34 - Debitur Sejati

93 27 2
                                        


Ponsel hitam milik Fathur terus-terusan bergetar diatas meja, mengusik ketenangan Zain yang dari tadi diam menyimak pembicaraan seru antara Fathur, Alex, dan Farel yang sedang flashback kehidupan mereka sebelum Fathur memutuskan lost kontak secara tiba-tiba.

Karena mungkin Alex juga terganggu, dia menyenggol Fathur, "hp lo kejet-kejet tuh," ucapnya.

Fathur menoleh, meraih ponselnya. Jari telunjuknya dia letakkan didepan bibir menyuruh agar Farel diam sebentar. Farel yang mengerti akhirnya diam, beralih kepada Kate yang sedari tadi merasa diabaikan.

Mungkin tidak banyak yang dikatakan sang penelpon dari seberang sana, terbukti dari durasi telpon yang sangat singkat. Diakhiri jawaban lembut dari Fathur, cowok itu akhirnya mengantongi ponselnya di saku celana.

Dia beranjak dari duduknya, menepuk bahu Alex yang duduk disebelahnya, "gue cabut duluan," pamitnya.

Alex mendesah, "yah, padahal lagi seru."

Fathur hanya tersenyum, "nanti kita atur waktu buat ketemu lagi," ucapnya.

Kate menatap Fathur serius sebelum cowok itu melangkahkan kakinya, "kakak harus ngomong sama Elin, lusa kita udah balik ke Jakarta, jangan sia-siain waktu."

Fathur menoleh. Menatap Kate dan tersenyum tipis, "iya gue tau, gue bakal bilang kok tenang aja," ucapnya.

"Harus," sahut Zain dingin.

Tatapan Fathur beralih kepada Zain. Menatap sahabatnya yang satu itu dengan senyuman, "jangan khawatir," ucapnya.

"Dah, gue cabut duluan!" Pamitnya. Setelah itu Fathur pergi dari area kantin dengan langkah terburu-buru.

Sepeninggal Fathur dari Kantin, Elin dan Alvan datang dari pintu kantin sebelah kanan. Sayang sekali, gadis itu tidak berkesempatan melihat Fathur. Begitu pula dengan Alvan. Cowok itu terlalu fokus bercanda tidak jelas dengan Elin. Namun tidak untuk Fathur.

Dia menghentikan langkahnya sejenak diambang pintu kantin sebelah kiri, menatap Elin dan Alvan yang berjalan berdampingan. Ada rasa nyeri di ulu hatinya menatap Elin bisa sebahagia itu dengan cowok lain.

Dulu senyum itu yang selalu lo tunjukkin ke gue, yang selalu jadi penyemangat hari gue.

Fathur tersenyum kecil dan menghela napas berat, lalu mulai melangkahkan kakinya lagi.

"Duh si bocah tengil, serasa dunia milik mereka berdua aja," celetuk Alex sebelum cowok itu memasukkan makaroni balado ke dalam mulutnya. Lalu mengunyahnya cepat-cepat.

Farel mengikuti tatapan Alex, lalu tersenyum. "Namanya juga lagi kasmaran," ucapnya.

"Gue yang liat jadi eneg," ucap Alex.

"Eneg apa iri?"

Alex menatap Farel sembari memutar bola matanya malas. Nggak Farel-Kate nggak Alvan-Elin, empat-empatnya kalau uwu-uwuan nggak lihat-lihat tempat. Apa nggak mikirin perasaan kaum jomblo gitu ya. Alex memasukkan sisa makaroni kedalam mulutnya, membuat mulut tersebut penuh. Lalu dia beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan kantin.

Zain masih betah menatap Elin dan Alvan dengan tatapan datar. Padahal dia berharap tadi Elin melihat Fathur, tetapi sayangnya gadis itu tidak melihat Fathur sama sekali. Melihat dirinya duduk disinipun tidak. Memang benar kata Alex, kalau kasmaran itu merasa dunia hanya milik mereka berdua.

Akhirnya Zain juga berdiri dari duduknya, berjalan keluar kantin meninggalkan Farel dan Kate. Percuma dia diam disini kalau keberadaannya dianggap ghaib oleh dua sejoli itu—Farel dan Kate. Lagi pula seperti kata Alex tadi ketika melihat keuwuan Alvan dan Elin, Zain juga eneg melihat keuwuan Farel dan Kate yang lebih parah dari keuwuan Alvan dan Elin.

MiddlemanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang