[بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم]
"Kata-kata motivasi hadir karena sebuah pengalaman hidup."
____________
Di gerbang kampus sahabat Zalfa menunggu Zalfa dengan rasa khawatir. takutnya kejadian seperti kemarin. Jiwa sosial Zalfa sangat tinggi, begitulah dia, jiwa sosialnya tumbuh karena di pesantren, hidup berdampingan 24 jam, makan satu nampan, tan sakit jadi dokter dadakan. Makan harus sabar antre, semuanya tentunya butuh ikhlas dan sabar.
"Zalfa kemana si?" Ulfa bergerak gelisah, sudah ditunggu lama, yang ditunggu belum muncul juga.
"Itu orang hobi banget ngilang." Sahut Hana sambil pandangannya menelusuri jejak keberadaan Zalfa.
"Enggak tahu apa kita lagi khawatir." Ucap Ulfa sembari bersedekap dada.
Beberapa menit kemudian akhirnya Zalfa berada ditengah tengah mereka, yang lain sedang mengkhawatirkannya dia malah cengengesan seperti tanpa dosa.
"Assalamualaikum."
"Lo kemana aja si Za?" Ulfa menggenggam tangan Zalfa erat. Gemas lebih tepatnya.
"Kangen ya?" Jawab Zalfa merangkul pundak Ulfa. Ulfa memutar jengah bola matanya.
"Enggak, ayo pulang udah sore.cuma nunggu kamu doang." Saran Ulfa, dan diiyakan oleh mereka.
"Loh Khalwa?"
"Dia cuma sampai siang." Jawab Hana. Zalfa dan yang lain berjalan menuju halte, pasti lelah sekali Zalfa. Di Semarang sudah disediakan Bus rapit transit atau biasa disebut BRT, khusus pelajar dan mahasiswa hanya perlu membayar seribu jika menunjukkan kartu pelajar atau mahasiswanya. Namun pemberhentian bus harus di halte, jadi untuk sampai ke pesantren butuh jalan kaki selama lima menitan.
Sampai di pesantren mereka melakukan kegiatan di pesantren seperti solat jamaah dan madrasah malam. Sepulang dari madrasah Zalfa harus mengerjakan tugas hukuman dari Pak Joko.
Zalfa masih sibuk dengan beberapa kertas folio. Begitupun yang lain sibuk dengan urusan masing-masing.
"Sibuk banget Za?" Tanya Hana melihat tumpukan kertas folio dihadapan Zalfa.
"Gara - gara Gus Zafran juga." Zalfa memutar bola matanya malas. Iya malas mengingat kejadian tadi siang, mana pakai jatuh di depan fakultas. Iya malulah sampai ubun - ubun.
"Kok bisa?"
"Pokoknya ceritanya panjang, mendingan kamu bantuin aku ini, kriting tangan aku cah." Zalfa merenggangkan otot tangganya. Ia baru saja menyelesaikan dua lembar kertas bolak-balik.
"Oh tidak, itu kan hukuman, jadi mah kita angkat tangan deh, selamat mengerjakan kita pasti bantu do'a kok ya." Ujar Hana. Ia kembali fokus dengan buku yang ia baca.
"Bilang saja enggak mau bantu." ujar Zalfa kesal dan kembali menulis tugasnya.
"Lah itukan tahu." Hana tertawa puas mendengar Omelan Zalfa. Bodo amat dengan ucapan Hana Zalfa kembali melanjutkan tulisannya.
Tok tok tok
"Siapa?" Tanya Hana mendengar pintu kamar mereka diketuk padahal ini sudah malam, tidak mungkin juga pengurus yang datang kemari.
"Lo kata Gue cenayang gitu, iya udah buka sana!" Titah Ulfa kepada Hana.
"Halo Mpok Ulfa, ini di pesantren bisakah lo-gue nya di ganti aku-kamu, ana - anti, atau aku-sampean. Woke?" Peringat Khalwa. Semua terkekeh mendengar Omelan Khalwa kepada Ulfa. Soal peraturan memang Khalwa penegak peraturannya. Ulfa hanya mengangguk seraya terkekeh.

KAMU SEDANG MEMBACA
Presma Pesantren
Ficção GeralGus dan Santri. Kisah klasik sering kali ditemukan. Tak lain dengan Zalfa gadis 19 tahun yang punya kegaguman dengan Zafran. Tidak lain ialah anak pemilik pondok pesantren yang ia tempat, dan lagi? Dia seorang Presiden Mahasiswa di kampusnya. Dia la...