4. Jadi Tersangka

1K 102 6
                                        

Pemandangan kali sungguh terbalik, jika biasanya wajah Dewa selalu menggerutu jika ada Dara dipandangannya, sedangkan wajah sumringah Dara jika melihat Dewa. Sungguh kini terbalik.

Bus sekolah yang mengantarkan Dewa dan Dara yang kini berdesak-desakan oleh padatnya siswa lain, adalah hal yang biasanya. Tapi yang tak biasa adalah kini Dewa yang dengan senantiasa ikhlas memberi tempat duduk disampingnya yang biasa ia kosongkan dan yang hanya berpenghuni tas mahalnya, penghuni bangku disampingnya kini diisi oleh Dara. Yah, Dewa memang setega itu, disaat orang lain berdesak-desakan dan tidak kebagian tempat duduk, lain halnya dengan Dewa yang memiliki dua kursi untuk dirinya dan tasnya. Jangan kira orang lain tidak pernah mencoba menduduki kursi disamping Dewa, oh jelas pernah. Siapa lagi kalau bukan Dara. Tapi yang didapat justru kalimat Maha manis dari mulut Dewa sepanjang jalan hingga sampai tujuan. Lengkap dengan kalimat judes, ketusnya. Sehingga orang-orang yang melihat kejadian hari itu, memilih mundur teratur dan lebih baik berdesak-desakan daripada meladeni mulut manis Dewa.

Maka kejadian hari ini sungguh menyita perhatian siswa lain yang melihat Dewa dan Dara duduk berdampingan. Yah lain ceritanya jika Dara yang jadi ekor Dewa itu bukanlah hal yang baru. Seantero sekolah juga tahu soal Dara dan Dewa.

Dewa yang sejak tadi tersenyum dan rasanya giginya mulai kering saking sumringahnya melihat Dara cemberut sepanjang hari ini. Apalagi kalau bukan masalah jurus menghilangnya dari hadapan Tama. Yang entah sampai kapan akan Dara lakukan. Rasanya baru sehari berlakon tikus takut kucing, tapi Dara merasakan Capek luar biasa. Bagaimana tidak, dimana ada Tama maka Dara akan menghilang saat itu juga.

Sungguh ucapan Dewa pagi tadi, menguras pikirannya.

" Hei, kurcil. Kenapa tuh muka. Kusut amat kayak jemuran" mencoba menarik perhatian Dara dari lamunannya.

" Heh, emang Tama seberharga itu yah? Jangan-jangan sudah berubah haluan lagi suka Tama " sekali lagi mencoba mengganggu Dara.

" Tama itu salah satu teman yang ramah dan tidak pilih-pilih status sosial. Baik pula sering borong kue yang aku jual. Nih lihat kuenya sampai tidak habis gara-gara tiap lihat Tama ngacir melulu dan tinggalin pembeli pula" akhirnya Dara menyampaikan unek-unek yang mengganggunya.

" ck, Tama itu gak selevel sama kamu. Dia itu kaya raya dan tidak harus temenan sama modelan kayak kamu" Dewa masih mencoba memberi petuah.

" Kenapa sih Dewa, sering ingatkan status sosial. Kan bikin minder" Dara memelankan ucapannya seperti bisikan untuk dirinya sendiri.

" Tau ah " akhirnya Dewa memilih bungkam dan menoleh kearah jendela bus. Suasana hening pun kembali tercipta.

***

Terhitung tiga hari semenjak Dara menghindari Tama.

Dan rasanya hari ini Tama sudah tak tahan lagi dengan sikap Dara yang tak biasanya ini. Pokoknya hari ini juga Tama harus berbicara dan menanyakan perihal sikap tak biasa Dara tiga hari terakhir.

Jadi dengan berhati-hati sebelum Dara melihatnya dan menghindar duluan, maka Tama yang akan beraksi lebih dulu.

Seperti sekarang setelah mengetahui kebiasaan Dara menyambangi kelas Dewa tiap jam istirahat. Maka Tama yang satu kelas dengan Dewa akhirnya bersembunyi dibalik pintu kelas setelah melihat Dara dari kejauhan berjalan kearah kelasnya.

Dengan menghitung dalam hati, dan sesuai perkiraan. Dara akan berlama-lama dikelas jika ada Dewa, kini celingak celinguk mencari Dewa yang kebetulan Tama tahu yang dicari Dara itu sedang dipanggil kepala sekolah sebelum jam istirahat tadi.

Dengan memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin, Tama muncul dari persembunyian dan mengagetkan Dara yang kebetulan membelakanginya dan berdiri disamping bangku Dewa.

" Akhirnya ketemu juga. Capekkan sembunyi terus. Emang aku salah apa sih, selama tiga hari ini dihindari terus kayak virus" Tama memulai mengeluarkan kekesalannya ke Dara yang kini justru membeku, yang sebelumnya Dara yakini kalau Tama sudah tidak ada dikelas Dewa dan ternyata dia salah.

" Eh, Tama. Apa kabar? Baikkan. Oh iya kayaknya aku ada urusan deh. Duluan yah" Dara mencoba berkilah dan berlalu.

Tama yang sadar aksi Dara akan kabur pun kini menahan lengan Dara sebelum lolos lagi kali ini.

Dara yang sadar kalau hari ini dia sudah tidak bisa menghindar lagi dari Tama akhirnya mencoba bernegosiasi kembali.

" sebelumnya aku mau minta maaf kekamu yang ternyata selama ini merasa terganggu dengan pertemanan kita" Ucap Dara dengan menundukkan wajahnya seperti lakon pencuri yang ketahuan.

Ekspresi Tama kini dibuat heran oleh ucapan Dara yang justru semakin membuatnya tidak mengerti.

"Maksud kamu apa? Siapa yang bilang begitu. Aku tidak merasa terganggu kok, malahan seru tiap hari bersilat adu judes mulut kalau ketemu kamu "

Dara yang sebelumnya menunduk kini mendongakkan kembali wajahnya dan melihat kearah Tama yang sedang memasang wajah heran. Kini Dara pun dibuat heran juga dengan ucapan Tama barusan.

" Loh, katanya kamu yang risih temenan sama aku, dan menyuruh Dewa untuk jauh-jauh dari kamu" Ucap Dara yang kini sama herannya dengan Tama.

" hah? Kapan? Perasaan tidak pernah deh aku bilang begitu" Tama semakin heran setelah nama Dewa disebutkan.

" tiga hari lalu sepulang sekolah dan setelah kalian selesai Rapat Osis. Yang saat itu jalan berbarengan dengan Dewa" Ucap Dara menjelaskan.

"Dewa ?"

" iya. Dewa"

Sedangkan Dewa yang tadi dipanggil kepala sekolah kini jalan terburu-buru menuju ruang kelasnya. Saat teringat Dara akan kekelasnya setiap jam istirahat dan menduga Tama belum kekantin.

Jangan sampai mereka bertemu.

Gawat

Gawat

Gawat

Tapi yang di khawatirkan terjadi juga, dan kini dua pasang mata yang berdiri berhadapan di depan bangkunya melihat kearah pintu kelas dan melihat tersangka utamanya. Dewa yang ngos-ngosan.

Mati,

Ketahuan

Tama dan Dara berbarengan mengejar Dewa yang kini putar arah melihat dua anak manusia yang dia obrak-abrik hari-harinya selama t9ga hari terakhir.

Dan kini terjadi aksi kejar-kerjaran di lorong kelas antara Tama dan Dara mengejar Dewa.

Sedangkan orang-orang yang tidak tahu masalah mereka bertiga dan melihat aksi mereka kini hanya geleng-geleng kepala.

Dewa yang aksinya sudah ketahuan dan kini sudah dijadikan tersangka.

Tuhan,selamatkan Dewa kali ini

Tbc

Sepi amat yak! Gak ada coment😉

Selayar, 3 Juli 2020
12.18

SWEET AND SPICYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang