12. Kawan dan Lawan Baru

714 81 0
                                        

Karena Cinta harus diperjuangkan,
Jangan mengharapkan memiliki jika takut berjuang

Andara Bintang

****

Entah apa yang membuat dipagi hari menjelang upacara bendera dihari senin suasana barisan kelas sebelah heboh dan dipenuhi suara berisik sana sini.

Setelah berusaha berjinjit beberapa kali, maklum Dara yang badannya sedikit mini dan kebetulan posisi berdirinya di tengah-tengah barisan jadi kesulitan untuk menengok kearah sumber kericuhan dipojok kanan sana dan menurut perkiraan posisi kanan pojok biasanya ditempati oleh kelas populer sekolah mereka dan kebetulannya memiliki siswa-siswa populer lainnya, anggaplah salah satunya Dewa dan Tama. Sang ketua dan wakil ketua Osis.

Setelah melihat siapa gerangan yang membuat heboh Dara kini justru memasang wajah heran.

Tania yang ada dirumah Dewa waktu itu kan?

Kenapa dia ada disekolah? Ehh.. Loh kok pake seragam sekolah ini? Batin Dara.

" itu siswa baru yah? " Tanya Dara  ke Simon teman sekelasnya yang kebetulan berada didepannya.

" Mungkin, gak tau juga. Iya kali" jawab Simon acuh karena fokus menghalangi wajahnya dari terik matahari.

" Ck, gak asik lo"

" Biarin "

Tak lama berselang Upacara pun dimulai dan berlangsung dengan hikmat.

Kini Dara berjalan menuju ruang kelasnya setelah upacara selesai sambil mengipasi wajahnya dengan topinya. Belum juga berjalan cukup jauh dari lapangan. Tiba-tiba ada suara yang memanggilnya.

" Andara.. Eh Dara"

" Siapasih? " kemudian berbalik dan melihat Tania yang berlari-lari kecil menuju kearahnya. Setelah Dara tahu siapa yang memanggilnya kemudian berhenti sejenak dan menunggu sang pemanggil namanya.

" Hai, dari tadi aku cari-cariin kelasmu loh. Gak kelihatan, ehh kurcilnya Dewa" Dengan wajah riang Tania menyapa Dara dengan kalimat penutup yang membuat wajah yang di goda memerah tersipu.

" Ya elah, merah tuh pipi kayak tomat busuk" dan tak ada habisnya menggoda  Dara.

" Tania udah deh" dengan cemberut Dara menghentikan Tania menggodanya.

" Iya deh, iya. Eh temanin Tania keliling sekolah yah secara siswa baru dong" Tania kembali memasang wajah polos dan meminta Dara.

" Yah elah, oke deh"

" sekarang Dara dan Tania harus mulai berteman. Oke? "

" Iya deh, iya" Dara mengiyakan permintaan Tania daripada jadi panjang lebar padahal sebentar lagi kelas akan dimulai.

" Duluan yah Tania. Mau masuk kelas soalnya"

" Oke, kurcilnya Dewa. See you kantin nanti" setelah membuat pipi Dara memerah kembali dan tiba-tiba saja berbalik badan meninggalkan dengan tak tak bertanggung jawab.

Huff..

***

Melihat gelagat anaknya yang biasanya pendiam kini tambah tak
tak bersuara sejak tadi dimeja makan.

" Dewa.. Dewa " Anggun sejak tadi memanggil-manggil nama anaknya yang kini melangkah naik kelantai dua kearah kamarnya.

" Eh iya mah, ada apa? " Dewa yang sejak kamarin konsentrasinanya terbagi dan membuatnya sedikit tidak fokus kini menoleh kembali kearah Ibunya yang menyusulnya ke arah tangga.

" Kamu dengar nak, tadi Ayahmu berpesan kalau kamu disuruh untuk menyusul ke ruang kerjanya. Mama fikir dari tadi Dewa tidak fokus jadi mungkin tidak mendengar perintah ayahmu"

" Oh baik mah, nanti Dewa menyusul. Ini mau ke ruangan Ayah kok mah" Ungkap Dewa setelah faham maksud Mamanya dan berterima kasih karena sudah mengingatkan Dewa.

Setelah berpamitan sebentar akhirnya Dewa pun berjalan kearah ruang kerja Ayahnya yang berada dilantai dua.

Tok tok tok

" Masuk"

" Ayah "

" Duduk disini Dewa. Ada yang akan ayah bicarakan" perintah ayahnya yang kini masih sibuk dengan berkas-berkas yang Dewa tak tahu apa itu.

" Fortofoliomu sudah ayah siapkan dan siap untuk dikirim"

" Baik ayah"

" Dan ayah punya rencana nanti saat kuliahmu tiba dan Oxford telah menerimamu sebagai mahasiswanya maka dengan itu kamu akan ayah titipkan di Om Irawan yang kebetulan sekarang menjadi Arsitek di Inggris"

" Om Irawan? Arsitek?" Dengan muka heran kini Dewa bertanya-tanya siapa yang dimaksud ayahnya.

" Rekan sejawat ayah dulu sewaktu kuliah dan yang menjadi partner saat merintis usaha ayah. Yang dulu sering kesini bersama keluarganya. Dan jangan lupa dengan anaknya yang menjadi teman bermainmu dulu" Melihat gelagat anaknya yang tidak mengerti sejak tadi dan dia maklum karena Dewa masih sangat kecil saat Irawan masih di Indonesia sebelum pindah ke Inggris.

" sebagai tambahan tahun depan Om Irawan akan berkunjung kesini dan masih ada pembicaraan berlanjut setelah sampai waktunya tiba"

"Maksud Ayah? Pembicaraan berlanjut apa? " Dewa kini semakin dibuat heran oleh perkataan ayahnya.

" Nanti kamu akan tahu. Cukup itu saja. Sekarang kamu bisa kembali"

" Baik Yah" Dewa meninggalkan ruangan ayahnya dengan fikiran yang tambah bercabang.

Setelah pintu ruang ayahnya tertutup kembali kini Dewa berjalan kearah kamarnya atau lebih tepat kearah balkon rumahnya.

Entah untuk apa, tapi Dewa kini justru menuntun kakinya kearah balkon dan untuk beberapa saat memandangi balkon rumah sebelah yang pemiliknya kini justru sibuk di lantai satu membantu pembeli dan tak menyadari ada mata yang sejak tadi memandangi balkon rumahnya dengan sendu. Entah alasan apa.

Kenapa rasanya Kata Oxford itu tak seminat dulu lagi.

Rasanya hambar dan tanpa sebab.

Hufff...

Selamat malam bintang dilangit.

***

Apa alurnya lambat?
Atau ada masukan lain?

Salam
Selayar, 16 Juli 2020
14.04



SWEET AND SPICYCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang