# Bab 27. Ditinggal Nikah.

49.6K 5.5K 188
                                    

[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم]

Jangan berharap bila kamu tak mau tersakiti.
____

Zalfa melihat sekeliling kamarnya. Sunyi, sepi, semua sudah terlelap dalam tidurnya. Kecuali dia yang masa terjaga. Rasanya matanya tak mau terlelap, padahal dari tadi sudah mencoba terpejam, namun sama saja. Berguling sana, berguling sini, mencari kenyamanan. Nihil, tidak bisa tidur juga. Ia menghembuskan napasnya pelan. Kemudian menengok jam dinding, ternyata hampir tengah malam.

"Solat hajat dulu kali iya, mau tahajud tapi belum tidur juga." Ia menyibak sarung yang menjadi selimut tidurnya. Kemudian keluar dari kamar asrama komplek E. Lorong asrama sangat sepi, tentu mereka sudah terlelap. Ia buru-buru ke kamar mandi, mitos-mitos yang ada di pesantren mulai terngiang di kepalanya. Hantu muka rata, pocong depan kamar mandilah. Jangan takut, karena kalau takut mereka justru berani.

Setelah mengambil wudhu ia bergegas kembali. Mengambil mukena dan mengenakannya. Ia kemudian menggelar sajadah tak jauh dari kasur.

Solat sunah dua rakaat telah ia selesaikan. Ia mulai berdzikir dari mulai tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Suasana sepi seperti ini, memiliki kenikmatan yang berbeda.

"Ya Allah sehatkanlah orang tua, guru-guru, serta keluarga hamba. Berikanlah hamba Jodoh yang tepat, sukses dunia, sukses akhirat, kaya di dunia, kaya di akhirat. Ya Allah berikanlah hamba kecerdasan, kekuatan, kesitiqomahan, ya Allah ya Robb. Robbana taqobbal du'a."

"Allohumma inni as-aluka hubbaka, wa hubba man yu-hibbuka, wa hubba kulli 'amalin yushi-luni ila qurbika, wa an taj 'alaka ahab-ba ilayya mima siwaka, wa an taj'ala hubbi iyyaka qaidan ila ridhwânika, wa syawqi ilayka dzaidzan 'an 'ishyânika, wamnun binna-zhari ilayka 'alayya, wanzhur bi'aynil, wuddi wal 'athfi ilayya, walaa tashrif 'annii wajhaka, waj'al-nii min ahlil is'aadi wal khuzhwati 'indaka yaa Mujiibu yaa Arhamar raa-himiin. "

Alfatihah....

Ia kembali bersujud mengeluarkan keluh kesah. Air matanya mengalir di atas sajadah. Tak lama matanya terpejam, nikmat mana lagi kalau tidak tidur di atas sajadah setelah mengadukan keluh kesah dan masalah kepada sang pemilik jiwa dan raga manusia. Sungguh karunia Allah begitu berlimpah, jikalau kita pandai mensyukurinya.

Tidak beda jauh dari Zalfa. Di sisi lain Zafran tengah menengadahkan tangannya. Keheningan malam menambah kesyahduan, suara air yang gemericik, hembusan angin yang syahdu, kicauan jangkring mengiringi malam.

"Di hadapanmu akulah hamba yang lemah, aku lemah tanpamu, berilah aku kekuatan untuk menjalani kehidupan ini, berilah ketenangan dalam hidup ini. Ya Tuhanku, sungguh aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."

"Ya Allah, semoga keputusan yang aku ambil ini yang terbaik untukku, keluargaku, dirinya dan keluarganya. Berikanlah hamba kelancaran dalam memenuhi sunah Rasul ini. Rabbana hablana min azwajina wa dzuriyatina qurrota a'yun waj'alna Lil mutaqina imama."

Setelah selesai, ia melipat sajadah dan menaruhnya di atas kasur. Pandanganya menuju rak-rak kitab yang tersusun rapi kitab-kitab.

"Semoga pilihan guru saya, Pak De Huda dan pilihan Abah ini yang terbaik untuk saya. Bismillah, Zaf." Ia lepas peci hitam yang ia pakai, menaruhnya di atas nakas. Ia membersihkan atas kasur dengan sajadah tadi, tak lupa sembari membaca sholawat tiga kali. Setelahnya ia membaringkan badan di kasur. Waalaikumussalam dunia.

Sehabis subuh keluarga Kyai Abdullah sudah bersiap - siap. Namun sayang Kyai Huda tidak bisa ikut menemui keluarga yang hendak mereka sampaikan niat baiknya. Zafran pun sudah di rapi bersiap, menguatkan niat dan mental. Siap ditolak dan begitu siap untuk diterima.

Presma Pesantren Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang