S E M B I L A N B E L A S

9.2K 467 42
                                        

Setelah bergonta-ganti sandal akhirnya Naree menemukan piliihan yang pas juga dihatinya. Untuk saat ini dia sendiri tidak tau pasti kemana dia akan berlayar setelah dia dan Jimin resmi bercerai.

Hembusan angin terasa dingin di kulitnya, bibirnya tertawa hambar tak habis fikir dengan skenario murahan dimana didalam naskah itu ia turut mengambil peran. Disini hanya ada permainan takdir yang amat rumit. Harusnya sejak awal Jimin tidak perlu menepati janji terhadap Ayahnya untuk menikahinya, karna jika itu tidak terjadi mungkin Lea tidak akan pernah kegugguran.

Secara tidak langsung Naree seperti orang ketiga dalam hubungan Jimin dan Lea, Naree memang mencintai Jimin.

Tapi dia tidak sejahat itu.

Dia mengusap air matanya cepat ketika cairan bening itu mengalir dengan begitu cepat. Dadanya terasa sesak meski harus tertawa hambar menertawakan nasibnya.

"Nuna menangis?" Tanya seseorang dibelakangnya membuat Naree menghapus sisa-sisa air matanya.

"Aniya aku hanya kelilipan," bohongnya sambil berusaha mengatur nada bicaranya agar tidak terdengar bergetar.

Jaehyun pemuda itu menarik nafas, "Ah aku sempat khawatir terjadi apa-apa dengan Nuna. Hg Nuna ingin pergi kemana?" Tanyanya saat menyadari koper besar yang dibawa Naree.

"Aku ingin pergi ke rumah kontrakanku," jelas Naree.

"Tapi bukankah Jimin hyung sudah memberikan rumah ini padamu?"

Naree mengelengkan kepala lemah, "aku tidak bisa tinggal disini lagi Jaehyun."

Setelah mengatakan itu dia mengangkat kopernya untuk segera meninggalkan rumah ini. Setelah agak jauh dari halaman rumah, tiba-tiba Naree dibuat terkejut karna kopernya dirampas oleh seseoraang.

"Jaehyun apa yang kau lakukan?" Tanya Naree tidak mengerti dengan sikap Jaehyun yang demikian.

Jaehyun tidak menoleh dan tetap fokus berjalan didepan Naree, "Nuna, asal kau tau. Kau tidak perlu bersedih karna Jimin hyung bersama Lea, karna ada aku disini yang selalu mencintaimu."

***

Ketika aku membuka mata, kepalaku terasa sangat berat. Aku sendiripun hanya melihat kegelapan di ruangan ini ketika mataku bertabrakan dengan cahaya lampu yang teramat silau.

"Lea kau sudah sadar?" Tanya pria disebelahku dengan raut wajah cemas lalu memanggil dokter.

"Kau siapa?"  Ucapku sambil memegang kepalaku yang terasa sakit, bersamaan dengan itu juga aku baru mennyadari jika kepalaku terlilit perban. Jujur aku tidak mengenali siapa pria ini, bahkan siapa namaku juga aku tidak ingat.

"Lea, apa yang—berhenti memukul kepalamu!" Teriaknya lalu menahan tanganku untuk menyakiti diriku sendiri.

"Sakit. . .," lirihku bahkan rasa pusing menyiksaku dengan sangat hebat.

"Tidak apa-apa, jangan dipukul lagi," dia membawaku kedalam pelukannya berusaha untuk menenangkanku. Mengelus-ngelus puncak kepalaku dengan begitu lembut sampai dokter selesai memeriksa keadaanku.

"Kau siapa?" Tanyaku ulang sebetulnya aku juga penasaran dengan siapa pria ini.

"Aku Park Jimin, tunanganmu."

***


Aku updatenya pendek sorry.

Mantep ya Jim hilang ingatan Lea kamu manfaatin.

𝐃𝐚𝐧𝐠𝐞𝐫𝐨𝐮𝐬Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang