Happy reading
Ciji mendapat telepon dari ayahnya dan segera pulang. Ia sudah menebak hal-hal apa yang akan ayah lakukan kepadanya. Marah? Pasti, mukul? Ciji sudah siap. Ini memang kesalahannya karena bolos belajar, pasti bu Khansa langsung laporan pada ayah karena dirinya tidak masuk.
Ciji masuk rumahnya dengan santai, ia melihat ayahnya yang sedang duduk manis di ruang tamu, saat melihatnya langsung berdiri dan menghampirinya.
Mata ayah terlihat memerah karena marah, napasnya memburu dan tangannya terkepal dengan kuat. Lengannya terangkat, menunjuk muka Ciji.
"Kamu---" ayah membuang muka mencoba menahan amarahnya untuk tidak memukul Ciji.
"Apa lagi, Ciji? Masih mau main-main?"
Ciji menghela napas lelah, menatap ayahnya berani. "Apanya yang salah sih, Yah? Cuma satu kali ini aja."
"Kamu bener-bener ya!" ayahnya menggeram kesal sambil menatap Ciji tajam.
"Udahlah, Yah. Masalah sepele gak usah di gede-gedein," ucap Ciji sambil menatap ayahnya sebal.
"Ciji," panggil ayahnya dengan suara yang lebih pelan.
Ciji tersentak dengan panggilan itu, ia melihat kedua bola mata ayahnya yang terlihat kecewa dan sedih. Ciji menutup matanya sambil menghela napas dan kembali menatap mata ayahnya yang masih memandangnya pilu.
"Ayah cuma mau anak Ayah jadi manusia yang bisa dihargai banyak orang. Kamu tau, waktu Ayah jadi orang kecil, gak punya harta, gak bisa lanjut kuliah, semua orang natap Ayah sebelah mata, gak dihargai. Tapi kamu liat sekarang, saat Ayah jadi orang besar, sukses, mempunyai gelar, Ayah dihargai banyak orang." setelah mengucapkan itu, ayahnya langsung pergi ke kamar.
Ciji menyesal telah berucap seperti tadi. Pasti ayahnya sangat sedih dan kecewa. Ciji juga menyesal sudah meninggalkan waktu belajarnya bersama bu Khansa dan membuat ayahnya semakin kecewa. Tapi Ciji tidak tahu harus melakukan apa, ia hanya merasa bersalah.
Ciji mengacak rambutnya frustrasi lalu berjalan lunglai menuju kamarnya.
.
Ciji memandang wajah di depannya satu persatu. Ayah dan Bunda. Mereka sedang sarapan bersama, tumben 'kan? Entah kenapa jam segini ayahnya masih ada di rumah. Biasanya dia sudah pergi dari pagi sekali.
"Sebenarnya Ayah ini kalian anggap apa, sih?"
Ciji dan Bunda tersentak, langsung menatap Ayah yang kini mematap mereka dengan tajam.
"Masih mau disembunyikan dari Ayah?" Ciji dan Bunda saling tatap tak ngerti maksud ayah apa.
Bunda tersentak karena teringat sesuatu, "Biar Bunda jelasin, Yah."
"Kenapa kalian sembunyikan dari Ayah? Ayah gak penting di keluarga ini? Oh iya, kalian memang gak menganggap Ayah. Maaf, sudah membuat kalian tidak nyaman." lagi-lagi ayah pergi begitu saja.
Ciji melihat bunda menghela napas berat. Ia bisa merasakan apa yang bunda rasakan. Pasti bunda tidak bermaksud seperti itu, bunda hanya tidak ingin membuat ayah khawatir.
"Apa ini masalah bang Adit?" tanya Ciji meyakinkan dan bunda hanya mengangguk, ia tampak tidak tenang.
"Ini semua salah aku." Ciji menunduk.
Bunda menatap Ciji yang menunduk dengan sayang, ia meraih tangan Ciji dan menggenggamnya.
"Enggak, sayang. Ini bukan salah kamu. Bunda aja yang gak bilang sama ayah, jadi ayah marah. Bunda cuma gak mau ayah khawatir aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Before You Go
Teen FictionKatanya, masa SMA itu paling menyenangkan. Namun, nyatanya banyak tekanan yang aku dapatkan. Katanya, remaja itu pikirannya bebas, mereka melakukan apa yang mereka suka. Namun, nyatanya jadi anak baik itu tuntutan mutlak. Mana ada kata bebas, bul...
