8. Seperti Khayalan

763 93 2
                                        

" Harga terigu sekilo berapa?

" 10 ribu "

" Minyak goreng seliter?"

" 17 ribu"

Minggu siang ini, Ada yang beda dengan pembeli kali ini karena dengan tak biasanya membeli bahan sembako di tokonya. Karena selama lima tahun tokonya dibangun maka baru kali ini pembeli dadakan itu datang.

" totalnya 27 ribu"

Seketika pembeli yang ternyata adalah Dewa yang kini membayar belanjaannya dengan memberi satu lembar uang lima puluh ribu dan setelah menerima satu kantong kresek pesanannya langsung saja berlalu tanpa menunggu uang kembalianya.

Sedangkan Dara yang sejak tadi sibuk melayani pembeli sekaligus mencari uang kembalian langsung meminta maaf ke pelanggan lainnya dan mengejar Dewa yang sedikit lagi keluar dari pekarangan rumahnya.

" Dewa, kembaliaanya ketinggalan"

" Dewa, Oy.. Kembaliannya" dengan ngos-ngosan mengejar Dewa yang nyatanya tidak mengindahkan panggilannya. Penyakit budek sepertinya kambuh lagi.

" Yah, gak dengar kayaknya si Dewa. Bagaimana ini, pelanggan masih ada" Dara bermonolog karena dilema antara mengejar Dewa atau melayani pelanggannya yang masih menunggu di tokonya. Akhirnya dengan berfikir sejenak Dara putar balik kearah rumahnya dan memutuskan nanti saja menyerahkan uang kembalian milik Dewa. Melayani pelanggan tidak bisa menunggu sedangkan uang kembaliannya nanti dititipkan saja di mang Ucup. Yah, itu lebih baik.

Sedangkan Dewa yang sejak tadi jalan dengan terburu-buru dari arah rumah tetangganya kini telah sampai dirumahnya dan langsung menyerahkan belanjaannya ke arah Bi Inem yang justru sekarang keheranan dengan kantong belanjaan yang isinya hanya terigu sekilo dan satu bungkus minyak goreng, padahal seingatnya kedua bahan tersebut masih banyak tersedia dan rasanya tidak kekurangan sekalipun. Jadi untuk apa Dewa berbelanja.

" Den, ini untuk apa? Den mau dibuatkan apa? "

" Buat apa saja Bi, bakwan boleh" setelah menjawab pertanyaan Bi Inem kini Dewa naik kelantai dua menuju kamarnya.

Setelah itu langsung berbaring di ranjang kamarnya dan merutuki kebodohannya.

Gila

Gila

Gila

Buat apa coba belanja gak jelas.

Sepertinya besok benar-benar harus kedokter.

Dokter mata? Dokter syaraf? Atau dokter jantungnya?

Ketiganya saja kayaknya.

Fix, Dewa gila.

Setelah melakukan denial berulang kali akhirnya Dewa memutuskan untuk kedokter besok sepulang sekolah.

Sepertinya otaknya banyak dipakai berfikir sehingga tidak berselang matanya mulai kantuk.

***

Sore hari setelah dirasa pembeli mulai berkurang maka dengan menutup sementara tokonya dan karena akan kerumah tetangganya untuk mengembalikan uang yang belum sempat di ambil Dewa. Sesuai rencana Dara hanya akan menitipkan uangnya di mang Ucup saja.

Tapi setelah melihat kesibukan mang Ucup yang menyiram bunga dan memangkas rumput rasanya Dara jadi tidak tega mengganggu.

" Mang"

" Eh, Neng Dara. Kenapa Neng? Mau ketemu Den Dewa? " Yah, setidaknya karen mang Ucup sering menyaksikan drama gula dan semut antara tuan mudanya dan nona samping rumah, mang ucup pun tahu hubungan keduanya.

SWEET AND SPICYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang