Rue Centrale cukup padat. Ada banyak pelancong yang mengunjungi tempat itu. Bahkan Alex harus memastikan Joshua berada di sampingnya setiap saat. Gadis itu tidak suka keramaian dan mencak-mencak di dalam hati mengapa ia harus ke Rue Centrale di hari minggu--dan ia segera teringat kalau hanya hari ini ia mendapatkan jatah libur.
"Joshua?" Alex memanggil.
"Ya? Aku masih di sampingmu." Sahut Joshua dibalik keramaian sekitar. Meski ramai, pria itu santai-santai saja. Ia bahkan asyik melihat arsitektur bangunan pertokoan yang ada di Rue Centrale.
"Jangan lengah, ya, aku tidak mau kita terpisah." Kata Alex memperingati. Joshua manggut-manggut. Berhubung ia orang asing di Lausanne, ia mengikuti saja apa yang diintruksikan Alex yang sudah lama tinggal di kota itu.
"Aku sudah pernah ke sini sebenarnya." Ujar Joshua di sampingnya.
Tentu saja, pikir Alex. Apalagi mengingat kemarin mereka baru saja mengunjungi Palais de Rumine yang dekat sekali dengan Rue Centrale. Katredral Lausanne yang pernah didatangi Joshua bahkan lebih dekat lagi. Kawasan Rue Centrale memang menjadi pusat perbelanjaan bagi para turis yang senang melancong, lokasinya dekat dengan berbagai tempat wisata dan berada tepat di tengah Kota Lausanne.
"Ya, nama jalannya Rue Centrale. Aku sebenarnya malas ke sini, tapi toko yang aku tuju ada di daerah ini." Keluh Alex. Joshua tersenyum kecil mendengarnya. "Ternyata Lausanne bisa seramai ini, ya."
"Jangan ditanya! Pokoknya weekend selalu penuh dengan pelancong dari berbagai Negara! Bahkan akhir-akhir ini, turis dari benua Asia sering ke Swiss." Jelas Alex agak berteriak, di sekitar mereka sangat ramai dan ribut.
"Sepertiku, kan?"
Alex menyeringai. Ia melirik Joshua yang menunjuk dirinya sendiri. Jalanan makin padat, saat Alex berbalik tiba-tiba segerombolan turis menyerbu mereka dari arah berlawanan. Refleks Alex menggapai pergelangan Joshua. Ia menarik pria itu agar tetap berada di dekatnya sampai mereka berada di kawasan yang tidak begitu padat.
"Maaf." Kata Alex cepat-cepat melepaskan genggaman tangannya. Ia merasa sangat tidak enak sudah memegang tangan Joshua.
Meski terkejut, Joshua paham apa yang dilakukan Alex adalah sesuatu yang benar. Ia tidak bisa membayangkan terpisah dengan Alex di kawasan itu. Bukan takut tidak bisa pulang, hanya saja kalau terpisah keadaan mereka akan sangat complicated. Keduanya pasti akan saling mencari satu sama lain.
"It's alright." Kata Joshua dengan santainya, sedangkan Alex merasa jantungnya berdegup sangat kencang. Ia tidak bisa lupa fakta bahwa Joshua adalah biasnya di Seventeen. Tidak bisa.
"O-oke. Tetap di sekitarku, ya, sebentar lagi kita sampai." Ucap Alex segera berjalan, ia tidak mau Joshua tahu kalau jantungnya berdegup kencang. Tidak ingin tahu kalau ia sebenarnya senang bisa memegang tangan Joshua.
"Tunggu!" Seru Joshua kelabakan karena Alex tiba-tiba berjalan cepat. "Aku pegang tote bag-mu, ya biar kita tidak terpisah." Katanya berinisiatif.
Demi Tuhan yang sudah membuat takdirnya indah. Alex ingin memekik senang. Ia melihat pantulan bayangan mereka sekilas di sebuah kaca toko. Joshua benar-benar memegang bagian samping tote bag-nya seperti seorang anak yang tidak ingin terpisah dari Ibunya. Ya meski perumpamaannya tidak terdengar romantis, setidaknya mereka terlihat lucu.
Alex bersumpah tidak akan menghapus memori ini di otak. Ia bahkan berniat menuliskannya di diary dengan font besar sebagai kenang-kenangan menjadi seorang lucky fans.
~~~
Joshua menatap lengan yang sempat dipegang erat oleh Alex selama beberapa saat. Ia kemudian melirik gadis itu, yang tengah membolak-balikkan sebuah buku dengan tatapan intens. Joshua sebenarnya tahu Alex sempat merasa malu dan tidak enak dengan apa yang dilakukannya. Tapi ia sendiri tidak mempermasalahkannya. Makanya Joshua segera berinisiatif untuk memegang tote bag-nya agar mereka tidak terpisah, agar Alex tidak merasa bersalah lagi.
Entah karena memang ia seorang gentleman, Joshua lebih fokus ke sikap Alex yang jadi makin tertutup karena rasa tidak enaknya. Ia merasa ada dinding besar yang diciptakan Alex untuknya dan Joshua tidak menyukai hal itu.
Memang Alex seorang penggemarnya, tapi mereka juga roomate. Joshua memang sempat pula merasa tidak senang kepada Alex, namun begitu tahu personalitinya, ia menjadi lebih ramah dan mau menerima gadis itu sebagai roomate. Bahkan Joshua bersyukur bisa seapartemen dengan Alex. Kalau tidak ada Alex, ia mungkin akan kesulitan berkeliling Lausanne.
"Buku berbahasa Inggris ada di rak sebelah sana." Kata Alex mengagetkannya, gadis itu menunjuk rak di dekat kasir.
"Oh... thanks." Ucap Joshua tidak bergeming. Ia tetap membuka-buka buku yang ada di sekitarnya, meski berbahasa Perancis, ia tetap penasaran.
"Sebenarnya, kalau kau bisa berbahasa Perancis, ada banyak sekali buku yang menarik." Ujar Alex sembari membaca sebuah buku yang dilirik Joshua memiliki judul L'art de la Gestion de L'hébergement. Melihat judulnya saja membuat lidah Joshua terlipat.
"I know. Apalagi Lausanne dekat dengan Paris. Pasti ada banyak buku-buku Perancis klasik di sini."
"Yeah, you name it Victor Hugo, Alexander Dumas, Emile Zola. Kalau kau suka dengan roman klasik Perancis, rasa puasmu akan terpenuhi di sini. Tapi... ya... harus bisa Bahasa Perancis." Jelas Alex diakhiri kalimat yang agak lirih, ia meringis pada Joshua yang merasa sayang dirinya tidak bisa berbahasa Perancis.
"Apa aku harus belajar Bahasa Perancis?"
Saat Joshua bertanya seperti itu, Alex langsung mengubah perhatiannya 100% kepada Joshua. Meski Bahasa Perancis bukan bahasa ibunya, bahkan ia sendiri masih belibet, tapi mendengar semangat Joshua mau belajar bahasa itu membuatnya senang. "Kau serius mau belajar?"
"B-boleh. Mungkin setelah itu aku bisa jadi Polyglot." Tawa Joshua berkelakar. Tapi Alex tidak tertawa, selain lawakan Joshua tidak lucu, ia lebih fokus kepada ke keinginan Joshua untuk belajar.
"Aku bisa mengajarimu sedikit-sedikit."
"Ei... aku han--"
"Gratis. Selama kau jadi roomate-ku, kau akan mendapatkan pelajaran gratis Berbahasa Perancis."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.