Epilog

217 33 7
                                        


Alvan menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan kagum, lalu mesem-mesem tidak jelas. Dia sangat berterima kasih kepada kedua orangtuanya yang mempunyai wajah cakep-cakep sehingga dia terlahir dengan tampang guantenge pol.

"Terimakasih YaAllah Kau telah menganugerahi wajah ganteng ini kepada hambamu," Alvan berucap syukur kepada Tuhannya, membuat beberapa cowok yang juga sedang berkaca menatapnya dengan tatapan mual.

"Kenapa? Kalian nggak usah mengelak kalau wajah gue ini memang seganteng-"

"Mamang tukang bakso dekat perempatan jalan," potong Fano cepat.

Kalau Fano boleh jujur memang Alvan itu guantenge pol memakai setelan jas berwarna hitam dengan tatanan rambut gaya pamer dahi. Tapi yang bikin Fano muak pengen huek-huek tuh karena setiap saat setiap waktu dari rumah nyampe tempat tujuan-Alvan tidak henti-hentinya mengaca dan membangga-banggakan ketampanannya. Fano jadi sensi karena kalah ganteng.

"Tangan lo diem!" Alvan melotot begitu Irgi mengulurkan tangan hendak membenahi dasi Alvan yang terpasang tidak benar.

"Kebiasaan kalau make dasi tuh nggak pernah bener," ucap Galang. Cowok itu sibuk membenarkan dasi kupu-kupu yang dia pakai.

Alvan menghempaskan tangan Irgi begitu saja, membuat Irgi menatapnya terluka.

"Gue sengaja pake dasi nggak bener," ucap Alvan. Lalu tersenyum tengil, "biar dibenerin Elin."

"Off ada orang bucin," ucap Galang sembari melenggang kedalam gedung acara. Diikuti Fano dan Irgi yang berjalan beriringan.

Alvan membiarkan mereka masuk dahulu, dia masih betah didepan kaca dekat pintu masuk. Masih mengagumi ketampanannya. Hingga tepukan dibahunya berhasil membuat dia menoleh kaget.

"Set-"

"Mas sudah guanteng banget, sana gih masuk. Mau ngaca sampai acaranya kelar?" Tanya satpam yang berdiri tidak jauh dari kaca.

Alvan terkekeh, "bentar pak saya mau pastiin wajah saya sudah perfect apa belum, ah iya gigi saya ada cabenya apa nggak ya?"

Alvan meringis, melihat deretan gigi-gigi putihnya yang rapih. Bersih, nggak ada kawat apalagi lombok dan kangkung.

Satpam tersebut hanya menggelengkan kepala, "uwis toh mas ngacane, ndang kacane mengko pecah yen kesuen mok pantengi."

Alvan mengernyit, "ngomong apa mas?"

"Kacanya nanti pecah mas kalau ditatap sampeyan terus."

Alvan berdecak kecil sebelum dia mengaca sekali lagi, memastikan rambutnya baik-baik saja karena tadi dimobil kena geplak tangan Fano. Dia lalu menatap mas satpam dengan senyum, "mari mas saya masuk dulu," pamitnya.

"Nggih, silahkan.."

.
.

Elin tersenyum hangat menatap sepasang pengantin yang sedang berbahagia diatas pelaminan. Waktu rasanya berjalan begitu cepat. Elin merasa baru kemarin Reynal mengomelinya karena dia telat makan, mengomelinya karena dia nekat menerobos hujan dan berakhir demam, atau kepanikan Reynal ketika dirinya pertama menstruasi dan dengan bodohnya Reynal membelikan dia beberapa macam popok bayi.

Sekarang pria itu dengan gagah berdiri bersama wanita yang dicintainya, terlihat begitu bahagia. Dulu alasan Reynal tersenyum sebahagia itu karena prestasi-prestasi yang Elin capai dibangku sekolah, atau ketika Reynal dengan jahilnya memberi tahu teman-teman Elin tentang aib Elin yang memalukan. Tetapi untuk hari ini, Reynal tersenyum bahagia karena Dara. Elin ikut bahagia.

MiddlemanTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang