Sepertinya hari ini adalah hari yang tak biasa. Karena jika itu hari biasa,maka Dewa akan bermalas-malasan untuk berangkat kesekolah. Apalagi alasannya kalau bukan bosan di tempeli Dara. Dari berangkat sampai pulang. Untung mereka tidak satu kelas. Tidak kebayang bagaimana menderitanya seorang Dewa jika memiliki CCTV aktif bernyawa.
Dan hari ini dengan gaya tidak sabarannya, Dewa menunggu penghuni rumah sebelah dengan ada maksud tujuan tertentu. Bukan karena ingin yah. Bukan. Ini keadaan darurat.
" Demi Tama" batin Dewa
Padahal tumben-tumbenan seorang Dewa mengkhawatirkan nasib orang lain. Padahal dia adalah sejenis makhluk tertega.
Setelah melihat kuncir kuda beserta box makanan yang berisi kue milik tetangga sebelahnya keluar pintu rumah. Maka dengan tergesa-gesa Dewa turun dari kamarnya menuju pintu depan. Dan mengabaikan orang tuanya yang mengernyit melihat anak semata wayang mereka seperti tidak biasanya. Dimulai dari sarapan dikamar kemudian pergi tanpa pamit.
" ada apa dengan Dewa mah? Kok kayak dikejar setan" ucap Indra Ayah dewa kepada istrinya.
Anggun, ibu dewa yang sejak tadi menyiapkan sarapan untuk suaminya kini hanya mengangkat bahu tanda tidak mengerti dengan sikap tak biasa anaknya hari ini.
***
Dewa dengan gaya jumawa keluar dari pintu gerbang rumahnya yang kebetulan tetangga sebelah rumahnya juga baru saja menutup pagar rumahnya juga.
"Ekhmm, hei kurcil. Jangan dekat-dekat dengan Tama. Dia itu tidak selevel dengan Kurcaci kecil sepertimu" Dengan berdehem mengawali percakapan hari ini, yang lagi-lagi tidak biasanya.
Sedangkan Dara yang sejak dari awal belum menyadari keberadaan Dewa langsung berbalik dan tersenyum.
"Eh, Selamat pagi Dewaku. Apa gerangan ucapan pembuka tadi" Dara dengan mengulum senyum karena merasa luar biasa mendengar Dewa memulai percakapan setelah sekian tahun.
" Dewaku,dewaku! Sebutan apaan itu. Gak berubah sama sekali. Aku bukan dewamu dan aku gak suka dengan sebutan itu"
Dara yang tadi tersenyum bahagia kini jadi terdiam.
" loh,kok gitu ? Kan selama Dewa masih belum ada yang punya maka sebutan Dewaku itu adalah hak paten"
" siapa bilang hak paten. Jangan ngarep yah" Dewa berucap ketus.
" akulah. Kan Dewa milik aku" Dara berucap bangga.
Dengan berdehem kecil dan wajah merah mendengar ucapan kepemilikan Dara mengenai dirinya.
" Ahh.. Sudahlah. Masalah itu nanti aja dibahas. Pokoknya yang penting, mulai hari ini jauh-jauh dari Tama"
" kok gitu? Memangnya Tama yang bilang" Ucap Dara tidak terima.
" Ya iyalah, siapa lagi. Rakyat merayap sepertimu tidak pantas untuk sekelas Tama. Dia itu Dirgantara sedangkan kamu .. " Ucap Dewa lengkap dengan ekspresi merendahkannya.
" Masa Tama kayak gitu, Gak mungkin deh. Tama kan selama ini orangnya ramah dan sepertinya kemarin dia tidak bilang apa-apa deh. Heran" Ucap Dara dengan ekspresi heran mengabaikan ucapan terakhir Dewa mengenai dirinya dan status sosialnya.
Sedangkan Dewa yang kelagapan, merasa hampir ketahuan. Memasang alibi lain.
" Yah, Tama yang bilang sendiri kemarin di ruang Osis. Iya waktu habis rapat " merasa bersyukur bisa memasang alibi lebih meyakinkan menurutnya.
" oke deh. Mulai sekarang aku akan jauh-jauh dari Tama. Kasihan Tama kalau karena aku dia terganggu" meskipun heran tapi ujung-ujungnya mengiyakan petuah Dewa.
Dewa pun merasa bersyukur akhirnya rencana menjauhkan Tama dari marabahaya. Berhasil.
Seperti beban nafasnya lebih lega sekarang.
Sedangkan Dara kini merasa sedih sebab Tama adalah salah satu teman tak sengajanya yang menurutnya cukup baik selain sahabatnya.
Dan kini Tama juga akan dia jauhi.
Sedangkan Dewa yang sejak tadi merasa bahagia sudah melancarkan rencananya kini jadi berkerut kembali melihat wajah sedih Dara. Dan dia tahu alasannya. Tama.
Dan Dewa tidak suka itu.
***
Dewa yang sejak tadi layaknya agen mata-mata antara Dara dan Tama kini pasang badan baik-baik melihat interaksi mereka berdua.
Sedangkan Tama yang melihat adegan kucing-kucingan Dara seakan menghindari dirinya kini dibuat bingung. Kira-kira apa salahnya ke Dara.
Pertama, Dimulai tadi pagi saat berpapasan di pintu gerbang. Tama dengan senyum cemerlangnya melihat Dara dan Dewa beriringan sekaligus ingin menyapa Dara tapi ternyata sebelum kalimat sapaannya keluar, Dara sudah ngacir duluan entah kemana.
Kedua, jam istirahat sebelum kekantin. Biasanya Dara tidak pernah absen menyambangi kelas Dewa hari absen. Dan paling anehnya hanya kotak makanan titipan untuk Dewa yang datang.
Dan sekarang, dikantin sekolah saat Tama ingin mendatangi kerumunan pembeli kue milik Dara, sekaligus ingin membeli kuenya juga. Kini tiba-tiba ngacir lagi entah kemana setelah melihat Tama meninggalkan kerumunan pembelinya. Aneh kuadrat kan.
Sementara Dewa yang sejak tadi mengamati, tertawa bahagia dalam hati. Misi pertamanya sukses.
Untuk merayakan kegembiraannya maka keanehan Dewa terjadi lagi. Bagaimana tidak, sejak tadi tersenyum tidak jelas kesana kemari dan seperti dikelilingi pelangi saking berwarnanya senyum Dewa hari ini.
Meninggalkan dua orang anak manusia yang dia buat berjauhan dengan misi penyelamatan Tama, yang sebenarnya tidak jelas itu.
Menyelamatkan Tama ataukah dirinya ? Heran kan.
Setelah atensi Dara hilang dari pandangannya kini, Tama kembali melihat kedepan. Karena Tama dan Dewa satu meja dan berseberangan. Dan keanehan lainnya ialah Dewa yang tidak berhenti tersenyum tidak jelas. Masa iya, tersenyum kearah kotak bekal dan memakan bekal Nasi goreng dari Dara. Yang tumbennya hari ini disentuhnya. Dan sekarang hampir ludes tak bersisa.
"Dara aneh hari ini, tapi lebih aneh lagi Dewa. Apa hari ini jadi hari yang aneh" batin Tama.
Tbc
Vote and coment 💃
Sebagai amunisi semangat.
Selayar, 2 juli 2020
22.12
KAMU SEDANG MEMBACA
SWEET AND SPICY
ChickLitE N D🌼1/7/2020 -- 30/6/2021 Dewa yang Arogan, Sinis, dan bermulut pedas. Tidak terima ketika Dara si pendek, gemuk, dan Cengeng, menjadi Tetangga sekaligus stalker nomor satunya. Dimana ada Dewa maka Dara akan menyertai, kayak gula dan semut. seper...
