#Bab 31: Selangkah Lebih Maju

5.4K 364 82
                                    

Matahari mulai beranjak naik, panas serasa menembus tulang. Namun tidak dengan Zafran, tangan, kakinya semakin terasa dingin. Dadanya juga berdetak lebih kencang dari biasanya. Kotak Cincin dengan beludru merah ia genggam dengan erat. Padahal benda itu tidak akan loncat kemanapun. Netra legamnya menatap benda itu, ah diterima atau tidak ya cincin itu?

Aneh?

Rasanya sangat mendebarkan, dari pada ujian OSCE. Sepertinya waktu seperti ini memang mulut maunya berbohong. Akan dia siap? Memulai langkah menemukan teman hidup bersama? Lucu?  Orang gila mana, mahasiswa semester 7 prodi kedokteran, asisten dosen, masih menjabat jadi Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa, kini mau melamar anak orang?

"Buset ternyata aku orang gilanya, menyala dompet dan otakku. Minggu depan LPJ -an, Senin depan OSCE, tahun depan pre-klinik, sekarang mau lamar anak orang, uang darimana Brader?"

Zafran mulai diambang frustasi, apakah niatnya benar? Apakah langkah yang dia ambil salah satu langkah yang tidak akan merugikan orang lain, anak orang, bahkan dirinya sendiri. Apakah ini yang dinamakan ngebet nikah?

"Dompet Umi, Abah kali ya?" Zafran terkekeh pelan. Mengacal rambut yang sudah ia tata rapi. Entahlah melihat Rizky dengan Zalfa waktu itu, mampu membuat dirinya goyah, bagaimana jika ia kehilangan Zalfa. Ternyata cinta bisa membutakan anak kedokteran si ambis yang bodo amat mengenal cinta. Ah pacaran saja dengan semua laprak-laprakmu itu, atau buku yang tebal itu ngapain galau tentang cinta.

Pintu diketuk, laki-laki segera beranjak. Mengambil dompet dan kunci mobil. Berdoa saja semoga hari ini lancar. Benar saja Alif, Abangnya berada tepat di depan pintu.

"Ayo berangkat!" Laki-laki itu melempar kunci mobil ke arah Zafran, sontak pria itu dengan sigap menangkapnya.

"Aku dikongkon membelah diri opo piye?" Zafran menunjukkan dua kunci mobil ditangan kanan-kirinya. Lantas membuat tawa Alif semakin mengudara.

"Iya, sini!" Keduanya lantas turun lobi, dimana semuanya sudah berkumpul di sana.

Berdoa sebelum berpergian adalah suatu kewajiban di keluarga mereka. Entahlah musibah tiada yang tahu, sebagai manusia berusaha mewanti-wanti. Satu-satu persatu memasuki mobil yang telah sedia. Tiga mobil rombongan melaju menuju tempat tujuan mereka. Sepanjang jalan bibir Zafran tidak henti melafalkan dzikir-dzikir dan doa. Semoga dilancarkan, semoga dimudahkan, semua di terima. Iya begitu saja, sederhana bukan.

Keadaan yang tidak terlalu ramai, memudahkan mereka untuk sampai dengan waktu relatif cepat di rumah tujuan mereka. Mobil masuk ke sebuah perumahan.

"Perumahan orang kaya ini Zaf. Bisa aja loh Zaf enggak menerima pelayan cafe kaya kamu." Celetuk Alif, yang memilih naik semobil dengan Zafran, daripada harus menyetir mobil.

"Astaghfirullah. Bapaknya dia juga anti mainstream loh Bang. Ada tuh pesantren yang lebih mewah dan fasilitas bagus, Bapaknya lebih milih pesantren yang lebih sederhana, padahal bisa saja dia nyekolahin disana."

"Iya semua tergantung mindset."  Suasana lebih hangat dari sebelumnya. Gerbang terbuka dengan lebar menyambut kedatangan rombongan. Melihat gerbang rumahnya saja sudah dibuat hati berdesir, bagi Zafran terutama. Satu persatu rambongan masuk ke dalam rumah, tentunya diterima dengan baik oleh Sohibul bait.

"Wah calon manten nih, insyaallah ya!"

Wajah Zafran sudah tersipu, belum duduk saja ia sudah digoda seperti ini apalagi kalau sudah ke inti acara. Berbagai hidangan camilan terhidang dengan rapi di depan mereka. Begitu dengan calon besan, yang sibuk bercengkrama satu sama lain. Berbeda dengan Zafran, sudah dibuat berdebar. Walaupun ia tahu kalau tidak akan hadir calon istrinya di sini. Acara ini hanya sekedar simbolis saja. Pertemuan dua keluarga yang akan menyatukan ikatan itu.

Presma Pesantren Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang