Happy reading
Ciji kini sedang mengamati Satria dan Yera bergantian. Kemarin, ia juga dengar kalau Satria juga dipanggil ke kantor. Tapi ia tidak tahu masalahnya apa.
Ciji menatap ke bangku belakang, bangku Satria. Ia terlihat sedang tertidur dengan tenang tanpa beban. Kemudian Ciji menengok ke sebelah kanan, ke bangku Yera yang ada di sebelah kanan paling ujung. Yera tampak tenang dengan earphone di telinganya. Mereka seperti sedang tidak mendapat masalah. Sebenarnya ada masalah atau tidak?
Ciji jadi bingung sekaligus penasaran. Sepertinya ia harus tanya langsung kepada pak June.
Bel pulang sekolah berbunyi, membuat pikiran Ciji buyar seketika. Ia segera merapikan alat tulisnya, ia akan segera menemui pak June.
"Kal, duluan ya." Ciji menepuk pundak Kali lalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Kali.
"Mau kemana?" teriak Kali. Ciji kembali membalikan badannya.
"Secret." Ciji menaruh jari telunjuknya di depan mulut lalu kembali melangkahkan kakinya.
***
Pak June menatap dua orang di depannya bergantian. "Satria, Yera. Bersihkan aula ini sampai beres, kalian harus bisa bertanggung jawab terhadap apa yang telah kalian lakukan. Itu konsekuensinya."
Satria hanya menatap malas pak June, sedangkan Yera menatap ke arah lain, ia terlalu malas menatap pak June apalagi mendengar ceramah pak June.
"Kalian ja--"
"Durasi, Pak." Satria menyela, membuat pak June tersadar ini bukan waktu yang tepat untuk memberi pencerahan untuk mereka berdua. Apalagi mereka akan membersihkan aula yang sangat luas ini.
"Oke, kerjakan! Nanti Bapak cek." pak June pergi.
Menyisakan mereka berdua dengan keheningan. Satria mengeluarkan sesuatu dari tasnya, ternyata buku sketsa Yera lalu memberikannya kepada sang pamiliknya. "Sorry. Gara-gara gue, lo juga kena hukum."
Yera hanya menaikkan sudut bibir kirinya. Kemudian ia mulai mengelap kaca terlebih dahulu.
Satria merapikan kursi-kursi yang tak beraturan, ia susun ditumpuk menjadi sepasang-sepasang. "Lo gak marah?" Satria kembali membuka suara.
Yera menatap Satria datar, "cepet kerjain," ucap Yera pelan tapi penuh penekanan.
Sudah satu jam lebih mereka membersihkan aula yang sengat luas ini, namun tidak ada tanda-tanda semuanya akan selesai. Satria sedang mengepel, sama seperti Yera. Yera beberapa kali melihat jam di tangannya.
"Lo pulang duluan aja," ucap Satria yang sedaritadi memerhatikan gerak-gerik Yera.
Yera menatap Satria, "enggak."
Satria menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang entah sampai kapan akan selesai.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari luar. Pak June muncul dari balik pintu, perlahan pak June masuk ke dalam, mendekat ke arah mereka dengan dua botol minuman di tangannya.
Pak June memberikan dua minuman itu kepada Satria dan Yera. Mereka tidak menolaknya, dan langsung meneguknya. Sangat terlihat bahwa mereka kehausan.
"Sepertinya besok kalian tidak harus membersihkan aula." ucapan pak June membuat Satria dan Yera menatapnya dengan berbinar.
"Beneran, Pak? Jadi hukumannya udah beres?!" ucap Satria antusis.
"Saya tidak bilang hukumannya beres. Saya cuma bilang kalian tidak harus membersihkan aula, tapi bersihkan ruang seni mulai besok."
KAMU SEDANG MEMBACA
Before You Go
Novela JuvenilKatanya, masa SMA itu paling menyenangkan. Namun, nyatanya banyak tekanan yang aku dapatkan. Katanya, remaja itu pikirannya bebas, mereka melakukan apa yang mereka suka. Namun, nyatanya jadi anak baik itu tuntutan mutlak. Mana ada kata bebas, bul...
