu tidak jadi menikah itu juga takdir Allah. Orang yang menikah bertahun-tahun saja bisa cerai." Dengan seksama gadis itu mendengarkan jawaban Zafran. Cukup memuaskan jawaban "calon suaminya" . Stop Zalfa jangan pikirkan sesuatu-sesuatu yang belum terjadi ini.
"Terus alasan Gus memilih saya, dari sekian perempuan diluar sana, yang anak Kyai, Ning, ustadzah, kenapa memilih saya untuk dijadikan istri."
"Kamu banyak bicara ya ternyata." Ucap Zafran, dan di-iyakan oleh Abang angota keluarga Zalfa, ah Zalfa toska berani membalas ucapan Zafran. "Oke saya jawab pertanyaan kamu. Pertama, kamu seiman dengan saya. Kedua, nasab kamu baik, jangan pikir saya tidak mencari terlebih dahulu jalur nasab kamu. Ketiga, Allah menciptakan yang namanya cinta meskipun tidak mekar hati ini juga. Keempat, kamu juga punya pendidikan yang bagus. Kelima, kamu akan terlihat cantik oleh lelaki yang tepat. Itu aku."
Zalfa memalingkan wajahnya berusaha sebaik mungkin agar tidak bereaksi. Ekspresi wajahnya biasa saja, tapi tidak dengan hatinya dan jantungnya. Rasanya banyak kupu-kupu yang berterbangan didalam perut. Perkataan macam itu, tapi lihat! Orang yang mengucapkan justru berwajah biasa-biasa saja seperti biasanya, tidak tahu saja perkataan itu membuat anak orang kegirangan. Zalfa mengatur napasnya, jangan sampai kelihatan salting.
"Giliran saya yang tanya sama kamu. Jika sesuatu saat kita menikah. Apakah kamu siap akan resiko yang akan kamu alami?" Zalfa mulai mencerna pertanyaan Zafran, sepertinya dia tahu arah pertanyaan Zafran kali ini, apa yang dimaksud "resiko" itu.
"Menikah dengan panjengan, berarti saya siap dengan apapun yang terjadi. Siap untuk menjadi bagian dari pesantren yang diamanahi para orang tua wali santri untuk mendidiknya. Siap dengan kesibukan panjengan nanti, yang akan berprofesi sebagai dokter. Menikah berarti harus siap apapun resikonya, mungkin kita menikah tapi tidak harus kan 24/7." Zafran tersenyum dengan jawaban Zalfa. Meskipun bukan jawaban yang Zafran ingin dengar, namun jawaban Zalfa cukup membuat dirinya semakin mantap akan berumah tangga dengan gadis ini.
Hari semakin sore, namun pembicaraan ini terus mengalir begitu saja. Bagi Zalfa hari ini dia ketiban durian. Terkena durinya cukup membuatnya terkejut. Sebelumnya dia masih bertanya-tanya? Kenapa orang-orang menikah diumur yang cukup muda di era sekarang. Tidaklah mereka merencanakan pendidikannya? Tidaklah mereka mengupgrade ilmunya? Finansialnya? Agamanya? Kepikiran menikah muda saja tidak terbesit dipikiran Zalfa, tapi kehendak Allah dia tiba-tiba dilamar.
"Senangnya dalam hati, sebentar lagi mau kawin." Celetuk Rizal.
"Lu tuh baru pulang sekolah, tuh ganti baju bukannya gledekin Kakaknya." Zalfa menunggu di meja makan, menyiapkan makanan untuk tamu-tamunya.
"Iya...iya kaget dong waktu di WA bang Azhar, Kak Zalfa mau di lamar nih buruan pulang." Ucap Azhar sembari menirukan gaya bahasa Bang Azhar dengan girang. "Lah sekarang lagi pada dimana Kak?"
"Lagi pada solat asar." Rizal hanya menganggukkan kepalanya. Sembari duduk menemani Zalfa menikmati beberapa cemilan yang masih tersisa.
"Permisi ... " Mendengar suara itu Zalfa sontak berdiri. Suara siapa lagi orang membuat jantungnya berdetak lebih kencang sedari tadi. Melihat Kakaknya berdiri sigap, Rizal reflek ikut berdiri.
"Gue kira ada apa..." Zalfa menjejak mulut Rizal dengan sisa kue bolu yang ia makan tadi.
"Gua gue jaga mulut antum di depan Gus."
"Bukan Nabi Boy." Mendengar itu Zalfa meringis. Tidak tahu kondisi memang manusia satu ini.
"Enggak apa-apa, ini saya mau minta tolong minta air hangat." Zafran menyerahkan Tumbler hitam kepada Zalfa. Dengan sigap Zalfa mengiyakannya. Sembari menunggu Zalfa mengambil air hangat. Zafran duduk di samping Rizal.
"Kenalin Zafran, panggil saja Bang Zafran." Sahut Zafran.
"Kalau laki-laki udah memuji laki-laki lain ganteng, memang beneran ganteng si Bang." Mendengar itu Zafran terkekeh, ternyata Keluarga ini sifat antara saudara tidak jauh beda.
"Apa yang membutakan Abang, memilih Kak Zalfa." Rizal menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi Mbak kamu cantik kok, Abang akui itu. Jangan bilang Mbak mu ya kalau Abang bicarain dia." Di balik tembok seseorang tengah tersenyum lebar. Andaikan dia dekat dengan kamar, ia sudah berlari kesana dan berjingkrak-jingkrak ria. Seperti dia harus jauh-jauh dari Zafran untuk sementara waktu. Orang sedinging Zafran ternyata manis juga kalau memuji orang. Tapi kenapa kalau menegur malah menyakitkan. Setelah menetralkan kembali detak jantungnya Zalfa kembali membawa Tumbler yang sudah berisi air hangat dan memberikannya kepada Zafran. Zalfa hanya tersenyum saat laki-laki itu mengucapkan terima kasih dan berbalik menuju ke ruang tamu.
"Ternyata jatuh cinta mengasyikan."
Bersambung....
—————
I am Comeback guyss
Ada yang masih baca? Alhamdulillah kalau gitu, ada yang menanti couple Zee kita.
Sampai jumpa...
Wassalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
General FictionGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...
