Yera berdiri di depan ruangan konseling siswa. Dia mendengar percakapan dua orang yang sangat ia kenal. Ia tambah yakin saat melihat dari balik kaca pintu ruangan itu siapa yang sedang berbincang di dalam.
"Kamu tinggal hafalkan saja jawabannya. Ibu yakin, kamu bakal dapat nilai seratus." bu Nazwa memberikan kertas jawabannya.
Itu pasti jawaban soal uji kompetensi untuk senin depan.
Begitulah, Agatha mendapat nilai tertinggi bukan karena usahanya sendiri. Dia memang sangat busuk.
Yera sudah lama tahu dan dia masih diam. Namun Agatha tidak pernah meninggalkan hal buruknya itu, Yera sudah tidak tahan lagi.
"Tentu, terimakasih."
"Agatha...bisakah kamu berhenti merundung murid-murid lain?"
"Kenapa? Ibu udah gak mampu buat nutupin kasus-kasus saya?"
Yera mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sudah muak dengan apa yang ia dengar dan lihat. Kenapa Agatha selalu memperdaya orang lain? Kenapa juga semua orang mau diperdaya Agatha?
"Yaudah kalo Ibu masih mampu. Lakuin aja, gak usah banyak ngomong. Ibu juga dibayar, kan?"
"Saya permisi."
Yera bersembunyi dibalik tembok saat Agatha keluar dari ruangan. Lalu ia kembali ke depan ruangan itu dan masuk ke dalam.
Bu Nazwa terlihat terkejut saat Yera masuk. "Yera, ada apa kamu kesini?"
"Uang bisa bayar harga diri Ibu, ya?"
Bu Nazwa terlihat marah, "maksud kamu apa?!"
"Ibu gak malu udah melakukan hal sampah kayak gini?" Yera sudah lepas kontrol. Ia sudah tahan lagi dengan bu Nazwa. Akhirnya apa yang tersimpan baik-baik dari setahun yang lalu kini ia luapkan.
"Yera, jaga ucapan kamu!"
"Kalo saya sebarin semua kebusukan Ibu. Ibu masih milih uang apa harga diri Ibu?"
"Yera!"
"Ibu cuma bisa pilih satu, uang atau harga diri."
Bu Nazwa terlihat sangat marah dan ketakutan. Ia menatap Yera tajam.
"Sebaik apapun ibu nyembunyiin bangkai, pasti bakal ketahuan karena bau busuknya."
Yera pergi meninggalkan bu Nazwa yang masih meredam emosinya. Akhirnya ia bisa mengatakan itu semua pada bu Nazwa. Semoga saja bu Nazwa memilih jalan yang baik. Pasti.
***
Besoknya setelah ia memberanikan diri mengancam bu Nazwa. Mengancam? Ah iya, kemarin ia mengancamnya. Ternyata keputusannya untuk mengancam adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal yang ia lakukan.
Pagi sekali Yera datang ke sekolah. Dan entah bagaimana, Agatha tiba-tiba menariknya dan mendorongnya hingga terjatuh, tidak hanya itu dia juga mengucuri badannya dengan air, entah air apa yang jelas itu sangat bau busuk, Agatha dan gengnya juga melemparinya dengan telur, telur busuk.
"Berani sekali lo ngancam bu Nazwa hah?!"
Yera sangat yakin bu Nazwa mengadukannya pada Agatha. Kenapa bu?
"Lo mau gue pecat bokap lo?"
"Lo akan tau akibatnya bikin masalah sama gue. Liat aja."
Yera benci dirinya sendiri. Kenapa ia malah lemah seperti ini. Kemana semangatnya kemarin saat ia mengancam bu Nazwa dan akan menyebarkan kebenaran. Kenapa ia langsung tertunduk saat Agatha mulai merundungnya kembali, bukankah harusnya ia terbiasa? Tapi kenapa juga Agatha harus membawa-bawa ayahnya. Bukankah ini hanya urusan dengannya, karena hanya dia yang mengancam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Before You Go
Novela JuvenilKatanya, masa SMA itu paling menyenangkan. Namun, nyatanya banyak tekanan yang aku dapatkan. Katanya, remaja itu pikirannya bebas, mereka melakukan apa yang mereka suka. Namun, nyatanya jadi anak baik itu tuntutan mutlak. Mana ada kata bebas, bul...
