"Anak-anak, minggu depan kita sudah mulai ulangan akhir semester. Jangan berleha-leha, apalagi bolos! Kalian tahu kan, nilai kalian masih di bawah rata-rata, kalo nilai kalian masih di bawah rata-rata kalian bakal gak naik kelas. Kalian harus sadar itu! Dan Bapak ingin tidak ada lagi yang bolos kelas tambahan." ucapan pak June memang sedikit tajam. Sengaja. Mungkin dengan kata-kata tajam, hati murid-muridnya bisa tersentil untuk lebih giat belajar.
Siswa-siswi kelas 2-1 menghela napas kecewa mendengar ucapan pak June. Boro-boro mengikuti kelas tambahan, kelas yang biasanya juga sudah membuat mereka malas. Pak June menatap wajah-wajah muridnya yang seolah tak minat, ia bingung harus bagaimana membuat mereka bersemangat untuk belajar. Tingkat kemalasan belajar mereka sudah akut jadi susah.
"Semangat ya! Jangan kecewakan Bapak, jangan kecewakan orang tua kalian. Setidaknya kalian harus semangat demi masa depan kalian sendiri."
Sebagian murid-muridnya tersenyum haru terutama Kali karena mendapat semangat dari pak June. Pak June ikut tersenyum, lalu ia mengakhiri jam belajarnya karena bel istirahat sudah berbunyi.
Murid-murid berhamburan keluar kelas sama seperti Ciji. Bedanya, murid yang lain ke kantin, sedangkan Ciji mengikuti pak June. Ada sesuatu yang harus ia sampaikan, sebenarnya ini ide sudah lama muncul di kepalanya tapi dia baru sempat akan menyampaikan pada pak June.
"Pak June!" pak June menoleh dan menghentikan langkahnya, menunggu Ciji menghampirinya.
"Pak June, saya mau ngadain belajar bareng gitu tapi cuma pelajaran matematika. Saya sama Arsenio bakal sharing ke temen-temen, kita les matematika di tempat yang sama. Kebetulan, saya juga sering belajar bareng sama Arsen. Jadi sekalian aja gitu ajak temen-temen yang lain, gimana, Pak?" sebenarnya Ciji belum bicara pada Arsenio kalo dia juga bakal ajak teman-teman yang lainnya. Ah mana Ciji pikiran, mau marah juga bodoamat.
"Bagus dong, Ji. Apalagi sebentar lagi ulangan, mereka juga pasti belum ngerti yang diajarin di sekolah. Mungkin kalo kamu yang ajarin mereka jadi paham."
"Masalahnya, saya takut mereka pada gak mau." ini yang Ciji takutkan. Nanti dikiranya Ciji sok ngaturlah, sok pinterlah, inilah itulah segala macam.
"Nanti saya yang bicara sama mereka. Pasti mereka bakal mau." Ciji menganggukkan kepalanya antusias. Ciji percaya pak June pasti mempunyai jurus jitu yang mampu melunakkan kepala batu teman-temannya itu.
"Makasih, Pak. Kalo gitu saya pergi dulu ya." Ciji berbalik setelah pak June menjawabnya dengan anggukkan. Ia segera melangkahkan kakinya menuju kantin menyusul Kali.
"Kal, pulang sekolah ke rumah gue ya?" Ciji duduk di samping Kali dan langsung menyomot ciki milik Kali.
"Hah? Ngapain?" tanya Kali bingung. Tumben sekali Ciji mengajak ke rumahnya. Biasanya jika Kali ingin ke rumahnya, Ciji pasti melarangnya.
"Belajar."
"Dih, ogah!" Kali memutar bola matanya malas dan melanjutkan memakan cikinya.
"Oke, terserah." Ciji terlihat tak peduli dengan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Kok gak maksa sih?" tanya Kali heran. Ciji orangnya kan apa-apa harus sesuai keinginannya, tapi kenapa dia terlihat tak peduli saat Kali menolaknya? Biasanya juga maksa sambil marah-marah.
"Nanti juga lo bakal ke rumah gue," jawab Ciji sambil tersenyum penuh makna.
.
.
Ciji tersenyum manis memandangi satu persatu wajah-wajah kesal temannya. Apalagi Arsenio, ia terlihat sangat kesal karena Ciji tak memberi tahunya terlebih dahulu jika mereka tidak akan belajar berdua saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Before You Go
Teen FictionKatanya, masa SMA itu paling menyenangkan. Namun, nyatanya banyak tekanan yang aku dapatkan. Katanya, remaja itu pikirannya bebas, mereka melakukan apa yang mereka suka. Namun, nyatanya jadi anak baik itu tuntutan mutlak. Mana ada kata bebas, bul...
