12 - Hidung dan Upil

111 35 0
                                        


Kate menopang dagunya dengan tangan kiri dan mengetuk-ketukkan pulpennya di meja sembari memperhatikan guru bahasa inggris didepan yang sedang menjelaskan materi 5 dasar tenses. Tidak, dia tidak benar-benar memperhatikan. Kate rasa itu adalah pelajaran yang sudah dia dapatkan di bangku SMP, dan di bangku kelas 11 ini pelajaran itu kembali muncul. Tidak perlu dijelaskan berulang-ulang Kate sudah mampu menguasai semua materi yang berbau bahasa inggris, mengingat dia pernah tinggal di london selama beberapa tahun bersama kakeknya.

Bangku disamping Kate kosong, Elin benar-benar tidak masuk sekolah hari ini. Spam chat yang Kate kirimkan ke Elin sama sekali tidak Elin jawab. Terlebih lagi ketika Kate menelfon sahabatnya itu, operator mengatakan bahwa nomor Elin berada diluar jangkauan. Itu artinya ponsel Elin tidak aktif.

Rasa khawatir langsung menyerang Kate ketika dia ingat kalau kemarin Elin bilang bahwa dirinya belum makan dari pagi karena tidak mood. Dan lagi, waktu jam makan siang di istirahat kedua pun Elin sama sekali tidak memakan makanan berat. Gadis itu hanya makan wafer coklat dan itupun hanya beberapa biji. Tidak mungkin kan, wafer coklat yang tergolong makanan ringan tersebut bisa membuat Elin langsung kenyang?

"Kate!" Seru guru bahasa inggris yang mendapati Kate hanya melamun menatap papan tulis.

Kate terkesiap, dia membenarkan posisi duduknya agar terlihat lebih tegak. "Yes, Miss?"

Miss Vifi menutup spidol yang dipegangnya, lalu menunjuk Kate dengan spidol tersebut. "What are you doing?"

"Nggak ngapa-ngapain," jawab Kate.

Mis Vifi menggeleng, "kamu melamun terus dari tadi Kate, apa karena memikirkan Elin yang tidak masuk, hm?" Tanya guru yang masih terlihat muda tersebut. Mis Vifi memang dekat dengan Kate karena guru muda itu masih kerabatan dengan Kate. Kakek Mis Vifi dan Kakek Kate itu kakak beradik.

"Aku mikirin Elin kenapa dia nggak masuk dan nggak kirim surat juga," jawab Kate jujur. Dia benar-benar khawatir dengan Elin yang notabenya adalah sahabat sejak Tk itu.

Mis Vifi mengangguk memaklumi, sudah paham dengan hubungan kedua muridnya itu. Mereka berdua itu bahkan terlihat seperti saudara dibanding sahabat.

"Guru piket tadi memberi tahu kalau Elin sakit. Jadi, Elin tidak masuk karena sakit Kate. Dia memang tidak mengirim surat tapi orang rumahnya sepertinya menghubungi langsung ke BK memintakan izin untuk Elin istirahat dirumah," ucap Mis Vifi menjelaskan.

Kate mengangguk, benar dugaannya. Elin memang sakit. Dia tersenyum kepada Mis Vifi yang masih menatapnya, dibalas senyuman oleh Mis Vifi.

"Miss tau kamu sudah khatam dengan materi ini, tetapi baiknya kamu memperhatikan Miss kalau Miss sedang menjelaskan materi, jangan melamun mulu, nggak baik," nasihat guru itu yang hanya diangguki oleh Kate. Detik selanjutnya Mis Vifi melanjutkan pembahasan materi.

.
.

Istirahat pertama Kate memilih pergi ke kantin bersama dua teman sekelasnya, Ninda si mulut ceriwis dan Fidela yang terlalu kalem.

Kadang Kate berpikir, bagaimana seorang Ninda yang mulutnya ceriwis dan cabak itu bisa satu bangku bahkan sahabatan sama Fidela yang kalem dan cenderung introvent. Ya begitulah. Kadang, sebuah perbedaan tersebutlah yang mempersatukan mereka.

"Kalau Elin nggak masuk lo emang kayak kehilangan semangat idup ya, Kat," celetuk Ninda disela-sela mengunyah permen karetnya sembari menunggu pesanan mereka datang.

Fidela hanya diam, kebiasaan gadis itu memang diam dimanapun dia berada. Gadis itu hanya fokus dengan ponselnya, hanyut dengan dunianya sendiri, dunia orange.

MiddlemanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang